Arktik dalam Bidikan Elang: Setelah Venezuela, Akankah Kedaulatan Greenland Menjadi Mangsa Hegemoni AS Berikutnya?
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, dunia baru saja menyaksikan babak baru dari aksi premanisme internasional yang diperagakan oleh Rezim Washington. Agresi militer Amerika Serikat di Amerika Selatan, yang berakhir pada penangkapan ilegal terhadap Presiden Nicholas Maduro selaku pemimpin sah dan pemegang panji perlawanan yang teguh terhadap imperialisme, telah mengirimkan gelombang kejut sampai ke perbatasan Arktik. Kini, aroma agresi yang tercium tajam di Kopenhagen dan Nuuk, membangkitkan ketakutan lama akan ambisi rakus Donald Trump untuk mencaplok Greenland.
Langkah brutal AS di Venezuela bukan sekadar peristiwa lokal, itu adalah manifesto dari doktrin “hukum rimba” yang diusung oleh Pemerintahan Trump. Di Eropa Utara, ketakutan ini bukan tanpa dasar. Para analis geopolitik mulai melihat pola yang jelas bahwa di mana pun ada sumber daya alam dan nilai strategis, di situ “Elang Yankee” akan menancapkan cakarnya, dengan atau tanpa persetujuan hukum internasional.
Provokasi MAGA: Memetakan Penjajahan Baru
Hanya beberapa jam setelah operasi militer di Venezuela, para loyalis gerakan Make America Great Again (MAGA) mulai menabuh genderang perang psikologis. Katie Miller, di antara sosok yang dekat dengan lingkaran dalam kebijakan Trump, mengunggah sebuah citra provokatif di media sosial, sebuah peta Greenland yang dikelilingi bendera Amerika Serikat dengan tulisan “SEGERA”.
Pesan ini tidak hanya menghina Kerajaan Denmark, tetapi juga merupakan pernyataan terbuka tentang niat ekspansi Washington. Bagi Poros Perlawanan dunia, ini adalah wajah asli dari “demokrasi” ala Amerika, sebuah sistem yang merasa berhak membeli atau merebut tanah milik bangsa lain demi ambisi mineral dan keunggulan militer.
Kopenhagen, yang selama ini menjadi sekutu setia dalam Struktur NATO, kini mulai merasakan pahitnya pengkhianatan dari sekutu utamanya. Duta Besar Denmark untuk AS, Jesper Møller Sørensen mencoba meredakan suasana dengan diplomasi santun, mengingatkan bahwa Greenland dan Denmark adalah “mitra keamanan”. Namun, di balik kata-kata tersebut, Denmark sebenarnya sedang dipaksa untuk mengeluarkan biaya perlindungan sebesar $13,7 miliar tahun ini, sebuah “pajak perlindungan” yang harus dibayar demi menjaga integritas teritorial mereka dari sahabat yang berubah menjadi predator.
Gubernur sebagai Penakluk: Misi ‘Aneksasi’ Jeff Landry
Ketegangan semakin meningkat dengan penunjukan Jeff Landry, Gubernur Louisiana yang dikenal sebagai pendukung garis keras Trump, sebagai “utusan khusus untuk Greenland”. Peran ini bukanlah misi biasa, melainkan persiapan administratif untuk sebuah aneksasi. Landry secara eksplisit menyatakan bahwa misinya adalah “menjadikan Greenland bagian dari AS”.
Dukungan antusias Landry terhadap penggulingan Maduro di Venezuela menunjukkan mentalitas yang berbahaya. Ia memuji tindakan-tindakan ilegal tersebut sebagai langkah tegas dalam “perang melawan narkoba”, sebuah retorika klasik yang selalu digunakan AS untuk menutupi niat penggulingan (perubahan) rezim. Jika AS merasa berhak menculik presiden di Amerika Selatan, apa yang menghalangi mereka untuk mengirimkan pasukan ke Pituffik (Pangkalan Udara Thule) dan memaksa kedaulatan baru di Greenland?
Arktik: Medan Laga Front Perlawanan terhadap Hegemoni
Arktik kini bukan lagi wilayah es yang damai, melainkan garis depan kompetisi global. Trump, dengan karakter pragmatis yang dingin, telah menolak untuk menunda penggunaan kekuatan militer untuk menguasai Greenland. “Kita sangat membutuhkan Greenland,” klaimnya. Alasan utamanya jelas yaitu kekayaan mineral langka dan posisi geografis yang krusial untuk mengelilingi pesaing global seperti Rusia dan China.
Namun, Washington tampaknya melupakan satu faktor krusial dari semangat pelestarian bangsa-bangsa. Meskipun 57.000 penduduk Greenland menginginkan kemerdekaan dari Denmark, jajak pendapat menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk menjadi koloni baru Amerika Serikat. Kemerdekaan yang mereka cita-citakan adalah kedaulatan penuh, bukan berpindah dari satu tangan Eropa ke tangan imperium Amerika yang lebih opresif.
Perubahan sikap dramatis muncul dari Dinas Intelijen Pertahanan Denmark, yang kini secara terbuka menyebut Amerika Serikat sebagai “risiko keamanan”. Ini adalah pengakuan langka namun jujur dari jantung Eropa bahwa ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia saat ini bukan berasal dari Timur, melainkan dari kebijakan luar negeri AS yang tidak terduga dan agresif.
Menolak Tunduk pada Ambisi Imperial
Pidato Malam Tahun Baru Raja Frederik X yang menekankan “kekuatan dan kebanggaan” rakyat Greenland adalah sinyal perlawanan budaya dan politik. Begitu pula pernyataan keras Menteri Luar Negeri Lars Lokke Rasmussen yang menyebut manuver AS “sama sekali tidak dapat diterima”.
Dunia sedang menyaksikan keretakan di blok Barat. Ketika AS semakin menunjukkan wajah aslinya sebagai entitas yang tidak menghormati perbatasan internasional, seperti yang mereka lakukan di Venezuela, maka setiap negara yang memegang teguh kemerdekaan harus waspada. Greenland kini berdiri sebagai simbol baru apakah hukum internasional masih berlaku, ataukah kita semua akan dipaksa tunduk pada ambisi satu negara yang haus akan wilayah dan sumber daya.
Satu hal yang pasti, semangat perlawanan terhadap hegemoni tidak akan berhenti di pegunungan Amerika Selatan, ia akan terus menjalar hingga ke es abadi Arktik.
