Iran, Rusia, dan China Telanjangi Kebohongan AS di Forum Pertemuan Darurat DK PBB
POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Kamis 15 Januari yang digelar atas permintaan Amerika Serikat berubah menjadi ajang konfrontasi politik terbuka, ketika Iran, Rusia, dan China secara tegas membongkar manuver Washington yang dinilai sarat kebohongan dan intervensi. Alih-alih menjaga perdamaian internasional, AS justru dituding menjadikan lembaga tertinggi PBB itu sebagai panggung propaganda untuk melegitimasi campur tangannya terhadap kedaulatan Iran.
Wakil Delegasi Tetap Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi melontarkan kritik tajam terhadap Washington. Ia menyebut langkah AS sebagai tindakan memalukan yang merendahkan martabat PBB. Menurut Darzi, tuduhan-tuduhan tak berdasar yang disampaikan delegasi AS merupakan bagian dari strategi lama untuk mendistorsi fakta dan menutupi peran langsung mereka dalam memicu instabilitas di Iran.
Pertemuan tersebut membahas gelombang demonstrasi di Iran yang berakar dari tekanan ekonomi, termasuk inflasi tinggi dan pelemahan mata uang. Namun, Iran menegaskan bahwa protes damai itu kemudian dibajak oleh aktor-aktor asing. Campur tangan terang-terangan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel dituding mengubah aspirasi rakyat menjadi kerusuhan terorganisir yang penuh kekerasan.
Menurut Otoritas Iran, kelompok bersenjata yang disokong asing melakukan sabotase terhadap fasilitas umum, masjid, dan infrastruktur vital. Aksi teror ini menyebabkan gugurnya puluhan warga sipil dan personel keamanan menjadi syuhada. Badan intelijen Republik Islam Iran menegaskan bahwa para perusuh menerima dukungan intelijen, logistik, operasional, dan pendanaan dari Washington serta Mossad Israel.
Di sisi lain, delegasi AS yang dipimpin Duta Besar, Mike Waltz justru mengulang narasi lama dengan mengeklaim dukungan terhadap “rakyat Iran yang berani,” sembari mengancam bahwa “semua opsi ada di atas meja.” Ancaman ini diperkuat oleh Gedung Putih. Juru bicara Karoline Leavitt menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah menyampaikan peringatan keras kepada Iran, menandakan kesiapan AS untuk melangkah lebih jauh jika situasi berkembang.
Darzi menanggapi ancaman tersebut dengan mengingatkan sejarah kelam intervensi AS di Iran, mulai dari kudeta 1953, dukungan terhadap agresi Saddam Hussein, hingga penembakan pesawat sipil Iran Air 655 pada 1988 yang menewaskan 290 orang. Baginya, rakyat Iran tidak pernah lupa wajah asli “dukungan” Amerika. Ia menegaskan bahwa setiap ancaman kekerasan atau intervensi militer dengan dalih melindungi demonstran merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan hukum internasional.
Dukungan terhadap posisi Iran datang dari Rusia dan China. Perwakilan Rusia, Vasily Nebenzya mengecam retorika AS sebagai berbahaya dan tidak bertanggung jawab, menuding kekuatan eksternal berusaha menggulingkan Pemerintahan sah dan menghancurkan kedaulatan Iran. China pun menolak segala bentuk ancaman dan campur tangan, memperingatkan bahwa pendekatan koersif hanya akan menyeret kawasan Asia Barat menuju kekacauan ala “hukum rimba.”
Di tengah ketegangan ini, PBB menyerukan pengekangan maksimal dan penyelidikan independen. Namun bagi POROS PERLAWANAN, satu hal semakin jelas bahwa di balik jargon demokrasi dan hak asasi, Amerika Serikat kembali tampil sebagai aktor utama destabilitas global.
