Ayatullah Khamenei: Trump Boleh Saja Gembira Saksikan Kerusuhan di Iran, Tapi Sebaiknya Dia Urus Kekacauan di Negaranya Sendiri Jika Memang Bisa
POROS PERLAWANAN – Pada Jumat 9 Januari bertepatan dengan peringatan kebangkitan dan kemenangan bersejarah warga Qom pada 9 Januari 1978, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Ali Khamenei bertemu dengan ribuan warga kota tersebut. Dalam pertemuan itu, Ayatullah Khamenei memandang perhitungan keliru dari Rezim korup Pahlevi dan pendukung utamanya, AS, sebagai penyebab kekalahan mereka di hadapan bangsa Iran.
“Hari ini pun, bangsa Iran, yang berkat berkah Republik Islam, jauh lebih kuat daripada saat itu dalam hal perangkat lunak, spiritualitas, dan perangkat kerasnya. Iran akan mengalahkan AS yang sombong dengan perhitungan kelirunya. Pemerintahan Islam yang kuat, yang berdiri dengan darah ratusan ribu syuhada mulia, tidak akan mundur di hadapan individu-individu bodoh dan perusuh yang melakukan perusakan,” kata Ayatullah Khamenei, Tasnim memberitakan.
Pemimpin Revolusi Islam memyoroti beberapa insiden destruktif di Iran dan mengatakan,“Ada orang-orang yang pekerjaannya adalah menyebabkan kerusakan, seperti yang terjadi semalam di Tehran dan beberapa tempat lain, ketika sekelompok perusak datang dan menghancurkan bangunan milik negara mereka sendiri hanya untuk menyenangkan Presiden AS.”
“Dia boleh saja senang. Tetapi jika dia bisa, dia sebaiknya pergi dan mengurus negaranya sendiri, yang sedang dilanda berbagai insiden. Tangannya ternoda dengan darah lebih dari seribu orang Iran dalam Perang 12 Hari. Dia sendiri mengakui, ‘Saya yang memberi perintah untuk menyerang dan memimpin perang ini.’ Lalu orang yang sama ini mengatakan dia adalah pendukung rakyat Iran, dan orang-orang yang tidak berpikir panjang memercayainya, lalu menuruti keinginannya dengan membakar tempat sampah dan melakukan hal-hal semacam itu.”
“Republik Islam tidak menolerir tentara bayaran asing. Bangsa Iran menolak setiap antek asing, siapa pun mereka.”
“Orang itu (Trump), yang berbicara dan menghakimi seluruh dunia dengan kesombongan dan kecongkakannya, harus tahu bahwa biasanya para tiran dan orang-orang sombong di dunia, seperti Namrud, Firaun, Reza Shah, dan Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan ketika mereka berada di puncak kesombongan mereka, dan dia pun akan digulingkan.”
Pada awal pidatonya, Ayatullah Khamenei menggambarkan kebangkitan 9 Januari warga Qom sebagai bab yang tak terpisahkan dari buku tebal sejarah gemilang Iran. Ia mengatakan,”Peristiwa penting dan menentukan itu, telah mengubah kumpulan pengetahuan yang padat dari Kebangkitan Islam, yang telah terakumulasi dalam pikiran dan jiwa rakyat melalui pernyataan-pernyataan Imam Khomeini dan usaha para pemikir sejak awal Kebangkitan Islam—yaitu, sejak 5 Juni 1963—menjadi gerakan sosial. Seperti kilat, gerakan ini menyulut kemarahan dan kebencian bangsa terhadap Rezim diktatpr Pahlevi yang didukung AS, hingga akhirnya runtuh dan hancur melalui serangkaian kebangkitan.”
“Ketika rezim korup dan lemah itu dihancurkan, sebagaimana yang dijanjikan oleh Imam, pemerintahan kerakyatan berkuasa. Alih-alih rezim yang bergantung pada AS, Zionisme, dan preman-preman politik lainnya, pemerintahan yang mandiri pun didirikan di Iran tercinta ini.”
“Sepuluh hari sebelum kebangkitan penduduk mulia dan revolusioner Qom, Presiden AS di Tehran, menyebut Iran era Pahlavi sebagai pulau stabilitas dan memuji rezim boneka tersebut, yang menunjukkan bahwa ia tidak mengenal bangsa Iran.”
Dengan menguraikan berbagai fakta dan realitas sejarah, Ayatullah Khamenei menekankan bahwa kesalahan-kesalahan inilah yang menyebabkan kekalahan AS saat itu, dan akan membawakan kegagalan untuknya pada saat ini.
“Pada hari itu, bangsa Iran tidak memiliki peralatan keras seperti artileri dan tank, tetapi mereka dilengkapi dengan senjata lunak yang menjadi penentu di semua bidang.”
