IRGC Tegaskan Opsi Militer AS terhadap Iran Ditakdirkan Gagal: Teheran Pegang Kendali Akhir Perang
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen dan Press TV, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan sekutu Zionisnya. Setiap opsi militer terhadap Republik Islam Iran, tegas mereka, bukan hanya sia-sia, melainkan juga ditakdirkan berakhir dengan kegagalan telak. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya unjuk kekuatan Militer Washington di kawasan Asia Barat, termasuk pengerahan kapal induk dan armada tempur ke perairan dekat Iran.
Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran “siap untuk semua skenario”. Ia menyatakan bahwa pengalaman Perang 12 Hari yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel telah menjadi bukti nyata bahwa tekanan militer tidak mampu mematahkan kehendak Republik Islam. Sebaliknya, perang tersebut justru menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menentukan arah dan akhir dari setiap konfrontasi.
Menurut Naeini, doktrin pertahanan Iran bertumpu pada respons yang cepat, tegas, dan menghancurkan. Ia mengingatkan bahwa musuh belum melupakan serangan balasan Iran terhadap pangkalan udara Al-Udeid di Qatar, salah satu basis militer paling vital milik Amerika Serikat di Kawasan. Serangan tersebut, kata dia, menjadi pesan jelas bahwa agresi apa pun akan dibalas dengan kekuatan yang belum pernah disaksikan sebelumnya.
Nada peringatan ini diperkuat oleh pernyataan Ali Shamkhani selaku Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran. Ia menegaskan bahwa setiap agresi militer AS akan dianggap sebagai awal perang terbuka dan akan disambut dengan respons “segera, habis-habisan, dan belum pernah terjadi sebelumnya”, yang tidak hanya menargetkan agresor, tetapi juga para pendukungnya hingga jantung Tel Aviv.
Pernyataan para pejabat Iran ini muncul sebagai respons langsung atas retorika dan manuver Presiden AS, Donald Trump yang secara terbuka mengumumkan pengerahan besar-besaran kekuatan Militer ke dekat Iran. Trump bahkan menyombongkan keberadaan armada besar yang menurutnya dimaksudkan untuk menekan Teheran agar tunduk pada negosiasi. Namun, bagi Iran, penumpukan Militer semacam itu bukanlah hal baru, melainkan taktik lama yang mencerminkan kebingungan dan keputusasaan Gedung Putih.
Naeini menilai bahwa propaganda media Barat yang menggembar-gemborkan ancaman perang tidak sejalan dengan realitas di lapangan. “Kami memiliki kendali penuh atas situasi,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa IRGC tetap menjadi perisai kokoh bangsa Iran di tengah konspirasi global. Ia juga menekankan bahwa setiap upaya intimidasi selalu kandas oleh kohesi nasional dan perlawanan rakyat Iran.
Peringatan serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi yang menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran berada dalam posisi siaga penuh, dengan “jari-jari di pelatuk”. Ia menegaskan bahwa pelajaran dari perang sebelumnya telah diintegrasikan untuk memastikan respons yang lebih cepat dan lebih mendalam terhadap agresi apa pun.
Dengan keteguhan politik, kesiapan Militer, dan dukungan rakyat, Iran menegaskan satu pesan utama kepada musuh-musuhnya bahwa perang bukan jalan keluar, dan setiap upaya pemaksaan hanya akan mempercepat kekalahan pihak agresor di hadapan Poros Perlawanan yang semakin solid.
