iPaper: Perpecahan Gerakan MAGA Ancam Masa Depan Politik Donald Trump
POROS PERLAWANAN — Surat kabar Inggris iPaper melaporkan bahwa meningkatnya perpecahan internal dalam gerakan MAGA (Make America Great Again) dinilai berpotensi menjadi ancaman serius bagi masa depan politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan stabilitas Pemerintahannya.
Dalam laporan analitis yang dilansir Kayhan pada Rabu 17 Desember, iPaper menyoroti bahwa gerakan MAGA, yang selama ini menjadi basis utama dukungan politik Trump mengalami fragmentasi tajam dalam beberapa bulan terakhir. Media tersebut menilai konflik internal ini bahkan dapat lebih berbahaya dibandingkan tekanan eksternal yang dihadapi Trump.
iPaper mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang memicu perpecahan tersebut. Salah satunya adalah perubahan arah kebijakan ekonomi Pemerintahan Trump yang dinilai menjauh dari basis sosial awalnya. Dukungan terhadap perusahaan teknologi besar, kecerdasan buatan, dan pasar keuangan disebut memicu kekecewaan di kalangan pemilih kelas pekerja dan berpenghasilan rendah yang merasa kepentingannya terpinggirkan.
Faktor lain adalah perbedaan pandangan terkait kebijakan luar negeri. Sejak awal, gerakan MAGA dikenal memiliki kecenderungan isolasionis dan menentang intervensi militer asing. Namun, kebijakan agresif Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan Karibia dinilai bertentangan dengan kecenderungan tersebut, sehingga memicu ketidakpuasan di kalangan pendukung inti.
iPaper juga menyoroti kesenjangan generasi dan media di dalam tubuh MAGA. Generasi pendukung yang lebih muda dan aktif di media sosial disebut semakin tidak memercayai media konservatif arus utama seperti Fox News. Kondisi ini memperdalam jurang antara kelompok populis digital dan kalangan konservatif institusional Partai Republik.
Selain itu, masa depan gerakan MAGA tanpa figur Trump dinilai menjadi sumber ketegangan tersendiri. Gerakan ini disebut sangat berpusat pada individu, sementara belum muncul sosok lain yang memiliki tingkat karisma, daya mobilisasi, dan pengaruh media setara Trump. Situasi tersebut memicu persaingan internal antartokoh Partai Republik dan melemahkan kohesi gerakan.
Dalam laporannya, iPaper menyebut bahwa konflik internal MAGA kini meluas dari ruang digital ke ranah politik formal. Perseteruan antarkelompok pendukung, termasuk yang dipicu teori konspirasi, dilaporkan telah merembes ke lingkaran Kabinet, anggota Kongres Partai Republik, serta tokoh-tokoh media konservatif.
Beberapa contoh keretakan publik turut disoroti. iPaper mencatat bahwa Tucker Carlson, yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu media utama Trump, kini menjadi sasaran kritik dari kalangan pendukung MAGA terkait pandangannya mengenai Qatar dan Israel. Sementara itu, Anggota Kongres Partai Republik, Marjorie Taylor Greene juga dilaporkan menerima julukan merendahkan dari Trump, yang dipandang sebagai indikasi rapuhnya loyalitas internal.
Surat kabar tersebut juga melaporkan adanya spekulasi mengenai kemungkinan perombakan Kabinet. Sejumlah nama, seperti Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Direktur FBI Kash Patel, disebut-sebut tengah menghadapi ketidakpastian posisi akibat dinamika internal yang terus memanas.
iPaper menambahkan bahwa sejumlah pernyataan Trump turut memperburuk situasi. Salah satunya adalah komentarnya dalam sebuah rapat umum kampanye terkait daya beli masyarakat, ketika ia menyatakan bahwa keluarga “tidak perlu membeli banyak mainan untuk anak-anak mereka”. Pernyataan tersebut dinilai memicu reaksi negatif di tengah meningkatnya tekanan ekonomi.
Sementara itu, jajak pendapat terbaru NBC menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump. Survei tersebut mencatat bahwa dukungan terhadap Trump di kalangan Partai Republik melemah, dan identitas MAGA tidak lagi menjadi arus dominan di dalam partai.
Menurut NBC, persentase pendukung MAGA yang menyatakan sangat menyetujui kinerja Trump turun dari 78 persen pada April menjadi sekitar 70 persen saat ini. Secara keseluruhan, 44 persen responden dewasa Amerika Serikat menyatakan sangat menentang Trump, sementara hanya 21 persen yang menyatakan sangat mendukung.
Jajak pendapat yang sama juga menunjukkan tekanan ekonomi yang meluas di masyarakat. Sebanyak 53 persen responden mengaku telah mengubah pola belanja kebutuhan pokok akibat kenaikan harga, termasuk 39 persen dari rumah tangga dengan pendapatan di atas 100.000 Dolar AS per tahun.
