Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Rincian Serangan Teroris Bersenjata di Teheran

Rincian Serangan Teroris Bersenjata di Teheran

POROS PERLAWANAN — Wali Kota Teheran, Alireza Zakani memaparkan rincian terbaru serangan brutal yang dilakukan kelompok teroris bersenjata di Ibu Kota Iran. Insiden tersebut disebut sebagai salah satu kejahatan paling berat yang dihadapi negara itu dalam hampir lima dekade terakhir.

Kantor Berita Tasnim melaporkan pada Sabtu 10 Januari bahwa keterangan itu disampaikan Zakani dalam wawancara langsung dengan jaringan Khabar. Menurut Wali Kota Teheran, eskalasi kekerasan mencerminkan puncak permusuhan Rezim Zionis dan Amerika Serikat, dengan sasaran yang meluas hingga fasilitas kemanusiaan.

Serangan semalam, kata Zakani, tidak menunjukkan belas kasihan terhadap rumah sakit, tenaga medis, maupun upaya penyelamatan yang dilakukan petugas pemadam kebakaran. Dalam insiden tersebut, lebih dari 24 unit mobil pemadam dilaporkan dibakar.

Zakani mengungkapkan bahwa dalam salah satu kasus, petugas pemadam dihalangi ketika hendak mengevakuasi seorang perempuan dan anak yang terjebak di dalam rumah terbakar. Perusakan juga meluas ke sektor perbankan dan transportasi publik.

Menurut data Pemerintah Kota Teheran, sedikitnya 26 bank dan 10 kompleks pemerintahan dibakar. Selain itu, lebih dari 25 masjid serta 47 unit bus menjadi sasaran pembakaran. Serangan juga menyasar tiga markas kepolisian dan 25 markas Basij.

Menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait situasi di Mashhad, Zakani menilai klaim tersebut tidak berdasar dan mencerminkan kurangnya informasi yang akurat mengenai kondisi di Iran.

Wali Kota Teheran juga mengungkapkan bahwa sejumlah perusuh yang ditangkap mengakui telah menerima imbalan finansial dan bersembunyi di balik massa pemuda. Berdasarkan keterangan Kementerian Intelijen, para pelaku diketahui membawa senjata tajam dan senjata api.

Dalam penjelasannya, Zakani mengelompokkan pelaku ke dalam tiga kategori. Kelompok pertama terdiri dari individu yang tertipu dan terseret emosi. Menurutnya, keluarga dan media memiliki tanggung jawab untuk memberikan pencerahan, karena kekerasan dan pembakaran tidak akan menyelesaikan persoalan apa pun.

Kelompok kedua disebut sebagai para preman yang memanfaatkan situasi untuk menjarah. Sementara itu, kelompok ketiga merupakan unsur kontra-revolusioner yang bertujuan menggulingkan kekuasaan. Otoritas Kehakiman, lanjut Zakani, memandang tindakan kelompok terakhir sebagai kejahatan serius terhadap negara.

Wali Kota Teheran menegaskan bahwa ketiga kelompok tersebut tidak dapat disamakan. Meski muncul dalam satu rangkaian peristiwa, motif dan tingkat tanggung jawab masing-masing berbeda secara mendasar.

Keamanan, tegas Zakani, merupakan garis merah yang tidak dapat dipertaruhkan. Gangguan keamanan, menurutnya, tidak hanya mengancam keselamatan publik, tetapi juga memperburuk kondisi ekonomi dan merusak ikatan antara agama dan Tanah Air yang menjadi fondasi kemerdekaan Iran.

Pemerintah Kota Teheran, kata Zakani, telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk segera membersihkan dan memulihkan kawasan yang dirusak agar wajah kota tidak dibiarkan dalam kondisi rusak.

Dalam konteks ekonomi, Zakani menekankan pentingnya partisipasi rakyat. Ketika masyarakat terlibat aktif dan merasa memiliki ruang dalam perekonomian, tindakan perusakan terhadap fasilitas publik tidak akan mendapat tempat.

Zakani juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Ketersediaan bahan kebutuhan pokok di gudang dipastikan mencukupi dan distribusi ke pasar serta toko-toko terus berjalan.

Menutup pernyataannya, Wali Kota Teheran menegaskan bahwa aparat keamanan telah meningkatkan kewaspadaan dan berkomitmen menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Keamanan, tegasnya, tetap menjadi prioritas utama, dan setiap pelanggaran terhadap garis merah tersebut akan berujung pada konsekuensi hukum yang tegas.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *