Kementerian Keamanan Israel: Kasus Stres Pascatrauma di Kalangan Tentara Meningkat 40%
POROS PERLAWANAN — Kementerian Keamanan Israel melaporkan peningkatan signifikan kasus gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD) di kalangan tentara Israel sejak dimulainya perang di Jalur Gaza.
Mengutip laporan Al Mayadeen pada Sabtu 17 Januari, Kementerian tersebut menyebutkan bahwa jumlah tentara yang mengalami gangguan stres pascatrauma meningkat sekitar 40 persen sejak Israel melancarkan operasi militer di Gaza pada Oktober 2023. Bahkan, proyeksi internal memperkirakan angka tersebut berpotensi melonjak hingga 180 persen pada 2028.
Dalam laporannya, Kementerian Keamanan Israel mencatat bahwa sekitar 60 persen dari total 22.300 tentara yang menjalani perawatan akibat cedera perang didiagnosis mengalami gangguan stres pascatrauma. Data ini menunjukkan besarnya dampak psikologis yang ditimbulkan oleh operasi militer yang berkepanjangan.
Dalam konteks terkait, Maccabi, penyedia layanan kesehatan terbesar kedua di Israel mengungkapkan dalam laporan tahunan 2025 bahwa 39 persen tentara yang menerima layanan medis dari lembaganya mengajukan permintaan dukungan psikologis. Sementara itu, 26 persen di antaranya melaporkan kekhawatiran terkait depresi.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sejumlah organisasi di Israel kini menangani ratusan tentara aktif maupun cadangan yang menderita gangguan stres pascatrauma. Bahkan, beberapa mantan tentara dilaporkan menggunakan anjing pendamping yang dilatih secara khusus untuk membantu memberikan dukungan psikologis dan emosional.
