Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sekjen Hizbullah: Hizbullah Tak Netral Jika Iran Diserang, Keputusan Intervensi Akan Ditentukan Nanti

POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassim, menegaskan kelompoknya tidak akan bersikap netral terhadap potensi agresi militer terhadap Iran. Menurut Sheikh Qassim, keputusan apakah Hizbullah akan turun tangan atau tidak akan ditentukan pada waktunya, namun Hizbullah melihat eskalasi tersebut sebagai ancaman langsung.

Mengutip Al-Mayadeen, Senin (26/1/2026), Sheikh Qassim menyatakan Hizbullah tidak dapat tinggal diam terhadap ancaman apa pun yang ditujukan kepada Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, baik ancaman itu datang dari Presiden AS Donald Trump maupun pihak lain.

“Hizbullah tidak bisa diam terhadap ancaman apa pun terhadap Imam Khamenei,” kata Sheikh Qassim, seraya menegaskan pihaknya siap mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk merespons ancaman tersebut.

Pernyataan itu disampaikan dalam pidato pada Senin malam saat acara solidaritas massal untuk Iran, kepemimpinan, dan rakyatnya yang digelar di sejumlah wilayah Lebanon. Aksi tersebut disebut berlangsung sebagai bentuk kecaman terhadap penghinaan kepada Khamenei.

Sheikh Qassim memperingatkan bahwa setiap tindakan yang melukai Khamenei dapat menimbulkan dampak luas, bukan hanya bagi Iran, tetapi juga stabilitas kawasan dan dunia.

“Melukai Imam Khamenei adalah pembunuhan terhadap stabilitas dan situasi di kawasan dan dunia,” ujarnya.

Sekjen Hizbullah itu menyebut ancaman tersebut tidak hanya menyasar individu tertentu, melainkan juga “puluhan juta” pengikut Khamenei, sehingga memiliki konsekuensi langsung terhadap perdamaian regional dan internasional.

Dalam pernyataannya, Sheikh Qassim turut menyinggung risiko konflik yang meluas apabila perang terhadap Iran benar-benar terjadi. Hizbullah, kata dia, tidak akan menjadi pihak yang memfasilitasi skenario tersebut.

“Perang melawan Iran kali ini dapat memicu konflik di kawasan ini… Dengan menyerah, kita kehilangan segalanya, sementara dengan bertahan, harapan tetap terbuka untuk banyak pilihan,” ujar Sheikh Qassim.

Sheikh Qassim menegaskan Hizbullah memiliki kewenangan penuh untuk mengambil langkah apa pun yang dipandang tepat, serta tidak mengambil posisi netral terhadap agresi terhadap Iran.

Sheikh Qassim juga mengungkapkan bahwa selama dua bulan terakhir pertanyaan mengenai kemungkinan intervensi Hizbullah terus muncul, khususnya jika Amerika Serikat dan Israel berperang melawan Iran.

“Jawaban kami adalah bahwa kami menjadi sasaran potensi agresi dan bertekad untuk membela diri. Kami akan memilih pada saat itu bagaimana bertindak, apakah akan campur tangan atau tidak, tetapi kami tidak netral,” katanya.

Dalam konteks lebih luas, Sheikh Qassim menyebut berdirinya Republik Islam Iran pada 1979 sebagai “pukulan terbesar” bagi Amerika Serikat dan Israel. Permusuhan Washington terhadap Teheran disebut berlangsung terus-menerus karena AS, menurutnya, tidak dapat menerima keberadaan negara yang “bebas dan merdeka” serta menjadi panutan bagi umat Muslim dan kelompok tertindas.

Sheikh Qassim menambahkan musuh-musuh Iran mencoba menjatuhkan Teheran dari dalam melalui tekanan ekonomi serta penyusupan aksi demonstrasi yang berujung sabotase dan kekerasan. Namun upaya tersebut, klaimnya, gagal mencapai tujuan.

Sheikh Qassim turut menyinggung perang Irak-Iran yang berlangsung delapan tahun serta konflik-konflik setelahnya sebagai contoh bahwa Iran mampu bertahan dan, di bawah kepemimpinan Khamenei, menggagalkan proyek-proyek yang dituding didorong Amerika Serikat dan Israel.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *