Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Iran Bongkar Jaringan Teror dan Agen Mossad di Tengah Gelombang Kerusuhan yang Didukung Asing

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, gelombang kerusuhan yang melanda sejumlah wilayah Iran dalam beberapa hari terakhir kian menyingkap wajah asli dari skenario destabilisasi yang dirancang dan didorong oleh kekuatan asing. Otoritas keamanan dan kehakiman Republik Islam Iran mengumumkan keberhasilan membongkar sejumlah sel teror bersenjata, menangkap agen intelijen asing, termasuk Mossad, serta menggagalkan rencana operasi berdarah yang ditujukan untuk menjerumuskan negara ke dalam kekacauan bersenjata. Di sisi lain, bangsa Iran kembali harus mengorbankan putra-putra terbaiknya, ketika beberapa petugas kepolisian gugur sebagai syahid saat menjalankan tugas menjaga keamanan publik.

Kerusuhan yang terjadi bukanlah fenomena spontan. Aparat keamanan menegaskan bahwa kerumunan perusuh secara sistematis mengeksploitasi keresahan ekonomi masyarakat yang dipicu oleh lonjakan harga dan depresiasi mata uang nasional untuk memprovokasi kekerasan, perusakan fasilitas umum, dan serangan terhadap simbol-simbol negara. Pola yang muncul menunjukkan adanya infiltrasi terorganisasi, dengan komando lapangan dan dukungan logistik dari luar negeri.

Di kota Borujerd, Provinsi Lorestan, Jaksa Penuntut Umum, Goodarz Amraei mengonfirmasi penangkapan sejumlah tokoh kunci yang berperan sebagai pengatur kerusuhan. Mereka dituduh menyerang situs-situs keagamaan serta merusak properti publik. Investigasi peradilan mengungkap bahwa para tersangka bukan warga lokal, melainkan individu dengan rekam jejak kriminal yang panjang, yang sengaja memasuki wilayah tersebut untuk mengobarkan kekacauan.

Pusat Informasi Kepolisian Lorestan juga mengumumkan keberhasilan menetralisasi sebuah tim bersenjata beranggotakan empat orang di Borujerd. Sel ini, menurut laporan intelijen, tengah menyiapkan operasi “false flag” berupa pembunuhan warga sipil yang dirancang agar dapat disalahkan kepada negara, dengan tujuan memicu kemarahan publik dan memperluas instabilitas. Dari lokasi persembunyian mereka, aparat menyita senjata api, amunisi, serta peralatan khusus untuk merakit alat peledak improvisasi (IED).

Di wilayah lain, tepatnya di Qazvin, empat orang ditangkap karena merencanakan serangan kompleks terhadap instalasi militer dan pemerintahan. Penangkapan ini semakin memperkuat kesimpulan bahwa kerusuhan yang terjadi memiliki dimensi keamanan nasional yang serius, jauh melampaui batas protes ekonomi.

Puncak dari pengungkapan tersebut terjadi di Teheran, ketika aparat keamanan mengumumkan penangkapan seorang agen Mossad yang beroperasi secara rahasia di tengah para perusuh. Menurut pejabat keamanan, tersangka mengaku bertindak sebagai penghubung tingkat tinggi, menerima arahan taktis melalui platform media sosial seperti Instagram dan Telegram dari pengendalinya yang berbasis di Jerman. Tugasnya mencakup perekrutan pemuda untuk terlibat dalam kekerasan jalanan serta pendokumentasian kerusuhan guna diproduksi ulang sebagai materi propaganda oleh media asing yang bermusuhan.

Selain perang di jalanan, Iran juga menghadapi serangan di ruang digital. Otoritas mengungkap adanya kampanye perang informasi terkoordinasi yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Di Teheran saja, 40 orang ditangkap karena membuat dan menyebarkan gambar serta video palsu kerusuhan menggunakan AI. Konten deepfake dan rekaman lama dari tahun-tahun sebelumnya disebarluaskan untuk menciptakan ilusi kekacauan nasional yang massif. Aparat menegaskan bahwa para pelaku diidentifikasi melalui operasi teknis dan intelijen, dan konten menyesatkan tersebut telah dihapus bekerja sama dengan lembaga peradilan.

Namun, harga yang dibayar bangsa Iran sangat mahal. Dalam insiden terpisah pada Rabu 7 Januari dan Kamis 8 Januari, sedikitnya empat petugas kepolisian gugur sebagai syahid. Di Malard, barat Teheran, Petugas Shahin Dehghan tewas ditikam saat berusaha memulihkan ketertiban. Di Provinsi Sistan dan Baluchestan, Mahmoud Haghighat dibunuh ketika kelompok bersenjata, yang kemudian diidentifikasi sebagai anggota kelompok teroris Jaish al-Adl menembaki kendaraannya.

