Dukungan Rezim Zionis terhadap Aksi Protes Iran Terungkap, Kementerian Luar Negeri Israel Tampil ke Publik
POROS PERLAWANAN — Keterlibatan Israel dalam mendukung protes di Iran kembali mencuat ke permukaan. The Times of Israel melaporkan bahwa meskipun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menahan diri dari pernyataan publik, sebuah akun media sosial yang dioperasikan oleh Kementerian Luar Negeri Israel secara terbuka menyatakan dukungan terhadap demonstrasi di Iran.
Harian Kayhan, dalam laporannya pada Kamis (8/1/26), menyebutkan bahwa sejumlah pejabat kabinet Israel, termasuk Gila Gamliel dan Amichai Chikli, turut mengunggah pernyataan dukungan terhadap aksi protes tersebut melalui media sosial. Akun berbahasa Persia milik Kementerian Luar Negeri Israel juga mengunggah gambar singa dan matahari, simbol bendera Iran sebelum Revolusi Islam 1979, dengan teks Persia yang berbunyi, “Kebangkitan singa dan singa betina Iran untuk melawan kegelapan.”
Gila Gamliel, dalam unggahan berbahasa Inggris, menulis bahwa protes yang dilakukan “perempuan dan laki-laki, pemuda dan mahasiswa, ibu dan ayah” adalah sah dan mencerminkan melemahnya pemerintahan Iran. Ia menyebut situasi tersebut sebagai “saat-saat terakhir” rezim yang berkuasa. Pekan lalu, Gamliel juga mengunggah swafoto mengenakan topi bertuliskan “Kembalikan Iran ke kejayaannya semula” dan menandai Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan, yang dikenal sebagai salah satu pengkritik utama pemerintahan Iran saat ini.
Menteri Israel lainnya, Amichai Chikli, turut mengunggah pesan dukungan. Unggahannya disertai gambar demonstrasi yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) dengan tulisan, “Saya berdiri bersama rakyat Iran.”
Dukungan terbuka ini muncul di tengah sorotan terhadap aktivitas daring yang dikaitkan dengan Israel. Dua bulan sebelumnya, surat kabar Haaretz dan TheMarker, bersama Citizen Lab dari Universitas Toronto, melaporkan adanya penggunaan teknik manipulasi digital, termasuk deepfake, untuk mempromosikan Reza Pahlavi secara daring. Laporan tersebut menyebut bahwa sebagian dukungan online terhadap Pahlavi selama masa perang bersifat tidak autentik dan dijalankan oleh jaringan akun berbahasa Persia yang berbasis di Israel serta didanai oleh entitas yang berafiliasi dengan pemerintahan Netanyahu.
Menurut laporan itu, operasi tersebut melibatkan ribuan akun palsu dan bot, lembaga pemikir, serta institusi yang didanai langsung oleh Israel namun menyamar sebagai akun Iran. Aktivitas ini disebut mencakup infiltrasi digital skala besar, pembuatan identitas palsu, penggunaan teknik deepfake, serta pengoperasian pasukan siber di berbagai platform media sosial, termasuk Instagram, Telegram, dan X.
