Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Anatomi Suriah yang Runtuh dan Fatamorgana Kedaulatan

Dampak Berkuasanya al-Jolani: Suriah Jadi Bulan-bulanan Agresi para Tetangganya

POROS PERLAWANAN — Lebih dari setahun setelah runtuhnya Pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024, apa yang disebut sebagai “Suriah Baru” terbukti hanyalah ilusi yang kejam. Di bawah kepemimpinan Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammad al-Jolani, negara ini tidak menemukan stabilitas, melainkan terjerumus ke dalam fragmentasi, kegelapan politik, dan kehilangan kedaulatan.

Bagaimana Ahmed al-Sharaa Gagal Mengamankan Suriah dari Agresi Israel dan Pembusukan Internal

Alih-alih membangun otoritas nasional yang utuh, Pemerintahan Transisi yang berakar pada struktur Haiat Tahrir al-Sham justru menukar kedaulatan dengan kelangsungan hidup yang rapuh. Kekuasaan Pusat melemah, wilayah Suriah diperlakukan sebagai ruang terbuka oleh kekuatan asing, sementara penindasan domestik dan penghinaan eksternal berjalan beriringan.

Agresi Israel dan Runtuhnya Kedaulatan Teritorial

Indikasi paling gamblang dari kegagalan ini terlihat pada ekspansi agresi Militer Israel. Sepanjang 2025, Israel secara sistematis memanfaatkan kekacauan internal Suriah untuk menggambar ulang realitas geopolitik di lapangan. Dengan rata-rata hampir dua serangan udara per hari, lebih dari 600 serangan dilancarkan hingga akhir Desember, menghantam target dari Damaskus hingga pesisir Latakia.

Di luar serangan udara, operasi darat senyap juga berlangsung. Pada pekan-pekan terakhir 2025, patroli Militer Israel menembus jauh ke Provinsi Quneitra, mendirikan pos pemeriksaan, dan menahan warga sipil. Tindakan ini bukan bersifat defensif, melainkan menunjukkan pola perampasan wilayah secara bertahap. Pada Desember, artileri Israel bahkan menargetkan warga sipil tak bersenjata yang sedang mencari jamur di pedesaan dengan tembakan langsung dan bom asap.

Dengan merebut lebih dari 350 kilometer persegi zona penyangga Dataran Tinggi Golan dan bergerak menuju Gunung Hermon, Israel secara efektif mengabaikan Perjanjian Pisah-Batas 1974. Sementara Pemerintahan al-Sharaa hanya melontarkan kecaman retoris, realitas di lapangan menunjukkan terbentuknya zona penyangga permanen Israel di tanah Suriah, difasilitasi oleh negara yang tidak memiliki kemauan maupun legitimasi untuk mempertahankan perbatasannya.

Langit Terbuka dan Proyeksi Kekuasaan Regional

Kerapuhan kedaulatan Suriah juga tecermin di udara. Ruang udara nasional berubah menjadi koridor permisif bagi serangan Israel, tidak hanya terhadap target di Suriah, tetapi juga sebagai sarana proyeksi kekuatan regional. Langit Suriah berfungsi sebagai instrumen agresi dan ekspansionisme, tanpa respons berarti dari Otoritas Pusat.

Kekerasan Sektarian dan Pembusukan Internal

Di dalam negeri, upaya rebranding al-Sharaa gagal menutupi karakter sektarian Rezimnya. Pengeboman Masjid Imam Ali ibn Abi Thalib di Homs pada 26 Desember, yang menewaskan delapan jemaah, menjadi pengingat brutal bahwa komunitas Alawiyah tetap berada dalam posisi rentan. Kelompok Saraya Ansar al-Sunna, yang hingga Februari 2025 masih berafiliasi dengan HTS, mengeklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Kekerasan ini bukan insiden terisolasi. Setahun terakhir ditandai penghilangan paksa dan pembunuhan di luar hukum, termasuk penculikan seorang perempuan hamil di perdesaan Homs serta pembunuhan Hasan Ibraheem di Masyaf oleh pasukan Rezim. Semua ini menegaskan kegagalan negara dalam menjalankan fungsi paling dasar, yakni melindungi warganya.

Protes Pesisir dan Tuntutan Federalisme

Ketidakamanan dan diskriminasi memicu gejolak di wilayah pesisir. Di Latakia dan Tartous, ribuan warga berkumpul di Azhari Square pada Desember, bukan untuk menuntut kembalinya Rezim lama, melainkan untuk menyerukan federalisme politik. Pemerintah Pusat dipandang sebagai monolit ekstremis Salafi yang tidak lagi dipercaya.

Respons Rezim dapat ditebak. Jam malam diberlakukan, pasukan keamanan dikerahkan, dan tembakan dilepaskan ke arah massa, menewaskan sejumlah pengunjuk rasa. Rezim menjawab tuntutan politik dengan kekerasan, memperdalam jurang antara Pusat dan pinggiran.

Faktor Amerika dan Normalisasi Kekacauan

Disintegrasi Suriah dipercepat oleh faktor Amerika Serikat. Pertemuan Presiden Donald Trump dengan al-Sharaa serta pencabutan Caesar Act telah menormalkan figur dengan latar belakang ekstremis. Pada saat yang sama, sinyal “lepas tangan” Washington terhadap penyesuaian perbatasan memberi ruang bagi ekspansionisme Israel di Suriah selatan.

Dengan Turki mengakar di utara, SDF menguasai sebagian besar timur laut, dan monarki Teluk membeli pengaruh melalui kekuatan finansial, Suriah berubah menjadi negara yang diperjualbelikan. Bayang-bayang normalisasi dengan Israel kini menggantung di atasnya, ancaman yang berpotensi merampas sisa martabat dan tanah rakyat Suriah setelah bertahun-tahun agresi yang menewaskan perempuan, anak-anak, dan keluarga sipil.

Kesimpulan

Para pembuat kebijakan Barat berupaya menutupi pembusukan Rezim al-Sharaa, meski kenyataannya kegagalan itu kian berdarah di bawah agresi dan perambahan Israel. Mereka bukan penonton netral, melainkan bagian dari proses kehancuran Suriah, yang secara sinis dipasarkan sebagai keberhasilan tertinggi proyek penggantian rezim ala imperialis.

Sumber: Tehran Times

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *