Kepala UNRWA: Gaza Jadi Tempat Paling Mematikan bagi Jurnalis dan Pekerja Kemanusiaan
POROS PERLAWANAN — Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini memperingatkan bahwa Jalur Gaza telah menjadi tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis dan pekerja kemanusiaan, di tengah perang yang terus berlangsung dan pembatasan akses yang ketat.
Mengutip Press TV pada Selasa 27 Januari, Lazzarini menyatakan lebih dari 230 jurnalis telah tewas di wilayah yang terkepung tersebut.
“Bersama para pekerja kemanusiaan, mereka telah membayar harga tertinggi yang sangat mahal. Lebih dari 230 dari mereka telah tewas. Gaza adalah tempat paling mematikan di dunia bagi seorang jurnalis, sama seperti tempat paling mematikan bagi seorang pekerja kemanusiaan,” kata Lazzarini dalam pernyataan yang dikutip Press TV.
Lazzarini menilai serangan dan pembatasan yang berlanjut memperlemah upaya dokumentasi, sekaligus menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan. Menurutnya, larangan masuk bagi jurnalis internasional turut memperbesar risiko disinformasi, mempolarisasi narasi, dan mengganggu pemahaman masyarakat internasional terhadap situasi kemanusiaan di Gaza.
Ia juga menegaskan bahwa serangan atas jurnalis dan pekerja bantuan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Karena itu, UNRWA mendesak adanya akses yang lebih luas bagi media, perlindungan terhadap jurnalis, serta pencabutan pembatasan yang menghalangi organisasi media meliput secara aman.
Sejak perang pecah, jurnalis internasional dilaporkan dilarang memasuki Gaza secara independen. Pembatasan tersebut, kata Lazzarini, seharusnya sudah dicabut.
Sementara itu, kantor media Pemerintah Gaza pada Rabu pekan lalu melaporkan jumlah jurnalis yang tewas sejak dimulainya perang telah meningkat menjadi 260 orang.
Di sisi lain, Asosiasi Pers Asing (Foreign Press Association/FPA) awal bulan ini mengecam otoritas Israel karena mempertahankan larangan akses bagi media asing ke Jalur Gaza. FPA yang mewakili ratusan jurnalis internasional yang bekerja di Wilayah Palestina yang Diduduki menyebut penolakan Israel untuk mengizinkan peliputan independen dari Gaza sebagai tindakan yang “sangat mengecewakan”.
Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh Komite Kebebasan Serikat Jurnalis Palestina (Palestinian Journalists Syndicate/PJS) menyebut serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 706 anggota keluarga jurnalis Palestina sejak perang dimulai. Laporan itu mendokumentasikan serangan berulang terhadap rumah jurnalis, tempat penampungan keluarga pengungsi, serta area yang dikenal luas sebagai lokasi tinggal pekerja media dan kerabatnya.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa larangan akses media, dikombinasikan dengan tingginya angka korban di kalangan jurnalis Palestina, telah menciptakan salah satu lingkungan peliputan paling berbahaya dalam sejarah modern.
