Penasihat Ketua Parlemen Iran: AS akan ‘Dikejutkan’ Jika Mereka ‘Melampaui Batas’
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan Al-Mayadeen, Penasihat politik Ketua Parlemen Iran, Amiribrahim Rasouli mengatakan bahwa Iran bernegosiasi secara bermartabat untuk melindungi kepentingan rakyat. Namun bukan dengan segala harga apa pun. Menurut Rasouli, Iran tidak akan menyerahkan negara ini kepada AS melalui negosiasi, dan jika mereka melampaui batas, mereka akan mendapatkan kejutan.
Dilansir Fars, saat ditanya tentang keteguhan Iran dalam mempertahankan hak kedaulatannya dan apakah Tehran yakin negosiasi akan membuahkan hasil, Rasouli mengatakan, “Kami sedang memperingati hari kemenangan Revolusi Islam Iran. Saat ini, Kawasan berada di persimpangan yang krusial. Yang penting adalah kami menunaikan kewajiban kami meskipun menghadapi segala kesulitan.”
“Israel saat ini berusaha menyeret AS ke dalam perang melawan kami. Kami mungkin pernah dikejutkan di masa lalu, tetapi yang penting adalah hari ini kami tidak akan dikejutkan. Dengan penuh keberanian, kami melangkah maju dengan diplomasi dan kesiapan perang sekaligus. Jari kami siap di pelatuk.”
Al-Mayadeen merujuk pada pernyataan Qalibaf pada Senin kemarin bahwa “hari ini, diplomasi dan medan perang adalah dua sisi dari koin yang sama”. Jaringan Televisi Lebanon ini lalu menanyakan pentingnya kedua front ini dalam menghadapi AS.
“Akar masalah ini bermula dari fakta bahwa kami sama sekali tidak memercayai AS. Pihak AS-lah yang menanam benih ketidakpercayaan. Mereka yang telah mengumpulkan pasukan dan mengirimkan kapal perang ke sekitar Iran. Mereka pula yang telah melancarkan perang psikologis untuk menekan Tehran.”
“Di sisi lain, lihatlah perilaku dan retorika Presiden AS. Kata-kata Trump tidak dapat diandalkan; ia berubah-ubah dari pagi hingga malam. Ketidakpercayaan ini, tentu saja, memiliki akar historis, tetapi jika Anda melihat situasi saat ini, Anda akan menyadari bahwa perilaku AS tidak dapat dipercaya. Trump-lah yang menarik diri dari kesepakatan nuklir. Oleh karena itu, kami terpaksa mengejar diplomasi bersamaan dengan tindakan militer. Kami pada akhirnya tidak percaya pada pihak AS. Merekalah yang harus mengatasi ketidakpercayaan ini. Mereka telah menempatkan Kawasan di ambang bahaya.”
Sehubungan dengan sikap Iran terhadap sanksi Barat, Rasouli mengatakan, “Sanksi terhadap Iran bukanlah fenomena baru. Iran telah berada di bawah sanksi selama bertahun-tahun. Rakyat telah menanggung tekanan yang besar, sementara pejabat telah melakukan upaya signifikan untuk mencabutnya. Meski demikian, kami telah mencapai kemajuan besar selama 47 tahun terakhir. Izinkan saya mengatakan bahwa bahkan di bidang rudal, AS yakin bahwa situasi kami lebih baik daripada sebelum Perang 12 Hari. Mereka bahkan berharap kami kembali ke kondisi sebelum perang di bidang ini. Kami telah mencapai kemajuan besar sejak Perang 12 Hari. Jika mereka membuat kesalahan dan memulai perang, mereka akan dikejutkan.”
“Namun, kami tidak ingin menyembunyikan dampak sanksi. Dampak unsur-unsur perang ekonomi harus dipertimbangkan bersama dengan perang ekonomi itu sendiri. Eropa sendiri kini berada di bawah tekanan ekonomi Trump. Setelah tekanan AS terhadap Kanada dan negara-negara lain, mereka tidak bisa berbuat apa pun. Mereka memuluskan rencana-rencana Trump di Kawasan demi menghindari intimidasi dari Trump. Bagaimanapun, jika mereka memaksakan perang, mereka harus tahu bahwa itu akan menjadi perang regional. Segalanya akan hancur. Kami tidak akan terlibat dalam negosiasi apa pun yang di situ tidak ada kehormatan.”
Mengenai jaminan untuk negosiasi yang adil, ia mengatakan, ”Pembicaraan tersebut diadakan di Muscat dan akan dilanjutkan. Kami mengejar kepentingan rakyat, tetapi tidak dengan segala cara. Kemerdekaan Iran harus dijaga. Kami tidak menanggung semua tekanan ini hanya untuk menyerahkan negara ini kepada AS melalui negosiasi. Kami siap untuk kerja sama ekonomi dan berbagai kolaborasi internasional lainnya, dengan syarat hak-hak bangsa Iran dijaga.”
Mengenai cara Iran telah meningkatkan kemampuannya di bawah sanksi Barat yang terus-menerus, Rasouli mengatakan, “Sanksi itu sendiri menjadi faktor penting yang memaksa kami untuk fokus pada kemampuan domestik kami. Kami tentu saja belajar dari pengalaman dunia, tetapi ilmuwan Iran di berbagai bidang militer dan sipil berada pada tingkat yang maju, dan hal ini terjadi selama periode sanksi juga.”
