Mantan PM Qatar Dunia Arab Belum Belajar dari Berbagai Bencana Termasuk Gaza
POROS PERLAWANAN — Mantan Perdana Menteri Qatar, Hamad bin Jassim, memperingatkan lemahnya respons kolektif dunia Arab yang terus berulang dari satu krisis ke krisis berikutnya. Ia menilai sejumlah negara dan aktor politik justru mengeksploitasi kelemahan tersebut demi keuntungan politik dan finansial, dengan mengorbankan kepentingan bangsa-bangsa Arab.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun media sosial X, Bin Jassim menyebut tragedi yang menimpa dunia Arab terus memburuk, sementara pelajaran mendasar dari berbagai bencana belum juga dipetik. Pernyataan itu disampaikan menjelang berakhirnya tahun 2025.
“Tragedi bangsa Arab terus meningkat, dan sayangnya dunia Arab belum juga belajar dari pelajaran yang seharusnya,” tulisnya, sebagaimana dikutip kantor berita IRNA pada Selasa (31/12), merujuk laporan Rusiya Al-Yaum.
Ia menegaskan, meskipun puluhan tahun telah berlalu, tantangan utama dunia Arab di bidang politik, keamanan, dan sosial tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dalam bentuk yang semakin kompleks.
Bin Jassim menyebut babak terbaru dari rangkaian krisis tersebut sebagai bencana Gaza dan Palestina. Menurutnya, peristiwa ini menjadi simbol paling nyata dari penderitaan berkepanjangan sekaligus kegagalan kolektif dunia Arab dalam melindungi hak-hak bangsanya.
Ia menilai tantangan-tantangan tersebut sejatinya telah jelas dan disadari semua pihak. Namun hingga kini, negara-negara Arab belum mampu menuntaskan satu pun secara mendasar. Ia menegaskan pandangannya tidak dimaksudkan sebagai tuduhan personal terhadap para pemimpin Arab saat ini, melainkan sebagai refleksi atas realitas yang telah lama diyakini dan dirasakan secara luas.
“Sekarang tahun 2025 hampir berakhir dan tahun baru akan segera dimulai. Namun tragedi bangsa Arab dan tantangan yang dihadapi selama beberapa dekade masih terus meningkat. Babak terbaru dan paling menyakitkan dari tragedi ini adalah Gaza dan Palestina,” tulisnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti kemerosotan kondisi dunia Arab di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, dan kesehatan hingga politik, perang, dan keamanan. Dampak dari situasi tersebut terlihat dari hilangnya hak-hak bangsa Arab secara bertahap, sebagaimana tercermin di Palestina, Yaman, Sudan, dan Irak.
Bin Jassim juga menyinggung situasi Suriah yang menurutnya tengah berada di tengah badai besar. Meski demikian, ia menyatakan harapan agar negara tersebut, di tengah berbagai kesulitan dan rintangan, dapat menemukan jalan menuju arah yang lebih tepat.
Dalam pernyataannya, ia kembali menegaskan adanya lembaga dan negara tertentu yang secara sistematis memanfaatkan kerapuhan dunia Arab untuk mengamankan kepentingan politik dan materiil mereka. Meski tidak menunjuk pihak tertentu, ia menilai tanggung jawab atas kegagalan dan penerimaan terhadap berbagai bentuk penghinaan ini bersifat kolektif.
“Berbeda dengan negara-negara lain dalam menghadapi tantangan besar, dunia Arab belum belajar dari pengalaman, baik di tingkat Liga Arab yang seharusnya mencerminkan kesatuan sikap, maupun di tingkat negara secara individual,” ujarnya.
Ia menggambarkan situasi dunia Arab saat ini sebagai kondisi yang menyedihkan. Hak-hak bangsa diinjak-injak dan wilayah dirampas, sementara sebagian negara Arab justru membatasi geraknya pada upaya membangun hubungan dengan kekuatan luar yang dianggap mampu menjamin keamanan mereka.
Menurut Bin Jassim, banyak negara Arab mengabaikan fakta kekuatan-kekuatan tersebut pada dasarnya hanya mengejar kepentingan sendiri dan dengan mudah mengubah aliansi sesuai kebutuhan. Sejarah, baik kuno maupun kontemporer, telah mengajarkan pelajaran ini berulang kali.
