Nyawa 40.000 Tentara AS Terikat pada Risiko Konflik Iran–Trump
POROS PERLAWANAN — Ancaman balasan Iran terhadap sikap keras Donald Trump dinilai dapat menempatkan sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara Amerika Serikat dalam posisi rentan di Timur Tengah. Pasukan tersebut tersebar di 13 pangkalan militer utama di kawasan.
Laporan sejumlah media dan analis politik Amerika menunjukkan eskalasi berpotensi meluas jika serangan militer benar-benar terjadi. Ketegangan meningkat seiring peringatan terbuka dari Teheran serta respons militer Washington yang mulai memperkuat sistem pertahanan udara di wilayah pangkalan.

Melansir Kayhan, Associated Press pada Minggu (22/2/26), mencatat penilaian strategis Iran mengarah pada kesimpulan keras: penghentian siklus konflik hanya mungkin dicapai lewat kerusakan besar terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel, meski konsekuensi juga akan ditanggung Teheran. Serangan tunggal dari Washington diperkirakan sulit dilakukan tanpa memicu konflik skala penuh.
Ekonom Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke, menilai dinamika kebijakan Amerika tidak sepenuhnya berdiri sendiri dalam relasi dengan Iran.
“Israel mendikte arah kebijakan. Netanyahu menginginkan penyerahan total Iran, bukan kesepakatan,” ujarnya.
Hanke memperingatkan dampak ekonomi dan militer jika konflik meningkat.
“Penutupan Selat Hormuz bisa mendorong harga minyak ke 120 dolar per barel. Amerika telah terlibat dalam lebih dari seratus operasi perubahan rezim, banyak berakhir bencana. Serangan terhadap Iran berpotensi menjadi bencana total,” katanya.
“Iran memiliki sejarah panjang dan kapasitas militer yang tidak bisa diremehkan. Kemampuan armada Amerika harus diuji terhadap sistem radar baru Tiongkok. Efektivitasnya belum tentu seperti asumsi Pentagon.”
Sumber Amerika dan pakar Timur Tengah yang berbicara kepada The New York Times menilai ambiguitas target militer sangat berbahaya. Serangan dapat dipersepsikan sebagai ancaman eksistensial oleh Teheran, sehingga respons bisa melampaui pola sebelumnya, termasuk setelah kematian Qassem Soleimani pada 2020.
Vali Nasr dari Universitas Johns Hopkins menilai respons terbatas Iran pada masa lalu justru memicu tekanan baru dari Washington.
“Teheran mungkin menyimpulkan biaya perang bagi Amerika harus dinaikkan agar ancaman berhenti,” ucapnya.
Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, perwakilan Iran menegaskan semua pangkalan, instalasi, dan aset pasukan lawan di kawasan akan menjadi target sah jika serangan terjadi. Amerika dinilai akan menanggung seluruh konsekuensi konflik yang meluas.
Ancaman tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan puluhan ribu tentara Amerika di Timur Tengah. Pentagon telah menambah sistem pertahanan udara guna melindungi pangkalan militer di kawasan.
The New York Times mencatat preseden serangan Iran ke pangkalan Amerika di Qatar pada Juni lalu, dilakukan setelah pemberitahuan awal kepada Washington dan Doha. Seorang pejabat senior Pentagon mengakui situasi saat ini berbeda dan risiko terhadap pasukan bisa lebih besar jika Amerika memulai serangan lebih dulu.
Media Inggris Middle East Eye menilai kapasitas militer Iran tidak dapat disamakan dengan negara lain yang pernah menjadi target tekanan Barat. Teheran memiliki sejumlah opsi, mulai dari serangan terhadap pangkalan Amerika di negara Teluk hingga potensi penutupan Selat Hormuz dan peningkatan serangan rudal terhadap Israel.
Eskalasi semacam itu berpotensi mengubah konflik terbatas menjadi perang regional terbuka dengan dampak militer, energi, dan geopolitik yang luas.
