Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

National Interest: Serangan Militer dan Tekanan Maksimum terhadap Iran Terbukti Gagal

Trik Trump Rehabilitasi Citra Israel: Masukkan Kazakhstan ke Kesepakatan Normalisasi

POROS PERLAWANAN — Publikasi Amerika Serikat National Interest menilai bahwa strategi serangan militer dan kebijakan “Tekanan Maksimum” terhadap Iran tidak menghasilkan kemenangan strategis yang berkelanjutan. Dalam analisis terbarunya, media tersebut menyimpulkan bahwa klaim keberhasilan atas Iran lebih menyerupai fatamorgana ketimbang realitas geopolitik.

Dalam laporan Kayhan pada Selasa 30 Desember, National Interest mengulas dampak serangan Militer Israel serta sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran, dengan menyoroti Strategi Keamanan Nasional (National Security Strategy/NSS) terbaru Presiden Donald Trump. Dokumen tersebut berupaya menegaskan bahwa Timur Tengah bukan lagi “gangguan permanen” dalam kebijakan luar negeri AS, melainkan kawasan yang dapat dikelola melalui kombinasi kebijakan energi domestik, diplomasi regional, dan penggunaan kekuatan Militer secara terbatas.

Iran sendiri hanya disebut tiga kali dalam keseluruhan dokumen NSS. Salah satu rujukan tersebut berkaitan dengan Operasi Midnight Hammer, yakni serangan Militer Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran menjelang akhir Perang 12 Hari antara Israel dan Iran pada musim panas tahun ini. Operasi tersebut disebut berhasil mencapai penghentian total pertama pengayaan uranium di situs nuklir Iran yang diketahui sesuatu yang dinilai tidak tercapai melalui jalur negosiasi, perjanjian internasional, sanksi, maupun sabotase sebelumnya.

Namun, National Interest menilai keberhasilan taktis tersebut tidak menjawab persoalan strategis yang lebih luas. Jika Iran tetap dipandang sebagai “kekuatan destabilisasi utama di Kawasan”, sebagaimana dinyatakan dalam NSS, maka upaya membangun kemitraan, stabilitas, dan investasi di Timur Tengah dinilai sulit terwujud tanpa strategi komprehensif untuk menghadapi Teheran.

Publikasi itu juga menyoroti kebangkitan kembali kebijakan “Tekanan Maksimum” sejak awal 2025, yang bertujuan memangkas ekspor minyak Iran dan membatasi pendapatannya. Namun, harapan bahwa paksaan ekonomi dapat menggantikan strategi jangka panjang dinilai semakin tidak realistis. Dalam tiga bulan terakhir, ekspor minyak Iran tercatat masih berada sedikit di atas dua juta barel per hari, jauh dari target Pemerintah AS yang ingin menekannya hingga 100.000 barel per hari.

Sebagian besar minyak Iran tersebut dijual dengan harga diskon kepada China, yang selama lebih dari satu dekade menjadi importir utama minyak Iran sekaligus salah satu penentang terbesar rezim sanksi. National Interest mencatat bahwa meskipun Pemerintah AS aktif menargetkan kapal tanker dan perusahaan pelayaran terkait Iran, Washington dinilai enggan menempatkan isu Iran dalam kerangka tantangan strategis yang lebih luas terhadap China, meski persaingan kekuatan besar menjadi fokus utama kebijakan AS.

Analisis tersebut juga menyoroti hubungan Teheran dan Beijing. Kendati China tidak secara terbuka membela Iran selama Perang 12 Hari, Beijing disebut mengirimkan bahan kimia sensitif sebelum dan sesudah konflik untuk membantu Iran membangun kembali dan memperluas persenjataan rudal balistiknya. Rudal-rudal tersebut sebelumnya dilaporkan digunakan tidak hanya terhadap Israel, tetapi juga terhadap pangkalan Amerika Serikat di Kawasan pada 2020 dan 2025. Upaya memisahkan hubungan Iran–China, menurut laporan itu, dinilai sebagai kesalahan strategis.

Sementara itu, kinerja Militer Israel terhadap Iran dan jaringan proksinya disebut memberikan dasar bagi optimisme terbatas. Namun, hal tersebut lebih menegaskan efektivitas opsi militer sebagai alat taktis, bukan sebagai solusi menyeluruh. National Interest mencontohkan Hamas, yang meskipun dianggap sebagai proksi Iran paling lemah, tetap mampu bertahan dan melanjutkan operasi meski telah menghadapi perang berkepanjangan di Gaza.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun serangan Israel telah melemahkan sebagian proksi Iran, Teheran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah atau membiarkan jaringannya runtuh. Kurang dari satu bulan setelah Perang 12 Hari berakhir, Iran dilaporkan kembali mengirimkan komponen rudal dan drone kepada kelompok Houthi di Yaman. Selain itu, meskipun kehilangan jalur pasokan darat melalui Suriah pascaruntuhnya Pemerintahan Assad, Iran disebut tengah mendiversifikasi rute logistiknya untuk mempertahankan dukungan terhadap Hizbullah di Lebanon.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *