Pelarian Al-Zubaidi dan Pecahnya Aliansi Tentara Bayaran di Yaman Selatan
POROS PERLAWANAN — Dilansir Press TV, panggung sandiwara yang dibangun oleh kekuatan hegemonik di Yaman selatan kini berada di ambang keruntuhan total. Kepala Dewan Transisi Selatan (STC), Aidarous al-Zubaidi, yang menjadi pion utama Uni Emirat Arab (UEA), dilaporkan telah melarikan diri ke lokasi yang dirahasiakan. Pelarian pengecut ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara dua arsitek agresi, Arab Saudi dan UEA yang kini saling sikut demi memperebutkan sisa-sisa rampasan perang di tanah Yaman yang diberkati.
Laporan yang muncul dari Riyadh pada Rabu 7 Januari mengonfirmasi bahwa al-Zubaidi gagal menampakkan batang hidungnya dalam penerbangan menuju Arab Saudi untuk negosiasi yang didikte oleh monarki Saudi. Alih-alih tunduk pada perintah tuannya di Riyadh, intelijen menunjukkan bahwa al-Zubaidi sempat memobilisasi persenjataan berat dan kendaraan lapis baja sebelum akhirnya menghilang dalam kegelapan. Meskipun STC mencoba membangun narasi bahwa pemimpin mereka tetap berada di Aden, kenyataan di lapangan menunjukkan kepanikan yang mendalam di barisan separatis.
Perang Saudara di Tengah Koalisi Agresi
Keretakan antara Riyadh dan Abu Dhabi kini bukan lagi sekadar rumor diplomatik, melainkan perang terbuka yang dimanifestasikan melalui serangan udara dan dekret politik. Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, yang bertindak sebagai kepanjangan tangan Saudi, telah mengeluarkan dekret yang menuduh al-Zubaidi melakukan “pengkhianatan tingkat tinggi”. Ia dituduh merusak kedaulatan nasional, sebuah ironi besar mengingat Dewan tersebut sendiri lahir dari rahim intervensi asing.
Sebagai balasan atas pembangkangan STC yang didukung UEA, jet-jet tempur Saudi mulai membombardir kamp-kamp militer di provinsi al-Dhalea dan al-Mahrah. Dilaporkan sedikitnya enam serangan udara menghantam kamp al-Zand di distrik Zubayd, menghancurkan peralatan militer yang dikirim dari Aden. Serangan ini menandai eskalasi baru di mana sesama anggota koalisi agresi kini saling menghancurkan infrastruktur militer mereka sendiri di atas tanah yang mereka jarah.
Persaingan Penjarah: Memperebutkan Sumber Daya Yaman
Perselisihan ini bukan tentang masa depan rakyat Yaman, melainkan tentang siapa yang berhak menguasai pelabuhan strategis dan kekayaan alam Yaman. Riyadh telah memberikan ultimatum 24 jam kepada Abu Dhabi untuk menarik seluruh pasukannya dan menghentikan dukungan finansial kepada faksi-faksi lokal. Persaingan ini mencapai puncaknya di Hadramaut, sebuah wilayah kaya sumber daya yang kini menjadi medan pertempuran antara milisi-milisi yang dibayar oleh asing.
Analis politik melihat bahwa narasi “otonomi lokal” yang digaungkan STC hanyalah topeng untuk menyembunyikan agenda pembagian wilayah Yaman demi kepentingan imperialis. Sementara para tentara bayaran ini saling bertikai memperebutkan pengaruh, kedaulatan Yaman terus diinjak-injak oleh ambisi pribadi para pangeran di Teluk yang didukung oleh kepentingan Barat dan entitas Zionis.
Ansharullah: Satu-satunya Penjaga Kedaulatan
Di tengah kekacauan yang diciptakan oleh pasukan bayaran dan kekuatan luar, gerakan Ansharullah di Sana’a tetap berdiri tegak sebagai satu-satunya kekuatan yang mempertahankan integritas wilayah Yaman. Sementara faksi-faksi yang didukung Saudi dan UEA saling mengkhianati dan melarikan diri, rakyat Yaman semakin menyadari bahwa stabilitas hanya bisa dicapai melalui pengusiran total seluruh kekuatan asing dari Tanah Air mereka.
Pelarian al-Zubaidi adalah bukti nyata bahwa pemimpin yang mengandalkan dukungan asing akan selalu berakhir dengan kehinaan. Sejarah sedang membuktikan bahwa aliansi yang dibangun di atas dasar penindasan dan perampokan akan runtuh dari dalam oleh keserakahan mereka sendiri. Yaman, dari Sana’a hingga Aden, akan tetap menjadi kuburan bagi para agresor dan pengkhianat.
