Media Israel Nilai Kasus Peretasan Ponsel Berpotensi Akhiri Karier Politik Bennett
POROS PERLAWANAN – Media berbahasa Ibrani menilai pengungkapan peretasan ponsel milik mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, berpotensi berdampak serius terhadap masa depan politiknya. Penilaian tersebut muncul setelah kelompok peretas Handala mengeklaim berhasil membobol perangkat komunikasi pribadi Bennett, yang dinilai sebagai kegagalan keamanan di tingkat elite Israel.
Mengutip laporan Kantor Berita Tasnim pada Jumat 19 Desember, media Israel Walla News dalam analisisnya menyebut insiden itu sebagai pukulan besar bagi Israel, baik secara politik maupun simbolik.
Walla menilai, jika materi yang berasal dari ponsel Bennett jatuh ke tangan tokoh-tokoh politik tertentu, termasuk Perdana Menteri Benyamin Netanyahu atau politisi sayap kanan, maka situasi politik dan media Israel berpotensi mengalami gejolak besar.
Namun demikian, media tersebut menyoroti kecenderungan aparat keamanan dan media arus utama Israel yang dinilai berupaya mengecilkan skala insiden. Menurut Walla, respons media tidak menunjukkan intensitas kritik dan perdebatan yang lazim muncul dalam skandal politik besar.
Larangan publikasi atas materi hasil peretasan memang diberlakukan dan dipatuhi. Meski begitu, Walla mencatat kritik dari kalangan sayap kanan yang mempertanyakan sikap media, karena absennya sorotan tajam dan jurnalisme investigatif yang biasanya menyertai kasus sensitif serupa.
Padahal, menurut laporan tersebut, peretasan ponsel seorang mantan Perdana Menteri seharusnya menjadi isu besar. Investigasi disebut telah dibuka terkait dugaan kebocoran percakapan telepon, sejumlah jurnalis dilaporkan terdampak, serta keluarga-keluarga tertentu ikut terkena imbas. Namun, pada tahap awal, kasus ini dinilai tidak mendapat perhatian media yang sebanding.
Walla bahkan menyebut peristiwa tersebut layak memicu “gempa media” berskala besar di Israel.
Dalam konteks itu, media tersebut mempertanyakan apakah Bennett berpotensi mengalami nasib politik serupa dengan Benny Gantz, yang sebelumnya juga terdampak kasus peretasan ponsel.
Mengutip editor media Walla, David Wertheim, laporan tersebut menyatakan bahwa kegagalan media dalam mengawal kasus ini secara ketat dapat menimbulkan konsekuensi politik yang mendalam bagi Bennett. Selain berdampak pada reputasi pribadi, kredibilitas politiknya juga dinilai terancam.
Selama ini Bennett dikenal membangun citra sebagai figur berlatar belakang keamanan, mantan pilot tempur, mantan Menteri Pertahanan, serta politisi dengan pemahaman teknologi tinggi. Namun, menurut Walla, justru latar belakang tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai kemampuannya menjaga keamanan, termasuk keamanan pribadinya.
Media itu menilai bahwa meski kecil kemungkinan pemilih secara eksplisit menjadikan peretasan ponsel sebagai alasan menolak Bennett, kerentanan semacam itu dapat menjadi beban politik, terutama jika muncul dugaan adanya informasi yang dapat digunakan untuk tekanan atau pemerasan.
Walla juga menekankan bahwa meskipun media arus utama dinilai kurang agresif, para pesaing politik Bennett tidak akan mengabaikan isu tersebut. Menjelang tahun Pemilu, setiap kebocoran atau bahkan kecurigaan atas isi komunikasi pribadi dapat dimanfaatkan sebagai alat serangan politik.
Bennett disebut meyakini kasusnya berbeda dengan peretasan ponsel Benny Gantz, yang terjadi ketika Gantz masih relatif baru di panggung politik nasional. Namun, Walla menutup laporannya dengan peringatan bahwa pengungkapan kasus ini kemungkinan baru tahap awal.
Menurut media tersebut, materi terkait kebocoran ponsel Bennett tidak akan menghilang dalam waktu dekat, terutama jika ia kembali aktif di ruang publik. Setiap kemunculan dan wawancara dinilai berpotensi diiringi pertanyaan terkait kasus tersebut, yang pada akhirnya dapat menjadi beban serius bagi langkah politiknya ke depan.