Kekerasan juga meletus di Lordegan, wilayah barat daya Iran, ketika perusuh yang sebagian dipersenjatai senapan berburu kelas militer melepaskan tembakan ke arah polisi. Dua petugas gugur dan sekitar 30 lainnya terluka. Jenazah kedua syahid, Sersan Hadi Azaraz dan Sersan Selam Moslem Mahdavi-Nasab, diiringi dalam prosesi pemakaman di makam para syuhada Shahr-e Kord sebelum dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Otoritas menilai rangkaian korban jiwa ini sebagai bukti eskalasi yang disengaja, menandai pergeseran dari protes ekonomi menuju upaya pemberontakan bersenjata. Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa faksi-faksi separatis Kurdi yang berbasis di Irak utara telah meningkatkan perannya, dari dukungan logistik menjadi operasi lapangan langsung di provinsi-provinsi barat Iran seperti Ilam dan Kermanshah.

Di timur laut Iran, situasi tak kalah genting. Di kota Chenaran, Provinsi Khorasan Razavi, lima orang tewas setelah sekelompok penyerang menyerbu sebuah kantor polisi dengan memanjat tembok fasilitas tersebut. Wakil Gubernur Provinsi bidang Keamanan, Amirollah Shamaghdari menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, 23 petugas polisi dan satu pengunjuk rasa terluka akibat kerusuhan di berbagai kota. Mashhad disebut sebagai episentrum gejolak, disusul Chenaran dan Neyshabur, dengan sejumlah penangkapan telah dilakukan.

Shamaghdari menegaskan bahwa fasilitas sensitif dan militer berada di bawah perlindungan ketat negara. Ia menyerukan kepada warga untuk membedakan antara protes damai yang sah dan tindakan kekerasan serta perusakan. Di Mashhad, sebuah bus kota dibakar setelah sopirnya dipaksa turun, rambu-rambu lalu lintas dirusak untuk memblokir jalan, dan bahkan bendera nasional sempat diturunkan meski kemudian kembali dikibarkan dengan partisipasi warga setempat sebagai simbol penolakan terhadap anarki.

Di balik semua ini, dukungan terbuka dari tokoh-tokoh Amerika Serikat dan Israel semakin menyingkap campur tangan asing. Presiden AS, Donald Trump secara berulang menyatakan dukungannya kepada para perusuh, bahkan mengancam tindakan militer jika apa yang ia sebut “pengunjuk rasa damai” dirugikan. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo turut mengeluarkan pernyataan yang mengisyaratkan keterlibatan Mossad dan skenario separatis di Sistan dan Baluchestan.

Ancaman-ancaman tersebut muncul di tengah bayang-bayang agresi AS-Israel sebelumnya, yang oleh pejabat Iran disebut sebagai terorisme negara selama 12 hari, menewaskan lebih dari seribu warga sipil dan menargetkan infrastruktur sipil, militer, serta nuklir Iran.

Pejabat Iran menegaskan kemunafikan Barat yang menuding Pemerintah, sementara pada saat yang sama menjadi arsitek penderitaan ekonomi melalui sanksi sepihak. Data ekonomi menunjukkan bahwa depresiasi Rial dan lonjakan biaya hidup berakar pada rezim sanksi 2011–2012 yang menargetkan bank sentral dan ekspor minyak Iran. Pemerintah mengakui legitimasi tuntutan ekonomi rakyat, namun menegaskan garis tegas antara aspirasi damai dan kekerasan yang direkayasa dari luar.

Sebagai langkah penegakan hukum, Kejaksaan Teheran memperingatkan individu, bisnis, dan influencer agar tidak mendukung seruan kerusuhan. Sejumlah kasus hukum telah dibuka terhadap merek, toko ritel, dan figur daring yang secara langsung maupun tidak langsung memfasilitasi kekacauan. Aparat kehakiman diperintahkan memantau aktivitas media sosial dan menindak para pelanggar.

Di tengah badai tekanan dan konspirasi, pesan dari otoritas Iran jelas bahwa negara akan melindungi keamanan nasionalnya, menghormati hak protes damai rakyatnya, dan pada saat yang sama menggagalkan setiap upaya asing yang berusaha mengubah keluhan ekonomi menjadi alat perang hibrida melawan Republik Islam.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *