Krisis Internal dan Isolasi Global: Mantan Jenderal Ramalkan Kejatuhan Israel
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, retakan serius di tubuh entitas Zionis kian terbuka lebar. Peringatan kali ini tidak datang dari pihak luar, melainkan dari seorang tokoh militer seniornya sendiri. Pensiunan Mayor Jenderal Israel, Yitzhak Brik mengungkapkan bahwa Israel berpotensi mengalami keruntuhan bahkan sebelum mencapai usia 100 tahun pada 2048. Ia menilai bahwa kehancuran itu dipicu oleh perpecahan internal yang akut, kegagalan kepemimpinan politik, serta meningkatnya isolasi internasional.
Dalam artikel opini yang dimuat harian Maariv berjudul “Israel sedang menuju kehancuran, dan hanya ada satu cara untuk menyelamatkannya”, Brik mempertanyakan masa depan entitas yang berdiri di atas tanah Palestina yang dirampas sejak 1948. “Ketika saya mencoba melihat ke depan, saya bertanya-tanya, apakah Israel akan mencapai usia 100 tahun?” tulisnya, mencerminkan kegelisahan mendalam terhadap arah yang ditempuh negaranya.
Brik mengingatkan bahwa sejak pendiriannya, Israel dibangun melalui pendudukan, pembantaian, dan pengusiran ratusan ribu rakyat Palestina. Pada 1967, agresi Zionis kembali memperluas pendudukan dengan merebut sisa wilayah Palestina, sebuah kejahatan yang hingga kini terus dipertahankan dengan menolak penarikan pasukan maupun pembentukan negara Palestina merdeka. Warisan kekerasan inilah yang menurut Brik menjadi salah satu akar krisis berkepanjangan.
Di dalam negeri, kondisi sosial digambarkan semakin rapuh. “Israel telah terkoyak dari dalam selama beberapa dekade,” tegas Brik. Ia menunjuk kebencian antarkelompok sosial, polarisasi ekstrem antara kanan dan kiri, serta konflik antara Yahudi dan Arab sebagai luka terbuka yang meresap ke seluruh sendi kehidupan. Retakan ini tidak lagi tersembunyi, tetapi telah menjadi ciri utama masyarakat Zionis.
Kepemimpinan politik pun tak luput dari kecaman. Brik secara khusus mengkritik Perdana Menteri Benyamin Netanyahu dan lingkaran penguasa, yang dinilainya lebih mengutamakan kelangsungan kekuasaan pribadi ketimbang kepentingan publik. Kepemimpinan semacam itu disebutnya sempit, tanpa visi, dan gagal membaca tantangan strategis jangka panjang.
Di kancah global, Israel disebut semakin terasing. Brik menilai entitas tersebut kini dipandang sebagai sumber penolakan dan kejijikan internasional. Tekanan global yang meningkat, ditambah krisis keamanan dan ekonomi, mendorong banyak pemukim memilih meninggalkan Wilayah Pendudukan, sebuah sinyal melemahnya ketahanan internal.
Menurut Brik, erosi ini melanda semua sektor: militer, ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga sains. Meski demikian, ia masih menyampaikan optimisme bersyarat. Israel mungkin bertahan melewati 2048, katanya, hanya jika generasi muda mampu mengubah keputusasaan menjadi tanggung jawab dan mengganti polarisasi dengan kerja sama intelektual. Sebuah harapan rapuh di tengah realitas pendudukan dan perlawanan yang terus membara.
