Tegas, Ayatullah Khamenei Tunjuk Presiden AS ‘Dalang Utama Pembunuhan dan Kehancuran’ dalam Kerusuhan Iran
POROS PERLAWANAN — Dilansir Press TV, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dengan tegas menunjuk Presiden Amerika Serikat sebagai “pelaku utama” di balik pembunuhan, kerusakan, dan kekacauan yang terjadi selama kerusuhan baru-baru ini di Iran. Dalam pidato bersejarah yang disampaikan pada Sabtu 16 Januari, bertepatan dengan peringatan Hari Mab’ats yaitu hari turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad s.a.w, Pemimpin Tertinggi menelanjangi peran langsung Washington dalam proyek destabilitas yang menargetkan Republik Islam Iran.
Berbicara di hadapan ribuan rakyat dari berbagai lapisan masyarakat, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa korban jiwa, penghancuran infrastruktur, serta kampanye fitnah terhadap bangsa Iran tidak dapat dilepaskan dari campur tangan terang-terangan Presiden AS, dan menyebut Kepala Negara adidaya itu sebagai penjahat yang memikul tanggung jawab langsung atas darah yang tertumpah dan kerusakan yang ditinggalkan.
Ayatullah Khamenei menguraikan secara rinci tentang apa yang semula diklaim sebagai protes damai pada akhir bulan lalu berubah menjadi gelombang kekerasan terorganisasi. Para teroris-perusuh menyerang kota-kota di seluruh negeri, membunuh anggota pasukan keamanan dan warga sipil, serta merusak fasilitas publik. Menurutnya, perubahan karakter aksi tersebut menunjukkan adanya tangan-tangan asing yang mengarahkan skenario dari balik layar.
Iran, kata Ayatullah Khamenei, telah lama mengidentifikasi keterlibatan Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel dalam berbagai aksi teror dan kerusuhan. Bukti keterlibatan itu bahkan muncul secara terbuka, tanpa rasa malu. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo secara terbuka menulis pesan bernada ejekan dengan menyapa “agen Mossad” yang menurutnya berada di jalanan Iran. Lebih jauh lagi, akun media sosial berbahasa Persia yang dikaitkan dengan Mossad secara terang-terangan menghasut massa untuk turun ke jalan, mengeklaim bahwa agen-agen mereka hadir langsung di lapangan bersama para perusuh.
Ayatullah Khamenei menyoroti perbedaan mencolok antara kerusuhan kali ini dengan hasutan sebelumnya. Jika dulu intervensi biasanya dilakukan oleh politisi kelas dua atau media Barat, kali ini Presiden AS sendiri tampil ke depan, mengeluarkan pernyataan provokatif, menyemangati para perusuh, bahkan berbicara tentang kemungkinan dukungan militer. Fakta ini, tegas Pemimpin Tertinggi, adalah bukti telanjang bahwa kerusuhan tersebut merupakan proyek yang direncanakan dan didorong oleh Amerika.
Berdasarkan pengalaman setengah abad Revolusi Islam, Ayatullah Khamenei menyatakan secara eksplisit bahwa tujuan utama Amerika Serikat adalah “melahap Iran”, menghancurkan kedaulatan politik dan ekonomi negara yang sejak 1979 berhasil membongkar dominasi AS di Kawasan. Upaya ini, katanya, bukan kebijakan sementara satu pemerintahan, melainkan strategi permanen Washington yang tidak pernah mampu menerima keberadaan Iran yang mandiri, maju secara ilmiah, dan berdaulat.
Ayatullah Khamenei juga mengecam keras narasi Amerika yang menyebut para pembakar dan perusak sebagai “rakyat Iran”. Menurutnya, ini adalah fitnah besar terhadap bangsa yang bermartabat. Menghasut kekerasan, membakar properti umum, dan menyebar ketakutan bukanlah ekspresi kehendak rakyat, melainkan kejahatan yang dirancang dan didanai dari luar.
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa banyak aktor di balik kerusuhan telah diidentifikasi sebagai agen yang direkrut, dilatih, dan dibiayai oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka diajari teknik sabotase, penyebaran teror, dan penghancuran ketertiban umum, lalu dipoles sebagai “pemimpin” di mata media Barat. Namun, ia menegaskan, aparat penegak hukum Iran bertindak efektif dan berhasil menahan banyak elemen perusak tersebut.
Menutup pidatonya, Pemimpin Tertinggi menegaskan sikap Iran yang jelas bahwa Republik Islam tidak mencari perang, tetapi juga tidak akan membiarkan penjahat domestik maupun internasional bertindak tanpa hukuman. Pesan ini menjadi peringatan tegas bahwa Iran tetap waspada, berdaulat, dan siap mempertahankan kehormatan bangsanya dari segala bentuk agresi imperialis.
