Inspektur Vijay dan Cerita ‘Intelijen’ ala Kompas
POROS PERLAWANAN — Inspektur Vijay membuka tautan berita yang dikirim seorang kolega. Alisnya terangkat, bukan karena terkejut, melainkan karena langsung bisa mengendus pola yang terlalu dia kenal. Judulnya mencolok dan penuh keyakinan: “Intel: Khamenei Ancang-ancang Kabur ke Rusia, Buntut Demo Iran Makin Brutal”. Bagi Vijay, ini bukan judul berita. Ini poster film. Semua unsur sensasi hadir sejak baris pertama, soal verifikasi dibiarkan menjadi urusan belakangan.
Vijay membaca lead-nya perlahan. Nadanya rapi dan tegas. Pembaca diarahkan untuk percaya bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, memiliki rencana darurat untuk melarikan diri jika protes membesar dan aparat keamanan membelot. Rusia ditetapkan sebagai tujuan yang “realistis”. Kata itu berdiri tanpa penopang bukti, namun sengaja dipakai dengan kepastian yang tak menuntut pertanyaan. Vijay mencatat, ketika argumen absen, keyakinan sering diminta menggantikannya.
Persoalan pertama, menurut Vijay, muncul pada sumber. Kompas menukil The Times tanpa menyebut judul asli artikel yang dirujuk. Dalam kerja penyidikan, ini setara dengan menyebut “berdasarkan laporan” tanpa nomor berkas. Judul adalah pintu verifikasi. Menutupnya berarti meminta pembaca melangkah masuk sambil menutup mata.
Cerita kemudian diperkaya dengan detail yang terlalu presisi untuk ukuran klaim intelijen. Disebutkan jumlah rombongan, sekitar 20 orang, termasuk ajudan dan keluarga. Angka yang bulat dan rapi, nyaris administratif. Vijay tersenyum tipis. Detail yang terlalu bersih, dalam pengalamannya, jarang lahir dari kedalaman informasi, lebih sering dari kecerobohan mengarang cerita.
Kompas melangkah lebih jauh dengan mengutip The Independent. Muncullah Plan A dan Plan B, lengkap dengan syarat pemicu dan daftar tokoh, termasuk Mojtaba, putra Khamenei yang kerap disebut sebagai calon pewaris. Pada titik ini, laporan telah bergeser menjadi skenario. Alurnya jelas, aktornya lengkap, dan konflik telah ditentukan. Tinggal menunggu klimaksnya.
Di sinilah perkara inti menurut Inspektur Vijay. Publik diminta mempercayai satu sumber intelijen yang mengetahui seluruh rahasia paling sensitif, mulai jalur pelarian, jumlah rombongan, urutan skenario, hingga peta suksesi kekuasaan. Sumber dengan akses nyaris Ilahiah ini membocorkan semuanya ke media Inggris, dan Kompas mengutipnya hampir tanpa jarak kritis. Dalam bahasa penyidikan, ini disebut menerima kesaksian tunggal tanpa uji silang.
Vijay lalu membuka berkas aslinya. Artikel “Ayatollah Khamenei plans to flee to Moscow if Iran unrest intensifies” di The Times, terbit 4 Januari 2026 pukul 20.57 GMT, ditulis Gabrielle Weiniger. Isinya lebih sederhana daripada kemasannya. Sebuah klaim rencana pelarian ke Moskow jika situasi memburuk, sekitar 20 orang dari lingkaran dekat, aset disebut telah disiapkan, rute dibandingkan dengan pelarian Bashar al-Assad, serta gambaran bahwa Khamenei mengagumi Vladimir Putin. Tidak ada dokumen. Tidak ada bukti. Hanya cerita yang disusun rapi.
Masalahnya, bagi Vijay, bukan pada cerita itu, melainkan pada cara cerita tersebut diperlakukan. Dunia digambarkan seolah bekerja secara linier, seorang intelijen tahu segalanya, media Barat mengetahuinya, dan pembaca diharapkan mengangguk. Pertanyaan tentang motif, konteks, dan ingatan historis dikesampingkan.
Vijay mencatat satu fakta tambahan. Penulis artikel tersebut berbasis di Tel Aviv dan merupakan lulusan Tel Aviv University. Ini bukan dakwaan, melainkan konteks. Dalam kerja penyidikan, konteks menentukan arah pembacaan. Terlebih ketika narasi yang dihasilkan selaras dengan pola lama propaganda geopolitik Barat: pemimpin yang diposisikan sebagai musuh digambarkan panik dan siap melarikan diri, sementara Barat tampil sebagai pemilik akses intelijen serba tahu.
Bagi Inspektur Vijay, keselarasan semacam itu jarang tanpa tujuan. Keselarasan itu adalah pola yang muncul setiap kali tekanan politik, sanksi, atau intervensi membutuhkan landasan psikologis. Dalam situasi seperti ini, kecurigaan, tentu bukan sinisme. Kecurigaan adalah disiplin intelektual paling dasar.
Hal yang paling mengganggu Vijay justru sikap Kompas. Penerimaannya tanpa jarak kritis dipresentasikan sebagai netralitas. Padahal, baik dalam penyidikan maupun jurnalisme, netralitas tanpa skeptisisme bukan kehati-hatian, melainkan kelengahan dan kecerobohan yang dibungkus bahasa sopan.
Inspektur Vijay menutup layar tablet. Baginya, perkara ini tidak pernah benar-benar tentang Iran atau Khamenei. Ini tentang standar nalar media. Ketika sebuah media memilih menjadi distributor cerita sensasional alih-alih penyunting yang skeptis, media tersebut sedang menurunkan perannya sendiri. Skeptisisme bukan sinisme. Skeptisisme adalah fondasi jurnalisme. Tanpanya, media berhenti menjadi penjernih, atau tabyin informasi, dan berubah menjadi pengeras suara dongeng geopolitik yang diberi label “intelijen” agar terdengar sah dan berkilau.
Vijay menulis satu kalimat pendek terakhir di berkasnya, bahwa cerita yang terlalu rapi, berbungkus klaim netralitas ala berita Kompas, jarang mengundang pemeriksaan dan hampir selalu memuat agenda tersembunyi.
