Ansharullah Yaman: Normalisasi Sebagian Rezim Arab Picu Kenaikan Biaya Konfrontasi Lawan Israel
POROS PERLAWANAN — Pemimpin Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi menilai normalisasi hubungan sejumlah negara Islam dengan Israel justru memperbesar biaya konfrontasi terhadap Rezim tersebut. Pernyataan disampaikan dalam pidato Ramadan yang disiarkan TV Al-Masirah dan dikutip IRNA pada Jumat 27 Februari.
Al-Houthi menyebut langkah normalisasi memberi ruang tekanan lebih luas terhadap dunia Islam. “Apa yang dilakukan Rezim-rezim Arab dengan dalih menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis justru menyebabkan penindasan lebih lanjut terhadap negara-negara Islam,” ujarnya.
Menurutnya, sikap politik negara-negara Arab dan Islam berdampak langsung pada eskalasi konflik. “Mengingat pendekatan buta dari Pemerintah dan Rezim Arab dan Islam ini, biaya untuk mengalahkan dan menghancurkan Rezim Zionis meningkat dari hari ke hari,” katanya.
Al-Houthi juga menyinggung posisi umat Islam dalam dinamika konflik. “Sikap umat Islam terhadap Rezim Israel efektif dalam menunda atau mempercepat janji Ilahi, dan biayanya pun sangat besar.”
Dalam pidato tersebut, Al-Houthi menggambarkan Israel sebagai pihak dengan agenda ekspansionis. “Musuh Israel tidak samar dan tidak misterius, terlihat dari pernyataan publik tentang tujuan ekspansionis dan agresif untuk mendominasi wilayah geografis luas dari tanah umat Islam,” ucapnya.
Dia menilai permusuhan Israel terhadap Islam tampak terang. “Besarnya permusuhan Zionis terhadap Islam sangat jelas dan nyata.”
Al-Houthi juga menyoroti situasi di Gaza dan Lebanon. “Kejahatan musuh Israel merupakan kejahatan paling keji yang dapat dibayangkan, terlihat dari apa yang terjadi di Jalur Gaza selama dua tahun terakhir dan hingga kini masih berlangsung,” katanya.
Dalam bagian lain pidato, Al-Houthi menyoroti praktik pelanggaran kemanusiaan oleh Israel. “Musuh Zionis bangga memiliki bank kulit terbesar di dunia dan menciptakannya dari kulit bangsa Palestina.”
Serangan terhadap Lebanon turut disorot. “Apa yang dilakukan musuh ini terhadap rakyat Lebanon dan serangan terus-menerus terhadap Hizbullah bertujuan merebut seluruh sarana kekuasaan dan menekan Lebanon,” ujarnya. “Musuh ini tidak menginginkan perdamaian dengan Lebanon, seperti dibayangkan sebagian pihak.”
Al-Houthi juga mempertanyakan efektivitas sikap politik negara-negara Arab. “Apa manfaat mengutuk aneksasi Tepi Barat ke Wilayah Pendudukan oleh 14 negara Arab bagi rakyat Palestina?”
Dia menilai sebagian pihak hanya mengeluarkan pernyataan simbolik. “Untuk menghindari tuduhan, sebagian orang hanya mengeluarkan pernyataan atas nama rakyat Palestina sambil memberikan bantuan keuangan kepada musuh Zionis.”
IRNA melaporkan bahwa Al-Houthi sebelumnya telah memaparkan kondisi mutakhir dunia Islam dan mengkritik kegagalan sejumlah Pemerintah dalam menjalankan tanggung jawab politik dan keagamaan terkait konflik Palestina.
