Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Situs UnHerd: Sayap Kanan Amerika Muak dengan ‘Kebodohan’, Akankah Partai Republik Berbalik Melawan Trump?

POROS PERLAWANAN — Situs Inggris UnHerd menyoroti dinamika Partai Republik Amerika Serikat di era Presiden Donald Trump, dan menilai koalisi politik di sekeliling Trump kian didominasi kepatuhan buta, perubahan sikap para elite, serta kemerosotan intelektual dalam pengambilan keputusan.

Sorotan itu termuat dalam artikel berjudul “The Right is sick of stupid: Will Republicans turn on Trump?” yang ditulis Samuel Rubinstein dan diterbitkan pada 21 Januari 2026.

Dalam artikel tersebut, UnHerd mempertanyakan apakah sebagian petinggi Partai Republik pada akhirnya akan mengambil jarak dari Trump atau justru tetap berada dalam barisan loyalis.

UnHerd menilai pola yang paling menonjol adalah siklus berulang: tokoh-tokoh senior Partai Republik mengutuk Trump pada momen krisis, tetapi kembali merapat ketika risiko politik menurun atau saat kepentingan elektoral menuntut kesetiaan.

Artikel itu juga memperingatkan bahwa arah kebijakan yang berpusat pada pemenuhan kehendak satu figur, sambil mengabaikan norma serta kredibilitas internasional, dapat berujung pada “bunuh diri politik”—baik melalui kontradiksi internal, termarjinalisasi, maupun penolakan pemilih.

Perbandingan Historis: Koalisi Rapuh dan Kontradiksi Internal

Untuk menekankan watak kontradiktif aliansi politik, UnHerd mengangkat analogi Inggris pada 1783, ketika koalisi Fox–North dibangun dari dua faksi yang sebelumnya bermusuhan. Koalisi itu pada akhirnya runtuh karena beban kontradiksinya sendiri.

Penulis menyebut dinamika serupa tecermin di Partai Republik modern: sejumlah figur yang pernah mengecam Trump dengan keras, kini menempati posisi kunci atau kembali menunjukkan dukungan.

Kritik Lama yang “Dilupakan”

UnHerd mengutip sejumlah pernyataan masa lalu yang menunjukkan betapa kerasnya kritik internal Partai Republik terhadap Trump, lalu membandingkannya dengan loyalitas politik yang belakangan terbentuk.

Salah satu contoh yang disorot adalah pernyataan J.D. Vance pada 2016 yang mengkritik delegitimasi hasil Pemilu dan media. Artikel itu juga menyinggung komentar Ted Cruz, yang pernah memperingatkan risiko ekstrem jika Trump berada di tampuk kekuasaan.

Menurut UnHerd, kutipan-kutipan ini kini tampak ironis karena beberapa tokoh yang dulu lantang mengkritik justru kemudian bergabung dalam struktur kekuasaan yang sama, atau memilih kembali memberi dukungan.

Dari 6 Januari hingga Agenda Kontroversial

UnHerd menilai peristiwa 6 Januari sempat memicu penolakan internal terhadap Trump, tetapi penolakan tersebut cepat meredup. Artikel itu menyoroti perubahan sikap sejumlah tokoh, termasuk figur yang sebelumnya menyebut kerusuhan Capitol sebagai bentuk anarki, namun belakangan mendukung langkah-langkah yang dianggap menguatkan narasi Trump terkait Pemilu 2020.

Artikel itu juga menyinggung wacana agresif seperti gagasan mencaplok Greenland, yang disebut memicu kecaman sejumlah anggota Partai Republik di Kongres. Senator Thom Tillis dikutip menyuarakan kejengkelan terhadap apa yang ia sebut sebagai “kebodohan”, meski kritik terhadap Trump dinilai kerap dialihkan kepada lingkar penasihat.

Anggota DPR, Don Bacon juga dikutip menilai wacana tersebut dapat merusak hubungan Amerika Serikat dengan sekutu, mengingat Greenland terhubung dengan Denmark yang merupakan anggota NATO.

Platform X dan Budaya Sarkasme

Artikel UnHerd turut menyoroti peran platform X milik Elon Musk dalam memperkuat polarisasi serta membentuk gaya komunikasi politik yang mengandalkan sarkasme, slogan ekstrem, dan lelucon viral. Menurut UnHerd, dinamika tersebut mendorong Pemerintahan lebih menonjolkan perang budaya dibandingkan perumusan kebijakan yang stabil dan rasional.

UnHerd menilai kecenderungan itu berpotensi mengikis legitimasi institusi, karena keputusan politik semakin diproduksi sebagai tontonan yang mengejar perhatian.

Mandat Politik Ada, tetapi Batas Publik Nyata

UnHerd mengakui Trump memperoleh mandat politik, terutama dari tuntutan pemilih terkait perbatasan, imigrasi, dan upaya memulihkan dominasi Amerika. Namun, artikel itu menekankan mandat tersebut tidak identik dengan dukungan publik terhadap agenda ekstrem.

Dalam pandangan UnHerd, gagasan provokatif, termasuk wacana Greenland, lebih populer di ruang gema daring ketimbang di hadapan opini publik yang lebih luas.

Akankah Partai Republik Berbalik?

Di bagian akhir, UnHerd menyebut masih terdapat tanda-tanda rasionalitas di tubuh Partai Republik. Namun, artikel itu menilai bisikan ketidakpuasan saja tidak cukup.

Penulis menyerukan agar elite Republik mengingat kembali daftar kritik yang pernah mereka sampaikan terhadap Trump dan mempertimbangkan bahwa kritik tersebut mungkin masih relevan. Jika tidak, koalisi pro-Trump diperkirakan menghadapi nasib seperti koalisi Fox–North: runtuh akibat kontradiksi internal, termarjinalisasi, atau ditolak pemilih.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *