Wawancara Cucu Imam Khomeini dengan al-Mayadeen (Bagian Pertama): Israel Hanya Inginkan Disintegrasi Iran
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan Direktur al-Mayadeen, Ghassan Ben Jeddou yang ditayangkan pada Rabu malam 4 Februari, Sayyid Ali Khomeini menyatakan bahwa ia melihat masa depan yang cerah bagi Revolusi Islam. Cucu Imam Khomeini itu berpendapat, satu-satunya jalan yang layak dan cara hidup di dunia yang telah diubah AS dan Israel menjadi hutan belantara, adalah perlawanan. Ia menambahkan bahwa Iran saat ini sedang berada dalam perang eksistensial.
Dilansir Fars, saat ditanya apakah ia melihat masa depan yang positif bagi Revolusi atau memandang masa depannya dengan kekhawatiran yang serius, Sayyid Ali mengatakan,“Kekhawatiran, ya, tetapi ketakutan, tidak. Kekhawatiran, tentu saja, alami dan normal, karena jika seseorang mencintai sesuatu dan merasa ada ancaman dan upaya untuk menghancurkannya, secara alami, kekhawatiran timbul di hatinya. Tetapi ketakutan sebagai sifat negatif, tidak. Ketakutan, artinya takut pada siapa pun selain Allah Yang Mahakuasa, tidak, karena jalan ini, jalan yang telah kita tempuh, insya Allah, adalah jalan yang awalnya adalah pengorbanan diri dan akhirnya adalah syahadah. Tidak ada kekalahan di dalamnya.”
Sehubungan dengan situasi Kawasan, Sayyid Ali mengatakan,“Satu-satunya jalan dan cara hidup kita adalah perlawanan. Kita sekarang berada dalam perang eksistensial. Mari kita jujur. Kita sekarang berada di wilayah di mana AS telah menempatkan mitra strategisnya, yaitu Israel. Orang-orang Israel tahu bahwa negara-negara Islam di Kawasan. Jika suatu hari nanti bangsa Muslim mampu membom, menyerang, dan melenyapkan Israel, mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Hamas.”
“Hari ini, jika kita melihat bahwa beberapa negara di kawasan ini tidak memenuhi kewajiban mereka, jawabannya mungkin adalah mereka tidak mampu melakukannya. Israel, AS, dan para pemimpin negara-negara besar tahu bahwa jika suatu hari nanti negara-negara Muslim mampu menyerang Israel, mereka akan melakukannya.”
“Kebijakan definitif AS dan Israel adalah melemahkan Kawasan. Jika Israel memiliki kemampuan, mereka akan mencegah setiap peluang ekonomi bagi negara-negara Muslim. Kita berada dalam perang eksistensial. Israel hanya dan semata-mata bertujuan untuk memecah belah Iran, dan tidak ada yang lain. Mereka hanya dan semata-mata bertujuan untuk mendisintegrasi dan melemahkan Iran. Sama seperti Barat menghancurkan Kekaisaran Ottoman. Apa gunanya terpecah-belah? Jika Iran yang besar dipecah menjadi negara-negara kecil, negara kecil membutuhkan sekutu, membutuhkan yang lain, membutuhkan Israel. Lalu Israel berkata, ‘Serang,’ Negara kecil itu berkata, ‘Ya, tuan.’ ‘Bangun’. ‘Ya, tuan.’ ‘Duduklah.’ ‘ya, tuan.’ Tidak ada pilihan lain. Oleh karena itu, kami realistis dan memutuskan untuk melawan. Jika tidak realistis, kami tidak akan ada sekarang. Imam Khomeini adalah seorang ulama dan ahli hukum agama, ya, tetapi dia adalah seorang realistis. Dia melihat kenyataan, dia melihat situasi. Hari ini, di Republik Islam, kami melihat secara realistis. Kami mengatakan bahwa jalan perlawanan adalah jalan kenyataan. Jalan yang ada di hadapan kami adalah jalan perlawanan, dan ini adalah pandangan orang-orang realistis.”
Ben Jeddou bertanya, “Ini tentang Israel, tapi apa tujuan AS terhadap Anda?” Sayyid Ali menjawab, “AS telah memilih mitranya. Saya pikir membedakan antara Israel dan AS, jika itu mungkin, tidak berarti apa-apa, karena AS telah memilih dan menyatakan Israel sebagai pangkalan militer terbesar mereka.”
“Sama seperti AS kini memiliki pangkalan militer di negara-negara Islam, di Qatar, Irak, dan tempat lain, pangkalan militer AS terbesar juga berada di Israel. [Mungkin perbedaan satu-satunya dengan pangkalan militer lain adalah] pernikahan diizinkan di sana dan ada anak-anak. Namun, itu tetap pangkalan militer, dan AS memilihnya sebagai mitranya. Oleh karena itu, dalam setiap kasus ketika masalah berputar di sekitar kepentingan Israel dan kepentingan lainnya, orang-orang Amerika memihak Israel serta AS.”
“Oleh karena itu, saya katakan kepada Anda bahwa inilah spirit arogansi. Arogansi berbicara dengan bahasa kekuatan. Oleh karena itu, kita dapat menghadapi orang-orang sombong, melawan mereka, bahkan bernegosiasi dengan mereka, dengan menggunakan bahasa kekuatan. Tanpa bahasa kekuatan, kita tidak bisa.”
“Saya percaya bahwa perdamaian antara penindas dan yang tertindas, serta antara yang kuat dan yang lemah, tidak terjadi, belum pernah terjadi, dan tidak akan pernah terjadi. Mengapa orang-orang arogan yang kuat akan menerima apa yang Anda katakan? Mengapa mereka akan duduk bersama Anda? Hari ini, saya menyoroti bahwa AS telah datang dengan armada besar dan pasukan militer. Saya pikir mereka tidak dapat melakukan apa-apa, tetapi itu adalah analisis. Analisis saya adalah bahwa perang antara AS dan Republik Islam adalah kemungkinan yang paling jauh bagi kami. Tetapi jika perang terjadi, kami tidak takut. Kami akan menghadapinya, dan kami telah membuktikan kemampuan kami.”
“Beberapa bulan lalu, kami melakukan tiga tindakan, masing-masing cukup untuk membuat kami menjadi bangsa yang dicintai di hati umat Muslim: meluncurkan rudal, mengenai sasaran, dan menghancurkan Israel. Masing-masing dari tiga tindakan ini cukup bagi sebuah bangsa untuk meluncurkan rudal, bahkan jika tidak mencapai sasarannya.”
“Namun, kami meluncurkan rudal. Rudal tersebut mencapai targetnya dan menyebabkan kehancuran. Inilah ketiga tindakan tersebut. Hal yang sama berlaku hari ini. Kami berkata kepada pihak-pihak arogan: ‘Jika kalian takut, kalian akan mati.’ Kami tidak punya pilihan lain, dan ini karena saya percaya jalan ini adalah yang realistis, melihat kenyataan situasi. Orang AS dan Israel telah membuktikan bahwa dunia seperti hutan belantara.” (Bersambung)
