Kalangan Zionis: Jangan Terlalu Euforia dan Menipu Diri Sendiri Soal ‘Kekacauan’ di Iran
POROS PERLAWANAN — Setelah beberapa hari diliputi euforia atas apa yang mereka sebut sebagai keberhasilan “jaringan proksi” di Iran, kalangan Zionis kini kembali dilanda pesimisme. Penilaian internal mereka menunjukkan bahwa kerusuhan terbaru di Iran gagal berkembang menjadi ancaman serius bagi stabilitas pemerintahan.
Meski mengakui adanya keterlibatan eksternal dalam memicu kerusuhan, para analis Zionis menyimpulkan bahwa rakyat Iran tidak bergabung dengan para perusuh. Tidak terlihat perpecahan di dalam struktur kekuasaan maupun konflik internal yang dapat membuka jalan bagi perubahan Pemerintahan. Dengan demikian, harapan akan runtuhnya Pemerintahan Iran dinilai tidak realistis.
Euforia yang Berumur Pendek di Kalangan Zionis
Menurut laporan Kayhan pada Kamis 1 Januari, Peneliti soal Iran di Jerusalem Institute for Security and Strategy, Alex Greenberg menyatakan bahwa perkembangan dua hingga tiga hari terakhir tidak menunjukkan tanda-tanda kejatuhan Pemerintahan. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Iran tidak berada di ambang keruntuhan.
Greenberg menilai bahwa protes yang terjadi terutama dipicu oleh persoalan ekonomi, khususnya inflasi, bukan penolakan terhadap sistem politik. Menurutnya, Iran memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi dan mengelola protes ekonomi, sehingga gelombang terbaru ini tidak dapat dianggap sebagai faktor penentu runtuhnya Pemerintahan.
Pengakuan Internal: Protes Ekonomi Tak Mengancam Sistem
Penilaian serupa disampaikan oleh jaringan Zionis i24NEWS. Dalam salah satu laporannya, analis i24 secara terbuka mengakui bahwa keterlibatan Israel dalam dinamika internal Iran kerap disembunyikan, bahkan dengan penyangkalan publik. Menurut mereka, risiko utama bukanlah keberhasilan protes, melainkan kemungkinan respons balasan dari Iran terhadap intervensi eksternal.
Analis jaringan tersebut juga menekankan bahwa meskipun protes dilaporkan terjadi di lebih dari sepuluh kota, peluang penggulingan Pemerintah tetap sangat kecil selama tidak ada perpecahan di tubuh Militer atau pembangkangan terhadap Garda Revolusi. Tanpa faktor tersebut, skenario perubahan Pemerintahan dinilai hampir mustahil.
Sebelumnya, koresponden i24, Zvi Yehezkeli secara terbuka menyerukan agar Israel mengatur dan memimpin protes di Iran. Namun, pandangan ini justru menuai kritik dari jurnalis Zionis lainnya yang menilai pendekatan tersebut tidak berpijak pada realitas lapangan.
Realitas Keras: Tanpa Kudeta dan Oposisi Terorganisasi, Pemerintahan Tetap Bertahan
Sejumlah analis menegaskan bahwa Iran memiliki mekanisme keamanan internal yang solid, termasuk ratusan ribu pasukan sukarelawan bersenjata serta Garda Revolusi, tanpa indikasi perpecahan struktural. Selain itu, tidak terdapat oposisi domestik yang koheren dan terorganisasi yang mampu menantang Pemerintahan secara nyata.
Pandangan ini diperkuat oleh Analis militer surat kabar Yedioth Ahronoth, Yossi Yehoshua, yang menyatakan bahwa protes di Iran tidak akan berhasil. Menurutnya, satu-satunya skenario yang dapat menjatuhkan Pemerintahan adalah kudeta militer, sesuatu yang ia nilai tidak mungkin terjadi.
Sementara itu, mantan Kepala Divisi urusan Iran di Intelijen Militer Israel, Danny Citrinovich mengingatkan agar perkembangan di Iran dianalisis secara proporsional dan tidak dibesar-besarkan. Ia menilai sebagian besar narasi tentang gelombang protes digerakkan oleh kelompok oposisi Iran di luar negeri yang pengaruh riilnya terhadap dinamika internal Iran sangat terbatas.
Menurut Citrinovich, pemicu utama kerusuhan terbaru adalah faktor ekonomi, seperti anjloknya nilai mata uang nasional dan kenaikan mendadak harga bahan bakar. Namun, Iran telah melewati krisis yang jauh lebih luas dan kompleks dalam beberapa dekade terakhir. Saat ini, Pemerintah dinilai memilih strategi membiarkan tekanan sosial mereda sambil memantau situasi secara ketat.
Ia menyimpulkan bahwa perubahan signifikan baru dapat dipertimbangkan jika protes berlangsung lama, menyebar ke seluruh negeri, dan melibatkan unsur-unsur Pemerintahan sendiri. Hingga kini, tidak satu pun dari kondisi tersebut terpenuhi. Karena itu, bahkan di kalangan Zionis sendiri, berkembang kesimpulan bahwa tidak setiap protes merupakan tanda Revolusi, dan tidak setiap slogan nostalgia monarki menandakan runtuhnya Pemerintahan Iran.
