Inspektur Vijay: Jauh dari Kehidupan Keledai
POROS PERLAWANAN — Lampu ruang interogasi berkedip lalu menyerah. Inspektur Vijay tidak bereaksi. Kegelapan baginya bukan gangguan, melainkan habitat. Di sudut ruangan duduk Juru Catat, bukan sepenuhnya manusia, lebih menyerupai arsip bergerak, organisme yang bertahan hidup karena sistem belum memutuskan kapan harus mematikannya.
“Ada apa?” tanya Vijay. Pertanyaan itu prosedur. Bukan karena ingin tahu, tetapi karena formulir menuntut suara.
Juru Catat membuka berkas. Suaranya steril, tanpa emosi, sebab emosi memperlambat pembusukan dan pembusukan dianggap inefisien. Pada Senin, 29 Desember, di Teheran dan beberapa wilayah lain di Iran, para pemilik toko emas meninggalkan etalase setengah terbuka. Bukan perlawanan. Kata itu terlalu besar dan terlalu bersih. Ini kelelahan yang kehilangan bahasa. Mata uang berfluktuasi, harga melonjak, dan kerja berhenti menjelaskan dirinya sendiri. Ketika makna mati, tindakan bertahan sebagai kebiasaan yang tidak lagi memerlukan alasan.
Kerumunan datang, sekitar empat puluh hingga lima puluh orang. Mereka meneriakkan slogan yang melanggar norma, bukan untuk menghancurkan norma, tetapi karena norma tidak lagi hadir sebagai rujukan. Orang-orang lain menyusul dari berbagai arah. Kekacauan jarang direncanakan. Kekosongan cukup dibiarkan.
Inspektur Vijay memotong laporan, terlalu cepat, seolah tidak ingin mendengar akhir kalimatnya sendiri.
“Dua hari sebelumnya, sebuah cuitan dari Waleed Gadban, Penasihat Perwakilan Israel di kantor PBB, beredar luas. Ajakan turun ke jalan. Agen bergerak. Rakyat diperlakukan sebagai variabel yang dapat diuji ulang.”
Juru Catat menulis lebih pelan. Ada jeda. Bukan karena ragu, melainkan karena muncul kesadaran yang tidak tercantum dalam pedoman kerja. Kalimat-kalimat ini akan dibaca kembali. Mungkin. Jika tidak, tetap harus ditulis.
Surat kabar Zionis Yedioth Ahronoth mengakui kegagalan serangan Rezim Zionis terhadap Iran. Solidaritas rakyat disebut sebagai penyebab. Kata itu terdengar seperti gangguan statistik. Media itu memprotes Netanyahu karena tidak mengenal rakyat Iran. Kritik tersebut keliru arah. Penguasa tidak dituntut untuk mengenal rakyat. Penguasa hanya dituntut mengenali kegunaannya.
Vijay menutup map. Bunyi penutupannya kecil, nyaris sopan.
“Jadi kekacauan kemarin bukan luapan amarah,” kata Vijay. “Itu sensus. Upaya menghitung berapa banyak manusia yang masih bisa disederhanakan menjadi aset tanpa menimbulkan gangguan lanjutan.”
Keheningan tidak jatuh. Keheningan bekerja. Juru Catat menunggu. Menunggu bukan pilihan, melainkan fungsi. Pada titik tertentu, bahkan menunggu kehilangan makna, tetapi tetap dijalankan.
Vijay kemudian bercerita. Bukan untuk memberi makna. Bukan pula untuk menghibur. Cerita itu hanya sisa kebiasaan lama, ketika bahasa masih dipercaya mampu menampung sesuatu.
“Ada seorang pria pergi mencuri,” ujar Vijay. “Saat kembali, rekan-rekannya bertanya apakah pria itu singa atau rubah. Pria itu marah dan mengatakan bahwa mata mereka seperti keledai. Mereka tidak bertanya bagaimana keadaannya.”
Vijay tertawa singkat. Tawa itu berhenti terlalu cepat, seolah disadari sebagai kesalahan kecil yang tidak tercatat. Dunia memang tidak layak diseriusi, tetapi tetap harus dijalankan.
“Masalahnya bukan singa atau rubah,” lanjut Vijay, kali ini lebih pelan. “Itu ilusi pilihan. Masalahnya adalah kepatuhan yang bekerja tanpa perlu diyakinkan. Jiwa yang tidak mencari kebenaran, tidak pula menolaknya, hanya menunggu instruksi berikutnya.”
Juru Catat menutup berkas. Gerakan itu otomatis. Ada pikiran singkat, nyaris tidak sah. Jika semua ini tidak bermakna, pencatatan ini juga tidak. Kesadaran itu tidak dicatat. Tidak ada kolomnya.
Di luar ruangan, barisan bergerak teratur. Slogan dikunyah, algoritma dipuja, kehancuran disebut stabilitas karena istilah lain tidak lagi tersedia.
Dunia ini tidak sedang runtuh. Dunia ini telah selesai sejak lama. Kini yang tersisa hanyalah administrasi kehampaan, dijalankan dengan rapi oleh mereka yang masih percaya bahwa keteraturan adalah bentuk terakhir dari makna.
