Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Menulis Program di Bawah Reruntuhan: Upaya Mahaberat para Spesialis IT Gaza Agar ‘Tidak Mati dari Dalam’

Menulis Program di Bawah Reruntuhan: Upaya Mahaberat para Spesialis IT Gaza Agar 'Tidak Mati dari Dalam'

POROS PERLAWANAN – Pada hari Jumat 19 Desember, al-Jazeera melaporkan bahwa di Gaza, yang di sana lebih dari 81 persen bangunan telah rusak atau hancur, sekelompok pemuda Palestina berjuang dalam kondisi sulit untuk mempertahankan kehidupan digital dan karier teknologi mereka.

Menurut kutipan Fars dari laporan tersebut, para programmer, teknisi, dan pekerja lepas terpaksa bekerja secara luring, menyimpan data di laptop, menggunakan tenaga surya, dan mengirimkan proyek mereka ke klien internasional hanya pada saat-saat singkat koneksi internet tersedia.

“Kami selalu mencari cara untuk terhubung,” kata Shaimaa Abu Ataa, salah satu programmer. “Hal ini memberi kami tujuan. Jika kami tidak melakukannya, kami hanya akan bertahan hidup, tapi kami akan mati di dalam.”

Sebelum perang Oktober 2023, Gaza memiliki industri teknologi kecil namun berkembang. Bootcamp pemrograman diadakan dan ratusan pekerja lepas bekerja dengan klien internasional. Namun kini banyak pusat dan bangunan tersebut telah hancur.

“Gedung kami, yang menampung 12 programmer, kini telah hancur, tetapi beberapa anggota tim masih bekerja dari tenda dan tempat penampungan darurat,” kata Sharifi Nayim, seorang insinyur dan kepala salah satu pusat teknologi.

Menurut Aid al-Shumali, seorang teknisi komputer dari Gaza, masalah utama adalah listrik. Ia mengatakan, ‘Listrik tidak tersedia setiap hari, dan bahkan ketika tersedia, alirannya tidak stabil dengan pemadaman dan lonjakan tegangan yang sering terjadi. Harga juga melonjak tajam: kini $12 per kilowatt, sedangkan sebelum perang hanya $1,50 untuk 10 kilowatt.’

Ia menambahkan, kekurangan suku cadang telah memaksa teknisi untuk mengambil komponen dari peralatan yang rusak di bangunan yang hancur akibat bom.

Kerusakan Infrastruktur yang Luas

Menurut data UNOSAT, sekitar 198.273 bangunan di Gaza telah rusak dan 123.464 di antaranya hancur total.

Al-Jazeera melaporkan bahwa sektor telekomunikasi dan internet telah mengalami kerusakan parah: hingga awal April 2025, 64 persen menara seluler di Gaza tidak berfungsi; di Rafah, cakupan jaringan turun menjadi 27 persen.

Nilai sektor telekomunikasi turun dari $13 juta pada 2023 menjadi $1,5 juta pada 2024.

Akses internet yang dibatasi telah melumpuhkan sistem perbankan dan layanan darurat di wilayah tersebut.

Laporan menunjukkan, Israel telah membatasi masuknya peralatan perbaikan dan rekonstruksi, sehingga pemulihan penuh menjadi sulit. Tujuan tindakan Israel ini adalah mengendalikan infrastruktur digital dan aliran informasi. Bahkan selama gencatan senjata yang rapuh pada Oktober 2025, peralatan perbaikan vital untuk perbaikan tidak dibawa masuk ke Gaza.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Banyak pekerja lepas dan pekerja teknologi, yang sebelumnya mendapatkan penghasilan sebelum perang, kini telah kehilangan pekerjaan mereka.

Tingkat pengangguran melebihi 79 persen sebelum Oktober 2023, dan kini semakin memburuk akibat gangguan internet dan kelaparan yang disebabkan oleh perang.

Gangguan layanan perbankan dan internet telah membuat keluarga tidak dapat mengakses uang dan layanan darurat.

Layanan kesehatan juga terdampak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan angka kematian akibat ketidakmampuan mengakses layanan darurat.

Berjuang untuk Menyintas dan Melawan

Meskipun menghadapi krisis ini, para pemuda di Gaza berusaha mempertahankan sebagian kecil koneksi dan ekonomi digital mereka melalui kreativitas dan fleksibilitas. Keterampilan digital kini bukan hanya pekerjaan bagi mereka, tetapi alat untuk bertahan hidup dan penyintasan di tengah perang.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *