Hindutva dan Zionisme: Ideologi Bersama dalam Aliansi India–Israel
POROS PERLAWANAN — Aliansi India–Israel dinilai bukan hanya kemitraan militer dan ekonomi, melainkan pertemuan dua arus ideologis: Hindutva dan Zionisme. Analisis tersebut disampaikan Shaher Al Shaher dalam tulisannya di Al Mayadeen pada 28 Februari 2026 berjudul “Al-Hindutfa wa ash-Shahyuniyyah: Aydiyulujiyyat Mushtarakah fi at-Tahaluf al-Hindi al-Isra’ili”.
Tulisan itu menelusuri akar historis hubungan kedua negara, dinamika geopolitik mutakhir, serta implikasinya terhadap dunia Arab dan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Dari Penolakan ke Kemitraan Strategis
India meraih kemerdekaan pada Agustus 1947. Pada November tahun yang sama, New Delhi menolak resolusi PBB terkait pembagian Palestina. India mengakui Israel pada 1950 tanpa membuka hubungan diplomatik penuh.
Sikap awal tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Pengalaman kolonialisme Inggris membentuk solidaritas politik antara India dan banyak negara Arab. Orientasi sekuler Perdana Menteri Jawaharlal Nehru turut berperan, termasuk kedekatan dengan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dalam Gerakan Non-Blok.
Perubahan terjadi setelah wafatnya Nehru pada 1964. Pada era Indira Gandhi, komunikasi rahasia dengan Israel mulai terjalin. India disebut memberi dukungan pada Israel dalam perang 1967 dan 1973, sementara Israel mendukung India dalam perang melawan Pakistan pada 1971.
Hubungan diplomatik resmi terjalin pada 1992 setelah runtuhnya Uni Soviet. India membutuhkan pemasok senjata baru. Israel mengisi kebutuhan tersebut. Sejak saat itu, kerja sama pertahanan berkembang cepat.
Momentum meningkat saat Narendra Modi menjabat pada 2014. Israel mengklasifikasikan hubungan ini sebagai “kemitraan strategis terhormat”, status yang juga diberikan kepada Amerika Serikat dan Tiongkok.
Dimensi Militer dan Ekonomi
India membeli senjata hampir 1 miliar dolar AS per tahun dari Israel. Pada periode 2015–2019, Israel menjadi pemasok senjata terbesar kedua bagi India setelah Rusia, menyumbang sekitar 14 persen impor pertahanan India. Bagi Israel, India menyerap hampir setengah total ekspor senjatanya.
Kunjungan Modi ke Israel pada 2017 dan kunjungan balasan Benjamin Netanyahu pada 2018 menandai percepatan hubungan bilateral. Dalam pidatonya di Knesset, Modi menyatakan, “India berdiri teguh di sisi Israel sekarang dan di masa depan.”
Kerja sama meliputi pelatihan militer, pertukaran intelijen, transfer teknologi pertahanan, energi, infrastruktur, serta penguatan rantai pasok industri. Aliansi ini juga dikaitkan dengan rencana jalur perdagangan baru yang menghubungkan Asia ke Eropa melalui Timur Tengah.
Pergeseran Peta Aliansi
Aliansi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk rivalitas dengan Iran dan dinamika hubungan Pakistan dengan Turki, Arab Saudi, serta Qatar.
Netanyahu berbicara tentang pembentukan poros baru untuk menghadapi ancaman bersama. Namun konfigurasi aliansi kawasan bersifat dinamis dan dipengaruhi kepentingan nasional masing-masing negara.
India memiliki kepentingan ekonomi besar di dunia Arab. Lebih dari 10 juta warga India tinggal di negara-negara Arab, sekitar 9 juta di kawasan Teluk. Remitansi tahunan dari kawasan tersebut diperkirakan mencapai 60 miliar dolar AS. Nilai perdagangan India–Arab mencapai sekitar 215 miliar dolar AS per tahun. Data ini menunjukkan keterkaitan ekonomi yang kuat dan berlapis.
Titik Temu Ideologis
Menurut Shaher, kerja sama India–Israel tidak hanya digerakkan pertimbangan strategis, tetapi juga kedekatan ideologis.
Hindutva merupakan arus nasionalisme Hindu yang menempatkan identitas Hindu sebagai inti narasi kebangsaan India. Zionisme menempatkan identitas Yahudi sebagai dasar kedaulatan nasional Israel. Keduanya menegaskan identitas mayoritas sebagai fondasi negara dan kebijakan publik.
Pendekatan tersebut sering memprioritaskan kelompok dominan dalam kerangka budaya atau agama. Dalam praktik politik, model seperti ini berpotensi membatasi ruang partisipasi minoritas.
Meski memiliki irisan gagasan, keduanya berbeda secara historis dan struktural. Hindutva berakar pada dinamika domestik India dan berfokus pada pembentukan ulang identitas nasional dalam batas negara. Zionisme berkembang sebagai gerakan nasional Yahudi dengan dimensi diaspora global dan proyek negara-bangsa yang terorganisasi secara internasional.
Tulisan Shaher menyimpulkan, aliansi India–Israel mencerminkan pergeseran strategis di Timur Tengah. Integrasi keamanan dan ekonomi lintas kawasan membuka peluang baru sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap negara-negara Arab dan keseimbangan kekuatan regional.
