Haaretz: Pemilu Mendatang Berpotensi Menjadi yang Terakhir bagi Israel
POROS PERLAWANAN — Surat kabar Zionis, Haaretz memperingatkan bahwa pemilihan umum mendatang di Israel berpotensi menjadi Pemilu terakhir yang berlangsung dalam format demokratis. Peringatan tersebut muncul di tengah kritik terhadap kebijakan Kabinet yang dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, yang dinilai semakin mengabaikan opini publik dan melemahkan institusi demokrasi.
Mengutip laporan Al Jazeera pada Senin 5 Januari, penulis Zionis, Iris Leal menyebut Israel saat ini berada di titik kritis. Ia menilai bahwa Pemilu yang akan datang bisa menjadi pemilihan terakhir yang masih mempertahankan kerangka demokrasi formal.
Dalam tulisannya di Haaretz, Leal menyoroti perilaku Kabinet saat ini yang dianggap sengaja mengabaikan suara publik, merusak kepercayaan pemilih, termasuk basis pendukungnya sendiri, demi memastikan kemenangan politik. Ia menilai praktik tersebut sebagai indikasi kemunduran serius dalam kehidupan demokrasi di Wilayah Pendudukan.
Leal juga menyinggung runtuhnya standar demokrasi yang ditandai dengan serangan terhadap lembaga peradilan, politisasi aparat keamanan dan kepolisian, pelemahan institusi budaya, serta meningkatnya wacana ancaman dan hasutan di tengah masyarakat Zionis. Ia secara khusus mengkritik peran Menteri Keamanan Dalam Negeri, Itamar Ben-Gvir, yang disebut telah membuat kepolisian tunduk pada kepentingan politik figur bermasalah.
Menurut laporan tersebut, arah kebijakan Kabinet saat ini mengindikasikan adanya niat untuk menyabotase proses pemilihan dengan menyingkirkan kandidat dan partai oposisi dari ruang kekuasaan. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya mengendalikan hasil politik secara sistematis.
Menegaskan bahwa ancaman yang ada “melampaui sekadar Pemilu”, Leal memperingatkan adanya proyek restrukturisasi sistem pemerintahan yang bertujuan mengosongkan peran lembaga publik, sembari tetap mempertahankan Pemilu formal ala Rezim Otoriter.
Ia menutup tulisannya dengan menyerukan kepada oposisi dan masyarakat Zionis agar meninggalkan optimisme naif dan menyadari skala ancaman nyata yang dihadapi demokrasi di Wilayah Pendudukan saat ini.
