Loading

Ketik untuk mencari

Amerika Eropa

Lawan Pemerasan AS, Uni Eropa Siapkan Tarif Balasan Raksasa Demi Adang Ambisi Trump Caplok Greenland

Eropa Melawan Pemerasan AS: Uni Eropa Siapkan Tarif Balasan Raksasa Demi Hadang Ambisi Amerika atas Greenland

POROS PERLAWANAN — Dilansir Press TV, retorika imperialis Amerika Serikat kembali memicu perlawanan terbuka, kali ini dari sekutunya sendiri di Eropa. Uni Eropa menyatakan tengah mempersiapkan paket penanggulangan ekonomi besar-besaran terhadap Washington, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif hukuman terhadap negara-negara Eropa demi memaksakan kendali Amerika atas Greenland. Nilai pembalasan yang dipertimbangkan tidak main-main yaitu lebih dari 100 miliar Dolar AS.

Langkah tersebut, jika disetujui, akan menargetkan perusahaan-perusahaan Amerika melalui tarif tinggi atau pembatasan akses ke pasar Uni Eropa yang menjadi blok ekonomi raksasa dengan 27 negara anggota dan populasi lebih dari 450 juta jiwa. Para pemimpin UE menegaskan bahwa paket ini akan berlaku secara otomatis apabila tidak tercapai kesepakatan dengan Washington, setelah Trump secara terbuka mengancam sekutu-sekutunya sendiri.

Diplomat Uni Eropa mengungkapkan bahwa Brussels akan menunggu hingga 1 Februari sebelum mengaktifkan langkah pembalasan, jika AS benar-benar menerapkan tarif yang diancamkan. Namun sinyal politiknya jelas bahwa kesabaran Eropa terhadap tekanan sepihak Amerika semakin menipis.

Ancaman Trump yang menjanjikan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara Eropa kecuali Greenland “diserahkan” ke Amerika Serikat langsung menuai kecaman keras. Negara-negara Eropa, termasuk Denmark yang menaungi Greenland sebagai wilayah otonom, menyatakan mereka berdiri bersatu menghadapi intimidasi ekonomi Washington.

Dalam pernyataan bersama, Inggris, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Norwegia, dan Swedia memperingatkan bahwa ancaman semacam itu merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyeret dunia ke dalam spiral konflik yang berbahaya. Bahasa diplomatik itu menyembunyikan satu kenyataan pahit tentang sekutu lama yang kini diperlakukan layaknya objek pemerasan.

Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen menyatakan bahwa ultimatum Trump mengancam tatanan dunia “seperti yang kita kenal” serta masa depan aliansi militer NATO. Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan mendalam Eropa terhadap Amerika yang semakin agresif, bahkan terhadap mitranya sendiri.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte mengakui telah berbicara dengan Trump mengenai situasi keamanan di Greenland dan Arktik, namun menolak membeberkan isi pembicaraan. Sikap ini memperkuat kesan bahwa isu Greenland telah menjadi titik panas baru dalam politik global yang digerakkan oleh ambisi sepihak Washington.

Krisis ini juga mengancam kesepakatan perdagangan UE-AS yang dicapai pada Juli 2025 lalu, dengan sebagian besar ekspor Eropa dikenai tarif 15 persen. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul secara terbuka meragukan keberlanjutan perjanjian tersebut di tengah ancaman Trump. Sementara itu, Prancis mendorong aktivasi “instrumen anti-pemaksaan” Uni Eropa, mekanisme keras yang belum pernah digunakan sebelumnya untuk melawan tekanan ekonomi asing.

Trump, yang kembali ke Gedung Putih untuk masa jabatan kedua, secara terbuka menghidupkan kembali obsesinya terhadap Greenland. Retorikanya semakin mengeras setelah ia memerintahkan operasi militer terhadap Venezuela awal Januari 2026, sebuah sinyal bahwa penggunaan kekuatan dan intimidasi kembali menjadi instrumen utama kebijakan luar negeri AS.

Washington berdalih bahwa penguasaan Greenland diperlukan demi “keamanan nasional” Amerika, seraya meremehkan kemampuan Denmark dan NATO Eropa untuk mempertahankan wilayah Arktik tersebut dari Rusia atau China. Namun, Denmark dan sekutunya menjawab dengan mengirim personel militer untuk latihan bersama, namun ironisnya juga mengundang AS.

Di lapangan, rakyat Greenland dan Denmark turun ke jalan. Ribuan demonstran mengecam ambisi Amerika, mengenakan topi bertuliskan “Make America Go Away”, sebuah sindiran tajam terhadap slogan Trump. Jawaban Gedung Putih justru ancaman tarif baru yaitu 10 persen mulai 1 Februari, naik menjadi 25 persen pada Juni, hingga “pembelian total Greenland” tercapai.

Bahkan sekutu ideologis Trump seperti Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni menolak langkah tersebut, menyebut sanksi baru sebagai kesalahan besar. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyebut ancaman itu “benar-benar salah”, sementara Menteri Luar Negeri Belanda menyebutnya tanpa tedeng aling-aling sebagai “pemerasan”.

Krisis Greenland kini menelanjangi wajah asli hegemoni Amerika, ketika diplomasi gagal, tarif dan ancaman dijadikan senjata. Namun respons Uni Eropa menandai satu hal penting bahwa bahkan di jantung Barat, perlawanan terhadap dominasi Washington mulai menemukan suaranya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *