Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Mantan Pejabat Senior Mossad: Tidak Ada Kekuatan Nyata yang Mampu Melucuti Senjata Hizbullah

Hizbullah: Konsesi yang Diberikan Lebanon kepada Israel Takkan Hentikan Agresinya

POROS PERLAWANAN — Seorang mantan pejabat senior Dinas Intelijen Israel, Mossad, mengakui tidak ada kekuatan nyata yang mampu melucuti senjata Hizbullah Lebanon. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Channel 12 Israel, di tengah berlanjutnya ketegangan di perbatasan selatan Lebanon.

Mengutip IRNA pada Rabu 7 Januari, mantan Kepala Departemen Intelijen Mossad, Zohar Palti mengatakan Hizbullah tidak hanya berhasil membangun kembali kemampuan militernya setelah perang terakhir, tetapi juga telah melampaui tingkat kekuatan sebelum konflik. Ia menambahkan bahwa komunitas internasional tidak menunjukkan kesiapan untuk campur tangan dalam upaya melucuti senjata Kelompok Perlawanan tersebut.

Menurut laporan Channel 12, penilaian terbaru di Tel Aviv menunjukkan Hizbullah saat ini memiliki ratusan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau Wilayah tengah Palestina yang Diduduki. Selain itu, Kelompok tersebut diperkirakan memiliki ribuan rudal jarak pendek, lebih dari seribu drone tempur, serta kapasitas produksi dan pengembangan persenjataan yang masih berlangsung. Kekuatan personel Hizbullah juga dilaporkan mencapai sekitar 40.000 pasukan aktif dan 30.000 pasukan cadangan, setara dengan jumlah sebelum perang terakhir.

Dalam konteks tersebut, Palti menyebut keinginan utama Israel adalah mendorong Pemerintah Lebanon melucuti senjata Hizbullah dan menyerahkan pengamanan wilayah selatan kepada Militer Lebanon. Namun, ia mengakui tujuan tersebut tidak realistis untuk diwujudkan dalam kondisi saat ini.

Sumber-sumber Israel juga mengakui bahwa meskipun Israel terus melancarkan serangan berulang di Lebanon selatan, Hizbullah tetap mampu mempertahankan daya cegahnya. Dengan menghindari perang skala penuh, Kelompok tersebut dinilai berhasil mengonsolidasikan posisi militernya sekaligus menjaga dukungan di dalam negeri.

Pernyataan tersebut muncul di tengah berlanjutnya pelanggaran gencatan senjata di perbatasan selatan Lebanon. Channel 12 melaporkan bahwa satu tahun setelah gencatan senjata diberlakukan, Militer Israel masih kerap melakukan operasi dan serangan hingga ke wilayah utara Sungai Litani, yang memicu kekhawatiran eskalasi lebih lanjut.

Sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu di Florida, memberikan kewenangan terbatas bagi Israel untuk beroperasi di Lebanon selatan. Langkah tersebut dinilai mencerminkan dukungan Washington terhadap operasi Israel meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata.

Sementara itu, Presiden Lebanon, Joseph Aoun menyatakan bahwa agresi berkelanjutan Israel bertujuan menggagalkan berbagai upaya domestik, regional, dan internasional untuk meredakan ketegangan, terutama menjelang pertemuan Komite Pemantauan Gencatan Senjata Lebanon, yang dikenal sebagai Komite “Mekanisme”.

Menurut IRNA, pertemuan berikutnya Komite tersebut dijadwalkan berlangsung pada 7 Januari 2026. Pertemuan terakhir digelar pada 4 Desember dengan kehadiran utusan Amerika Serikat, delegasi militer Lebanon, perwakilan Prancis dan Amerika Serikat, delegasi Israel, serta pasukan penjaga perdamaian PBB, UNIFIL, di Ras al-Naqoura, wilayah perbatasan Lebanon dengan Palestina yang Diduduki.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *