Kekuatan-kekuatan Menengah Dunia Mencari Cara untuk Era Pasca-AS
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah laporan, media Politico menganalisis keruntuhan tatanan global setelah Donald Trump naik ke tampuk kekuasaan di AS.
“Negara-negara yang disebut ‘kekuatan menengah’, mulai dari Kanada dan Uni Eropa hingga India, Turki, dan Jepang, sedang mencari cara untuk beradaptasi dengan dunia yang di situ komitmen AS tidak lagi dapat diandalkan,” tulis Politico, Fars memberitakan.
Menurunnya Kepercayaan terhadap Washington di Bawah Trump
Banyak yang menganggap pidato Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau di KTT Davos sebagai titik balik dalam pemahaman resmi Barat tentang keadaan baru tatanan dunia. Mengacu pada “ketidakcocokan” dalam sistem berbasis aturan lama, ia menyerukan agar negara-negara menengah bersatu untuk menciptakan tatanan dunia baru. Pada saat yang sama, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyerukan agar Eropa membangun kemampuan militer yang mandiri dari AS; kata-kata yang mencerminkan berkurangnya kepercayaan terhadap Washington selama era Trump.
AS Telah Berubah dari Pendukung Tatanan Global Menjadi Kekuatan Oportunis
Para analis meyakini, Pemerintahan kedua Trump tidak hanya gagal melindungi tatanan global pasca Perang Dunia II, tetapi juga secara aktif merusaknya. Ancaman untuk merebut Greenland, tekanan ekonomi terhadap sekutu, pengabaian terhadap lembaga internasional, dan pendekatan transaksional terhadap keamanan kolektif, semuanya dianggap sebagai tanda perubahan peran AS dari “penjaga tatanan global” menjadi “kekuatan oportunis.”
Eropa Dihadapkan pada Dilema Mendasar
Dalam konteks ini, Eropa dihadapkan pada dilema mendasar. Di satu sisi, menurut beberapa ahli, Eropa harus bergerak secepat mungkin menuju otonomi strategis di sektor pertahanan, ekonomi, dan energi, serta “berdiri di atas kaki sendiri.” Di sisi lain, pemutusan hubungan total dengan AS tidak mungkin dan tidak diinginkan. Banyak yang menekankan bahwa Eropa harus melindungi nilai-nilai liberal bersama, seperti supremasi hukum dan hak asasi manusia, sambil mengurangi ketergantungannya.
Di seberang Samudra Atlantik, Kanada juga menghadapi tantangan serupa. Beberapa analis memperingatkan bahwa Ottawa tidak boleh terlalu terikat dengan Washington, karena keseimbangan kekuatan jelas berpihak pada AS. Namun, upaya untuk mendiversifikasi hubungan perdagangan dan diplomatik serta mengurangi kerentanan terhadap tekanan ekonomi, telah menjadi prioritas dalam kebijakan luar negeri Kanada.
India Model bagi Negara-negara Menengah
Di Asia, India sering dipandang sebagai model bagi negara-negara menengah. New Delhi berusaha mengurangi ketergantungannya sambil mempertahankan hubungan strategisnya dengan AS, sekaligus terus bekerja sama dengan Eropa, negara-negara Teluk, Asia Tenggara, dan bahkan Rusia. Kebijakan “diversifikasi tanpa konfrontasi” ini memungkinkan India memiliki ruang gerak yang lebih luas di dunia yang penuh ketegangan.
Dilema Jepang
Jepang juga berada dalam posisi yang rumit. Di satu sisi, kedekatan geografisnya dengan China dan ketergantungannya pada AS dalam hal keamanan memaksa Tokyo untuk mempertahankan aliansinya dengan Washington. Di sisi lain, ketidakstabilan kebijakan luar negeri Trump telah mendorong Jepang untuk memperkuat kemampuan militernya, meningkatkan anggaran pertahanannya, dan berinvestasi dalam keamanan ekonomi. Para pejabat Jepang berusaha mempersiapkan skenario pesimistis tanpa menantang AS secara terbuka.
Turki Paling Terdampak oleh Melemahnya Ikatan Transatlantik
Di Timur Tengah dan Eurasia, Turki juga memantau perkembangan dengan cermat. Sebagai anggota NATO dengan ikatan ekonomi yang kuat dengan Eropa, Ankara akan paling terdampak oleh melemahnya ikatan transatlantik. Analis Turki memperingatkan bahwa keruntuhan total ikatan ini akan membuat Turki dihadapkan pada pilihan keamanan dan ekonomi yang sulit.
Skeptisisme Soal Pembentukan Blok Negara-negara Menengah
Namun, tidak semua ahli optimis tentang kemungkinan kerja sama yang luas di antara negara-negara menengah. Beberapa percaya bahwa kepentingan yang bertentangan, perbedaan geopolitik, dan tekanan dari negara-negara besar akan mencegah pembentukan blok yang kohesif. Pengalaman seperti kegagalan inisiatif multilateral sebelumnya menunjukkan bahwa koalisi semacam itu dapat runtuh dengan mudah.
Di sisi lain, kelompok lain menekankan bahwa tidak ada alternatif lain. Menurut mereka, dalam dunia yang di situ negara-negara besar semakin menggunakan alat ekonomi dan militer untuk menekan, negara-negara menengah hanya dapat mempertahankan kedaulatan dan kepentingan mereka melalui kerja sama. Solusi yang diusulkan meliputi pembentukan koalisi yang fleksibel, investasi bersama dalam rantai pasokan, penguatan kemampuan pertahanan, dan koordinasi diplomatik.
Era ketergantungan tanpa syarat pada AS tampaknya telah berakhir. Meskipun tatanan dunia baru belum terbentuk, satu hal sudah jelas: Negara-negara menengah harus mempersiapkan diri untuk dunia yang di situ AS tidak lagi menjadi tiang penyangga tak terbantahkan dari tatanan internasional. Kelangsungan hidup, lebih dari sebelumnya, akan bergantung pada fleksibilitas dan kerja sama yang cerdas.
