Kebangkitan ISIS di Suriah: Ancaman Lama, Bahaya Baru
POROS PERLAWANAN — Serangkaian operasi lapangan yang diklaim ISIS di tiga wilayah Suriah dalam sepekan terakhir menunjukkan bahwa kelompok tersebut kembali memanfaatkan celah keamanan pasca-perubahan politik di negara itu. Seperti telah diperkirakan sejumlah analis, ISIS tampak berhasil memulihkan sebagian kekuatannya dan bergerak dari wilayah gurun di timur Suriah menuju pusat-pusat populasi di wilayah barat.
Menurut Kantor Berita Tasnim, pada Rabu 17 Desember, ISIS kembali menjadi sorotan setelah melakukan tiga operasi terpisah di Palmyra, Al-Bukmal, dan Idlib. Rangkaian serangan ini mengindikasikan bahwa situasi keamanan di Suriah berpotensi menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.
Operasi pertama terjadi pada Sabtu di kota Palmyra, Suriah tengah. Serangan tersebut menewaskan tiga warga Amerika Serikat, termasuk dua personel Militer AS. Insiden ini menjadi serangan pertama yang menimbulkan korban jiwa di pihak AS sejak jatuhnya Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada Desember tahun lalu. Serangan itu dilaporkan dilakukan oleh seorang anggota ISIS yang beroperasi secara tunggal, menyusup ke dalam struktur AngkatanBersenjata Suriah, sebelum akhirnya tewas dalam operasi balasan pasukan AS.
Operasi kedua berlangsung pada Minggu, berupa penyergapan terhadap pasukan Kementerian Dalam Negeri Pemerintah Sementara Suriah. Dalam insiden tersebut, empat anggota pasukan keamanan yang berafiliasi dengan Tahrir al-Sham dilaporkan tewas dan satu lainnya mengalami luka-luka.
Selain itu, dilaporkan pula bahwa seorang anggota ISIS bersenjata melakukan serangan di ruas jalan Aleppo–Al-Numan, di wilayah perdesaan selatan Provinsi Idlib. ISIS kemudian mengeklaim bertanggung jawab atas penyergapan di Idlib tersebut melalui pernyataan resmi yang disebarkan di saluran propaganda mereka pada Senin.
Sementara itu, pada Selasa, sebuah bom mobil milik pasukan Pemerintah Suriah meledak di dekat sebuah masjid di kota Al-Bukmal. Meski ISIS belum secara resmi mengeklaim serangan ini, luasnya pengaruh kelompok tersebut di Provinsi Deir Ezzor serta rangkaian operasi sebelumnya membuat ISIS diduga kuat sebagai dalang di balik ledakan tersebut.
Serangan-serangan ini terjadi di tengah peringatan berulang dari para pengamat keamanan mengenai kebangkitan kembali ISIS di Suriah. Kelompok tersebut disebut tengah berupaya merekrut anggota baru, termasuk dari kalangan aparat dan kelompok bersenjata di wilayah Dataran Tinggi Golan yang dinilai memiliki kedekatan ideologis.
Tiga bulan sebelumnya, ISIS terakhir kali melakukan operasi besar berupa serangan bom di Gereja Mar Elias di Damaskus yang menewaskan 25 orang dan melukai lebih dari 60 lainnya.
Sebelum jatuhnya Pemerintahan Assad, sebagian besar operasi ISIS menargetkan pasukan SDF di Provinsi Deir Ezzor dan Aleppo. Namun, serangan terbaru di Damaskus, Palmyra, dan Idlib selatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pola dan jangkauan taktis kelompok tersebut.
Dalam konteks ini, muncul kritik terhadap Pemerintah Suriah yang baru. Para pengamat menilai Pemerintah Sementara lebih fokus mencari legitimasi internasional dan dukungan negara-negara Barat, ketimbang mengantisipasi ancaman internal, khususnya pertumbuhan kelompok-kelompok Takfiri.
Sejumlah laporan sebelumnya juga mencatat peningkatan pergerakan ISIS. Al Jazeera, misalnya, melaporkan bahwa sejak awal tahun ini sel-sel ISIS mulai meninggalkan wilayah gurun di Deir Ezzor dan menyebar ke berbagai provinsi, termasuk pinggiran Homs, Aleppo, dan Damaskus.
Perpindahan ISIS dari wilayah timur menuju pusat-pusat populasi dinilai sangat mengkhawatirkan karena berpotensi memperluas basis perekrutan mereka di kawasan perkotaan. Selain itu, ISIS juga disebut berupaya menarik anggota dari kalangan milisi Pemerintah Sementara yang merasa tidak puas terhadap kebijakan Mohammad al-Jolani.
Para kritikus Al-Jolani menilai kedekatannya dengan Amerika Serikat, khususnya dengan Presiden Donald Trump, serta konsolidasi kekuasaan politik di tubuh Tahrir al-Sham, menjadi faktor yang memicu resistensi internal dan membuka peluang eksploitasi oleh ISIS.
Dalam perkembangan terbaru, ISIS bahkan dilaporkan telah menunjuk seorang gubernur baru untuk wilayah Aleppo. Sosok tersebut disebut berasal dari Front Nusra, afiliasi Al-Qaeda di Suriah, sebagaimana latar belakang sejumlah figur kunci dalam Pemerintahan Damaskus saat ini. Langkah ini dipandang sebagai sinyal terbuka untuk menarik kembali kelompok-kelompok Takfiri aktif ke medan Suriah dalam waktu dekat.