Ia menyebut keyakinan kepada Islam, semangat keagamaan, kebanggaan berbasis iman, rasa tanggung jawab, mengetahui kewajiban, serta cinta terhadap Iran sebagai unsur-unsur “perangkat lunak” bangsa Iran dalam menghadapi rezim boneka Pahlavi.
“Bangsa Iran saat itu menyadari bahwa AS dan para antek serta agen-agen Zionis menguasai negara mereka. Kenyataan-kenyataan inilah yang membuat bangsa Iran marah, geram, dan jijik.”
“Hari ini, bangsa terhormat Iran lebih kuat, lebih bersatu, dan lebih siap dalam hal senjata perangkat lunak dan spiritualnya daripada masa itu. Dari sisi kekuatan perangkat kerasnya, Iran juga tak bisa dibandingkan dengan masa lalu.”
Ia menggambarkan mereka yang tidak menyukai gagasan bangsa Iran menghadapi AS sebagai “orang-orang yang tidak sadar,” dan mengatakan,“Mereka tidak menyadari bahwa AS dan sekutunya telah memulai perang melawan bangsa ini dan terus melanjutkannya, karena Republik Islam, dengan dukungan rakyat, telah merebut kekayaan dan sumber daya yang melimpah Iran dari genggaman mereka. Inilah yang membuat AS begitu kesal dan benci terhadap bangsa Iran.”
Pemimpin Revolusi menggambarkan peristiwa di Amerika Latin sebagai contoh upaya AS untuk menguasai sumber daya negara-negara. Ia mengatakan,“Mereka memblokade suatu negara dan dengan tanpa malu-malu mengatakan bahwa mereka melakukannya demi minyaknya. Sama seperti sebelum Revolusi, minyak dan sumber daya Iran berada di tangan para arogan, Zionis, dan agen-agen mereka.”
“Berkat rahmat Allah, Pemerintahan Islam semakin kuat setiap hari. Rencana mereka untuk menghancurkannya telah gagal sedemikian rupa, sehingga hari ini, bertentangan dengan keinginan mereka, Republik Islam adalah kekuatan yang tangguh, bermartabat, dan dihormati di dunia.”
“Andai pemerintah liberal-demokratis, monarki, dan boneka berkuasa di Iran, mereka tidak akan mampu menahan tekanan-tekanan ini. Namun, Pemerintahan Islam dan rakyat ini berhasil membawa kemajuan besar bagi Iran dalam ilmu pengetahuan, teknologi, politik internasional, dan banyak bidang lainnya.”
Pemimpin Revolusi menyebut klaim tentang isolasi Iran sebagai klaim yang sama sekali tidak berdasar, sambil menambahkan,“Klaim-klaim ini, yang berasal dari sumber-sumber asing dan diulang oleh beberapa pihak di dalam negeri, sebenarnya merupakan penipuan diri sendiri, karena Iran saat ini dianggap di dunia sebagai negara yang mandiri, berani, dan berorientasi ke masa depan.”
Ia menggambarkan para pemuda sebagai sumber berbagai kegiatan dan kemajuan negara, sembari menambahkan,“Tentu saja, pemuda dan masyarakat umum tidak semuanya berada pada tingkat yang sama. Tetapi secara keseluruhan, berlawanan dengan kebohongan musuh, kalangan muda merupakan salah satu keunggulan terpenting Iran.”
Menurut Ayatullah Khamenei, musuh berupaya menggambarkan generasi muda Iran sebagai penyimpang, pro-Barat, menjauh dari agama, hedonis, korup, dan lemah semangat. Ia menanggapi upaya musuh itu dengan berkata,“Gambaran ini seratus persen keliru. Para pemuda Iran adalah pejuang yang gagah berani dalam perang, yang menjadikan dadanya sebagai perisai; cerdas dalam politik dan memahami AS; taat dalam urusan agama; dan memiliki kehadiran yang menonjol di semua bidang, termasuk pawai 22 Bahman (peringatan kemenangan Revolusi Islam), Hari Quds, I’tikaf, perayaan keagamaan, upacara berkabung, dan upacara pengiringan jenazah para syuhada.”
Ia menilai peran sentral pemuda dalam kemajuan penelitian dan ilmu pengetahuan negara—dari peluncuran satelit ke luar angkasa hingga industri nuklir, sel punca, nanoteknologi, dan kedokteran—sebagai manifestasi lebih lanjut kesiapan pemuda Iran untuk mengambil peran pionir di bidang apa pun yang diperlukan.
Menyampaikan pesan kepada pemuda, Ayatullah Khamenei menekankan,“Wahai pemuda! Pertahankan iman, kesadaran politik, kehadiran, dan kesiapan kalian, keseriusan kalian terhadap kemajuan bangsa, serta persatuan kalian, karena bangsa yang bersatu padu dapat mengalahkan setiap musuh. Insya Allah, perasaan kemenangan akan segera membara di hati seluruh bangsa Iran.”
