Pilot AS Akui Nyaris Mampus Ditembak Rudal Yaman
POROS PERLAWANAN – Pada hari Selasa 24 Februari, majalah AS, Air and Space Force menerbitkan laporan yang menunjukkan bahwa awak dua pesawat tempur F-16 AS hanya berjarak 15 detik dari kematian di wilayah udara Yaman.
Fars melaporkan, majalah tersebut mencatat bahwa insiden tersebut terjadi pada malam 27 Maret 2025. Air and Space Force melaporkan bahwa pertahanan udara Yaman, dengan enam rudal permukaan-ke-udara, telah mengepung kedua pesawat tersebut saat mereka berusaha mundur menuju Laut Merah.
William Parks dan Michael Blea, dua pilot pesawat tempur tersebut, menceritakan bahwa setelah terjebak dalam operasi pertahanan kompleks Yaman, mereka mengalami momen menakutkan; saat pesawat tempur AS, dalam hitungan detik, menjadi sasaran empuk.
Majalah tersebut mengutip salah satu pilot yang mengatakan,“Misil Yaman melintas langsung di bawah sayap pesawat, begitu dekat hingga kami dapat mendengar gemuruhnya. Itu adalah momen yang masih terukir dalam ingatan saya.”
Menurut laporan tersebut, Angkatan Bersenjata Yaman telah memiliki informasi intelijen sebelumnya tentang serangan udara tersebut. Ini menunjukkan bahwa Intelijen Yaman telah menembus pergerakan AS.
Menurut laporan majalah tersebut, analisis militer AS menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam taktik Yaman. Pasukan Yaman dinilai telah menggabungkan misil permukaan-ke-udara yang dipandu radar dengan sistem pengamatan visual dan sensor elektro-optik.
Berdasarkan laporan tersebut, sistem-sistem ini mampu mengelabui sensor-sensor canggih AS dan sistem peringatan dini. Dengan kata lain, pilot tidak menerima peringatan tentang ancaman hingga hanya 15 hingga 20 detik sebelum rudal tiba.
Para ahli militer meyakini bahwa insiden ini bukan sekadar kebetulan, melainkan kelanjutan dari serangkaian keberhasilan pertahanan udara Yaman dalam perang “Pembebasan dan Jihad Suci.”
Langit Yaman Lubang Hitam bagi Pesawat-pesawat AS
Sejak dimulainya serangan AS dan Inggris terhadap Yaman, angkatan bersenjata negara tersebut berhasil menembak jatuh sejumlah drone pengintai tempur tipe MQ-9 AS. Hal ini telah mengubah langit Yaman menjadi “lubang hitam” bagi semua jenis pesawat AS.
Kemampuan pertahanan udara untuk mengejar pesawat tempur F-16 yang cepat dan canggih serta menembus sistem pengacauan canggih mereka membuktikan, Yaman telah beralih dari tahap “pertahanan pasif” ke tahap “serangan udara kompleks” terhadap pesawat tempur dan drone AS.
Majalah Amerika ini mengungkap kebingungan dan ketidakstabilan dalam struktur komando militer AS. Komandan CENTCOM, Jenderal Michael Kurilla terpaksa memindahkan pengelolaan operasi udara di Yaman dari Komando Udara Pusat ke Komando Operasi Khusus Gabungan.
Ini adalah kasus yang tidak biasa dan kemungkinan pertama kali bahwa sebuah operasi udara skala besar di Kawasan dikelola oleh komando operasi khusus, yang merupakan akibat dari kegagalan memalukan dalam menetralisir kemampuan Yaman.
