Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Angkatan Bersenjata Iran Peringatkan Respons Militer atas Ancaman Trump terhadap Pemimpin Tertinggi

POROS PERLAWANAN — Angkatan Bersenjata Iran menegaskan kesiapan untuk merespons secara tegas setiap tindakan permusuhan yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyusul meningkatnya retorika ancaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap kepemimpinan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Bidang Kebudayaan sekaligus Juru Bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, dalam pertemuan di Teheran pada Selasa 20 Januari, sebagaimana dilaporkan Press TV.

Jenderal Shekarchi menolak pernyataan Trump yang menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran dan menyebutnya sebagai bagian dari perang psikologis. Menurutnya, setiap “tangan agresi” yang diarahkan kepada Pemimpin Tertinggi akan dibalas dengan kekuatan militer yang menentukan.

Ia menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran mampu menetralisasi ancaman sejak tahap awal. Konflik singkat selama 12 hari pada Juni 2025 disebut sebagai contoh kemampuan respons cepat Iran terhadap tekanan militer eksternal.

Ketahanan Internal dan Kegagalan Kerusuhan

Dalam kesempatan yang sama, Jenderal Shekarchi menyoroti kegagalan kerusuhan yang didukung pihak asing untuk mengguncang stabilitas ekonomi Iran. Ketahanan pasar tradisional dan serikat dagang dipuji karena menolak terlibat dalam upaya menciptakan kekacauan.

Menurutnya, salah satu skenario utama tekanan terhadap Iran adalah memicu gangguan ekonomi bersamaan dengan tekanan militer. Upaya tersebut dinilai gagal setelah para pedagang dan serikat pekerja memilih menjaga stabilitas dan tidak terprovokasi.

Korban Sipil dan Sikap Aparat Keamanan

Jenderal Shekarchi juga menyinggung jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan baru-baru ini. Kelompok teroris-perusuh bersenjata disebut menggunakan metode yang bertujuan memaksimalkan korban sipil tanpa membedakan latar belakang. Sebagian besar korban dilaporkan merupakan warga sipil, termasuk anak-anak dan kaum muda.

Pasukan keamanan Iran, termasuk Kepolisian, Basij, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), disebut menunjukkan sikap menahan diri. Dalam sejumlah operasi, personel dikerahkan tanpa senjata api guna mencegah jatuhnya korban sipil, meski menghadapi risiko tinggi di lapangan.

Kerusuhan tersebut terjadi di tengah tekanan ekonomi yang meningkat. Otoritas Iran mengaitkannya dengan sanksi sepihak Amerika Serikat terhadap sektor perbankan dan ekspor minyak.

Eskalasi Retorika AS dan Respons Politik Iran

Trump dalam beberapa pernyataan kembali mengancam akan mengambil tindakan terhadap Iran dengan dalih mendukung kelompok yang disebutnya sebagai “pengunjuk rasa damai” Pekan lalu, Trump secara terbuka menyerukan diakhirinya kepemimpinan Ayatullah Khamenei dalam pernyataan kepada media Barat.

Menanggapi hal itu, Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran menyatakan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi akan dianggap sebagai deklarasi perang. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa langkah semacam itu berpotensi memicu respons luas dari dunia Islam.

Pernyataan militer dan politik terbaru ini menunjukkan meningkatnya kembali ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, dengan eskalasi terbuka pada level retorika dan kesiapsiagaan keamanan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *