Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Middle East Institute: Poros Perlawanan Tengah Membangun Kembali Kekuatan Regional

Tim Koordinator Poros Perlawanan Irak Tanggapi Serangan 'Mencurigakan' terhadap al-Kadhimi

POROS PERLAWANAN — Sebuah lembaga pemikir Amerika Serikat menilai Poros Perlawanan yang berpusat pada Iran, tengah membangun kembali kekuatan dan jejaring pengaruhnya secara terkoordinasi di berbagai kawasan Timur Tengah, dengan memanfaatkan dukungan tidak langsung dari China dan Rusia.

Menurut lembaga tersebut, kebijakan tekanan dan paksaan Barat sejauh ini tidak berhasil membendung pengaruh Iran, yang justru dinilai semakin adaptif dalam memanfaatkan dinamika perubahan tatanan regional.

Dalam laporan analitis yang dikutip media Iran Kayhan pada Selasa 30 Desember, Middle East Institute menyebut Poros Perlawanan telah berevolusi menjadi jaringan terdesentralisasi yang beroperasi melalui kelompok-kelompok milisi semi-independen, namun tetap disatukan oleh doktrin pencegahan dan ketahanan jangka panjang. Para analis Iran menggambarkan fase ini sebagai “kesabaran strategis”, menandakan proses penataan ulang, bukan kemunduran.

Di Lebanon, Hizbullah dilaporkan telah mempersenjatai ulang dan mengisi kembali cadangannya melalui koridor Suriah, baik secara langsung dari Iran maupun dari gudang senjata yang berada di wilayah Suriah. Sementara itu, di Irak, upaya difokuskan pada penguatan posisi sekutu Iran melalui integrasi ke dalam struktur pemerintahan. Kunjungan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran ke Baghdad disebut mempercepat proses formalisasi Pasukan Mobilisasi Populer dalam sistem negara Irak.

Di Yaman, Iran dinilai terus memberikan dukungan kepada kelompok Houthi meskipun menghadapi gangguan logistik. Sejumlah sumber intelijen mencatat pengiriman sekitar 2.000 ton natrium perklorat ke Bandar Abbas sejak pemberlakuan sanksi Dewan Keamanan PBB. Bahan kimia tersebut dikaitkan dengan pasokan dari China yang berpotensi digunakan sebagai propelan rudal oleh sekutu Iran.

Laporan itu menyimpulkan bahwa perkembangan-perkembangan ini menunjukkan adanya restrukturisasi terkoordinasi jaringan Poros Perlawanan untuk secara bertahap memulihkan kesiapan operasional. Investigasi lanjutan juga mengungkap keberadaan jaringan perdagangan minyak Iran yang kompleks, didukung armada kapal bayangan dan celah asuransi lepas pantai, yang menyalurkan minyak melalui perusahaan cangkang di kawasan Teluk Persia, Afrika Timur, Uni Emirat Arab, Hong Kong, dan Malaysia.

Dalam konteks geopolitik global, Rusia dan China disebut memainkan peran penting dalam mendukung proses pemulihan tersebut. Rusia, terutama setelah konflik yang berlangsung selama 12 hari terakhir, semakin bertindak sebagai pelindung diplomatik Iran dengan memanfaatkan hak veto di Dewan Keamanan PBB, forum multilateral, serta pesan-pesan publik untuk meredam tekanan Barat. Moskow juga dilaporkan mengutuk serangan Israel dan menggambarkan tindakan Iran sebagai defensif, sekaligus memoderasi atau memblokir langkah-langkah internasional yang merugikan Poros Perlawanan.

Sejumlah senjata buatan Rusia, termasuk rudal anti-tank Kornet dan Konkurs, dilaporkan terlihat digunakan oleh Hizbullah. Di Laut Merah, laporan mengenai kesediaan Rusia untuk mentransfer rudal anti-kapal canggih kepada Houthi serta berbagi data penargetan terhadap kapal-kapal Barat menunjukkan luasnya spektrum kerja sama tersebut.

Namun, laporan itu juga mencatat bahwa kebutuhan Militer Rusia dalam perang Ukraina dan dampak sanksi internasional membatasi kapasitas Moskow untuk terus memasok persenjataan. Dalam konteks ini, China dinilai menjadi faktor penyeimbang utama dengan memasok bahan baku propelan roket dan komponen elektronik penting bagi produksi rudal balistik, drone, dan sistem pertahanan Iran.

Selain dukungan perangkat keras, Beijing juga disebut memberikan kontribusi berupa keahlian ilmiah serta dukungan intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), yang memperkuat kemampuan Iran dalam membangun kembali sistem ofensif jarak jauh dan mempertahankan jaringan proksinya. Dukungan ini digambarkan sebagai saluran tersembunyi namun signifikan dalam mempercepat rekonstruksi Militer Iran pascakonflik.

Di dalam negeri Iran sendiri, laporan tersebut mencatat adanya pergeseran wacana di kalangan reformis. Jika sebelumnya kedalaman strategis regional dipandang sebagai beban finansial, kini sejumlah platform reformis seperti Khabar Online dan Asr Iran justru menyuarakan kekhawatiran atas kemungkinan pengurangan pendanaan bagi Front Perlawanan, terutama setelah konflik terbaru.

Secara keseluruhan, Middle East Institute menilai bahwa Hizbullah, Pasukan Mobilisasi Populer, dan Houthi kini semakin terkoordinasi, berbagi informasi serta sumber daya. Pada tingkat strategis, peningkatan efektivitas pencegahan dinilai mampu menutup sebagian kekurangan yang muncul akibat konflik sebelumnya.

Laporan itu menyimpulkan bahwa Poros Perlawanan yang berpusat pada Iran, tengah dibangun kembali secara multidimensi, baik militer, politik, maupun diplomatik.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *