Pemerintah Iran Buka Daftar Korban Kerusuhan, 135 Tersangka Ditahan
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Republik Islam Iran terus melangkah maju mengungkap kebenaran di balik kerusuhan berdarah yang terjadi sejak akhir 2025. Di tengah upaya memulihkan stabilitas nasional, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan keberhasilan menahan 135 tersangka kunci yang diduga menjadi penggerak utama kerusuhan terorganisasi di kota Parand, wilayah utara Iran. Penangkapan ini menandai babak baru dalam upaya negara membongkar jaringan sabotase yang dituding didukung Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis cabang IRGC pada Selasa 3 Februari, disebutkan bahwa para tersangka bukanlah demonstran biasa. Mereka diidentifikasi sebagai pemimpin lapangan dan koordinator aksi yang secara sistematis melakukan vandalisme, pembakaran fasilitas publik, perusakan properti negara, serta penyerangan terhadap masjid-masjid Syiah, simbol keagamaan dan persatuan rakyat Iran. Fakta bahwa banyak dari mereka berasal dari luar Parand dan memiliki catatan kriminal sebelumnya, semakin memperkuat dugaan adanya mobilisasi terencana lintas kota untuk menciptakan kekacauan nasional.
Sejak awal pecahnya kerusuhan, ratusan pelaku telah diamankan aparat keamanan Iran. Pemerintah menegaskan bahwa gelombang kekerasan ini bukanlah ekspresi murni kemarahan rakyat, melainkan hasil pembajakan terhadap protes ekonomi damai oleh jaringan bayangan yang berafiliasi dengan kepentingan asing. Aksi-aksi provokatif tersebut dituding sengaja diarahkan untuk menjerumuskan negara ke dalam konflik internal dan melemahkan ketahanan nasional Iran di tengah tekanan geopolitik global.
Seiring dengan operasi keamanan, negara juga mempercepat agenda transparansi. Kantor Presiden Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat kerusuhan telah melampaui 3.100 orang. Pada Selasa 3 Februari lalu, Pemerintah secara resmi meluncurkan platform daring yang memuat identitas 3.039 korban jiwa yang telah diverifikasi. Basis data ini menyajikan informasi rinci tentang para korban dan dirilis hanya 48 jam setelah pengumuman daftar awal, sebuah langkah yang disebut sebagai komitmen negara untuk menghormati setiap nyawa yang hilang dan menolak narasi manipulatif Barat.
Kerusuhan sendiri bermula dari demonstrasi ekonomi yang sah. Tekanan inflasi, depresiasi mata uang, dan dampak sanksi sepihak Barat memicu kegelisahan rakyat. Otoritas Iran menegaskan bahwa protes-protes awal berlangsung damai dan berada di bawah perlindungan aparat. Presiden Pezeshkian bahkan turun langsung berdialog dengan perwakilan demonstran, menginstruksikan pasukan keamanan agar menahan diri dan mengutamakan pendekatan persuasif.
Namun, situasi berubah drastis ketika elemen terorganisasi masuk dan mengalihkan tuntutan ekonomi menjadi aksi kekerasan bersenjata. Laporan kantor berita Rusia, TASS mengungkap temuan mengejutkan dari pemeriksaan forensik, bahwa amunisi standar Militer Israel ditemukan pada tubuh anak-anak yang tewas selama kerusuhan. Di antaranya seorang gadis delapan tahun di Isfahan dan seorang balita tiga tahun di Kermanshah, keduanya ditembak mati saat menjalani aktivitas harian bersama keluarga mereka.
Temuan ini memperjelas bahwa yang terjadi di Iran bukan sekadar kerusuhan domestik, melainkan bagian dari perang hibrida yang menyasar kedaulatan negara dan keselamatan rakyat sipil. Di hadapan fakta-fakta tersebut, Iran menegaskan sikapnya bahwa perlawanan terhadap intervensi asing akan terus berlanjut, dan darah rakyat yang tertumpah tidak akan dibiarkan menjadi angka tanpa keadilan.
