Aksi Mogok Nasional di AS Lumpuhkan Sekolah, Tempat Kerja, dan Pusat Perbelanjaan di Tengah Protes Anti-Trump di 46 Negara Bagian
POROS PERLAWANAN — Gelombang protes anti-Donald Trump berlangsung di 46 dari 50 Negara Bagian Amerika Serikat pada Jumat waktu setempat, diiringi aksi mogok nasional yang membuat ribuan warga menolak bekerja, bersekolah, dan berbelanja. Aksi ini dipicu penolakan terhadap kebijakan imigrasi Pemerintah serta kemarahan publik atas tewasnya dua demonstran dalam rangkaian unjuk rasa.
Reuters pada Senin 2 Februari melaporkan bahwa aksi berlangsung di hampir 300 titik, termasuk di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, Chicago, dan Washington DC. Massa membawa slogan “No work. No school. No shopping” serta menyerukan penghentian pendanaan untuk Immigration and Customs Enforcement (ICE).
Sejumlah laporan media menyebut demonstrasi di beberapa kota berujung bentrokan. Di Los Angeles, massa dilaporkan merangsek masuk ke sebuah gedung dan merusak sejumlah fasilitas kantor. Aparat keamanan kemudian melakukan pembubaran massa di beberapa titik aksi.
Selain unjuk rasa jalanan, aksi mogok dilakukan secara luas dengan cara tinggal di rumah dan menolak aktivitas ekonomi harian. Banyak bisnis tutup selama Jumat hingga Sabtu, sementara sejumlah tempat usaha mengubah operasional menjadi pos komunitas untuk menyediakan makanan dan tempat istirahat bagi peserta aksi.
Laporan IRNA mengutip The New Arab menyebut pemogokan didukung ratusan kelompok masyarakat sipil. Salah satu pusat mobilisasi massa disebut berasal dari Minnesota, wilayah yang dalam beberapa pekan terakhir mengalami pengetatan penegakan imigrasi dan meningkatnya penangkapan, termasuk laporan penahanan tanpa surat perintah serta pemisahan keluarga.
Arab News melaporkan tuntutan utama peserta aksi mencakup penarikan agen imigrasi dari Minnesota, investigasi atas penembakan dua demonstran, perluasan perlindungan bagi mahasiswa internasional, serta desakan pembubaran ICE.
Council on American-Islamic Relations (CAIR), salah satu kelompok yang mendukung mogok nasional, menyerukan warga AS ikut serta. CAIR menilai praktik ICE telah melampaui batas dan perlu dihentikan, termasuk insiden kekerasan terhadap warga sipil dalam rangkaian operasi penegakan imigrasi.
Di tengah eskalasi demonstrasi, sejumlah tokoh dan analis menilai situasi sosial-politik AS memasuki fase krisis serius. The New York Times menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi negara yang semakin tidak terkendali. Komentator politik, Fareed Zakaria menyebut kebijakan Trump memicu keretakan sosial, sementara sejumlah akademisi membandingkan kondisi AS dengan atmosfer distopia dalam karya George Orwell.
Popularitas Trump Turun dalam Jajak Pendapat
Ketegangan sosial itu terjadi bersamaan dengan penurunan dukungan publik terhadap Trump. USA Today melaporkan tingkat persetujuan terhadap Trump turun menjadi 37 persen, merosot sekitar tiga poin dibanding periode sebelumnya.
Survei Pew Research Center yang dikutip media tersebut menunjukkan penurunan kepercayaan publik berlangsung cepat. Penurunan dukungan tidak hanya datang dari pemilih Demokrat, tetapi juga mulai terlihat di basis tradisional Partai Republik.
Pada 2025, dukungan pemilih Republik terhadap Trump disebut berada di angka sekitar 67 persen. Dalam survei terbaru, angka itu turun menjadi 56 persen, menunjukkan pergeseran sikap di internal pendukung inti.
Dukungan Terhadap Kebijakan Ekonomi Ikut Melemah
Survei Pew juga mencatat dukungan publik terhadap agenda ekonomi Trump berada di angka 27 persen. Sementara kelompok yang menilai kebijakannya memperburuk kondisi ekonomi jumlahnya lebih besar.
Di Kongres, dukungan internal terhadap agenda Trump juga menunjukkan pelemahan. Survei Pew menyebut hanya 38 persen pemilih Partai Republik dan independen pro-Republik percaya para perwakilan partai solid mendukung Trump. Sebanyak 61 persen menilai sebaliknya.
Angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya dan memperlihatkan fragmentasi politik di tubuh Partai Republik. Beberapa isu yang memicu gesekan internal meliputi dorongan membuka dokumen terkait Jeffrey Epstein serta kritik terhadap tindakan aparat imigrasi di Minnesota yang berujung pada penembakan dua warga.
USA Today menilai runtuhnya dukungan terhadap Trump, baik di ruang publik maupun di dalam partainya sendiri, mencerminkan melemahnya kontrol politik dan merosotnya efektivitas agenda Pemerintahannya.
Dalam konteks global, sejumlah jajak pendapat luar negeri juga menunjukkan penurunan citra Amerika Serikat. Di Prancis, 51 persen responden dalam survei terbaru menilai AS berpotensi menjadi ancaman militer dalam beberapa tahun mendatang. Di Polandia, 53 persen responden menyatakan AS tidak lagi dianggap sebagai sekutu yang dapat diandalkan, sementara hanya 29 persen menyatakan masih percaya pada AS.
