Tentara Bayaran UEA di Yaman: Kami Tidak Akan Tinggalkan Hadhramaut
POROS PERLAWANAN — Juru bicara kelompok yang dikenal sebagai Dewan Transisi Selatan (SCT) menegaskan kesiapan penuh pasukannya untuk menghadapi segala bentuk serangan di Hadhramaut dan Al-Mahra, seraya menolak tuntutan penarikan dari wilayah tersebut.
Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Rabu (31/12), mengutip Yemen Net, Anwar Al-Tamimi, juru bicara Dewan Transisi Selatan yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab, menyatakan bahwa pasukan di bawah komandonya berada pada tingkat kesiapan tempur tertinggi.
“Setiap serangan terhadap pasukan yang berafiliasi dengan Dewan Transisi akan dibalas dengan respons yang tegas,” kata Al-Tamimi. Ia menambahkan bahwa pasukan mereka tidak akan mundur dari Hadhramaut maupun Al-Mahra. “Tidak seorang pun akan meninggalkan rumahnya, dan posisi kami di wilayah ini akan dipertahankan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi terkait perkembangan di Yaman selatan. Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan bahwa tindakan UEA di Yaman “sangat berbahaya dan berada di luar kerangka koalisi Arab.” Riyadh juga menyampaikan penyesalan atas tekanan UEA terhadap Dewan Transisi Selatan untuk melakukan operasi di Hadhramaut dan Al-Mahra.
Dalam pernyataannya, Saudi menyerukan penarikan pasukan militer UEA dari Yaman dalam waktu 24 jam, penghentian dukungan militer dan finansial kepada aktor-aktor internal, serta menekankan bahwa dialog dan penyelesaian damai merupakan satu-satunya jalan keluar dari krisis di Yaman selatan.
Sementara itu, Rashad Al-Alimi, ketua Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi, menilai langkah UEA sebagai bentuk dukungan terhadap pemberontakan dan hasutan internal. Ia mengumumkan pembatalan perjanjian pertahanan bersama dengan UEA, menetapkan status darurat selama 90 hari, serta menutup pelabuhan dan perlintasan selama 72 jam. Pasukan yang berafiliasi dengan pemerintahannya juga dilaporkan bergerak untuk menguasai sejumlah pangkalan dan pusat militer di Hadhramaut dan Al-Mahra.
Sejak koalisi pimpinan Saudi melancarkan operasi militer di Yaman pada 2015, Arab Saudi dan UEA terlibat persaingan terbuka dalam memperebutkan pengaruh dan kendali atas wilayah-wilayah strategis. Di Yaman selatan, bentrokan antara tentara bayaran dan pasukan yang didukung kedua negara kerap terjadi, menjadikan penguasaan pangkalan militer dan wilayah kaya sumber daya sebagai titik panas konfrontasi yang berulang.
