Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Sebut Perusuh ‘Bagian dari Terorisme Perkotaan’

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Sebut Perusuh ‘Bagian dari Terorisme Perkotaan’

POROS PERLAWANAN — Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang mengubah aksi protes menjadi kekacauan bersenjata merupakan bagian dari jaringan terorisme perkotaan yang diarahkan oleh aktor eksternal.

Kantor Berita Tasnim melaporkan pada Jumat malam 9 Januari bahwa pernyataan tersebut disampaikan Larijani dalam konferensi pers khusus. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Iran saat ini tidak berada dalam kondisi damai maupun gencatan senjata, melainkan menghadapi bentuk konflik yang masih berlangsung.

“Kita berada dalam situasi konflik. Dalam keadaan seperti ini, menciptakan krisis baru adalah tindakan yang tidak rasional. Fakta ini menunjukkan adanya arahan eksternal di balik eskalasi kekacauan,” ujar Larijani.

Menurut Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi tersebut, selama Perang 12 Hari pihak lawan berupaya mendorong masyarakat Iran turun ke jalan setelah memulai operasi militer. Upaya tersebut tidak berhasil, sehingga strategi kemudian bergeser ke upaya memecah solidaritas sosial.

Larijani menilai bahwa sasaran utama musuh saat ini adalah persatuan rakyat Iran—faktor yang disebutnya sebagai kekuatan utama negara tersebut dalam konflik sebelumnya. Kesiapan Angkatan Bersenjata, lanjutnya, terbukti dari respons cepat aparat keamanan dalam meredam kerusuhan beberapa hari terakhir.

Sekaitan kondisi domestik, Larijani mengakui adanya persoalan ekonomi yang nyata. Sebagian aksi awal, menurutnya, memang dilatarbelakangi keluhan tersebut. Namun situasi itu kemudian dimanfaatkan oleh kelompok terorganisasi untuk menciptakan kekerasan bersenjata.

“Protes ekonomi diubah menjadi pertempuran jalanan dengan senjata api dan bom molotov. Pola ini menunjukkan keterlibatan kelompok terorganisasi yang dapat dikategorikan sebagai terorisme perkotaan,” tegasnya.

Larijani juga merujuk pada pernyataan seorang pejabat Israel beberapa bulan lalu yang menyebut bahwa tekanan terhadap Iran tidak harus dilakukan melalui serangan militer langsung, melainkan dengan memicu kekacauan internal. Pernyataan tersebut, menurutnya, kini menemukan relevansinya.

Selain keamanan fisik, sasaran kekacauan juga mencakup simbol-simbol identitas nasional dan keagamaan Iran, seperti bendera nasional, monumen Jenderal Qasim Soleimani, masjid, dan Al-Qur’an. “Jika persoalannya semata ekonomi, perusakan simbol-simbol ini tidak dapat dijelaskan,” kata Larijani.

Meski mengakui adanya kelemahan internal, Larijani menekankan bahwa persoalan tersebut seharusnya diselesaikan melalui mekanisme dalam negeri. Namun ketika keamanan nasional terancam, negara berkewajiban mengambil langkah tegas untuk mencegah meluasnya kekacauan.

Dalam konferensi pers tersebut juga disampaikan bahwa pasukan keamanan telah mengidentifikasi dan menangkap sejumlah tokoh kunci kerusuhan. Aparat menemukan penggunaan senjata api di lapangan, yang dinilai sebagai indikasi kuat bahwa aksi tersebut bukan tindakan spontan.

“Kelompok [pengacau] ini tidak sekadar menyampaikan slogan. Mereka bergerak dengan struktur, persenjataan, dan tujuan yang jelas,” ujar Larijani.

Menurutnya, upaya menciptakan citra negara dalam kondisi darurat keamanan juga bertujuan mengguncang stabilitas ekonomi dan psikologis masyarakat. Larijani menegaskan bahwa tidak ada pihak yang lebih peduli terhadap Iran selain rakyatnya sendiri, seraya menolak anggapan bahwa kekuatan asing memiliki niat tulus melindungi kepentingan bangsa Iran.

Menutup pernyataannya, Larijani menekankan aparat keamanan dan lembaga peradilan akan bertindak tegas terhadap setiap kelompok bersenjata yang mengancam keselamatan rakyat, institusi negara, dan stabilitas nasional.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *