Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

The Atlantic: Nasib Perang Trump Kini Ditentukan Respons Iran

POROS PERLAWANAN — Majalah The Atlantic menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mempertaruhkan warisan politiknya lewat perang yang secara terbuka mengarah pada perubahan rezim di Iran. Keberhasilan atau kegagalan operasi ini, tulis media tersebut, tidak hanya bergantung pada Washington, tetapi sangat ditentukan oleh respons Teheran.

Dalam laporan dan analisis terbarunya, The Atlantic menyebut langkah Trump melampaui pola serangan terbatas yang sebelumnya diklaim sebagai pencegahan nuklir. Sasaran politik kini jauh lebih ambisius: mengguncang struktur kekuasaan Iran melalui tekanan militer langsung.

Trump menyampaikan arah kebijakan itu dalam pidato delapan menit di Truth Social setelah serangan dimulai. “Agar faksi-faksi bersenjata paling kuat di Iran meletakkan senjata mereka, dan agar rakyat Iran bangkit dan mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengambil kendali pemerintahan mereka,” ujarnya.

Beberapa jam kemudian, Islamic Revolutionary Guard Corps mengumumkan serangan balasan ke aset militer AS di kawasan Teluk. Mengutip Press TV, IRGC menyatakan telah menghancurkan sistem radar canggih tipe FP132 milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Qatar. Radar tersebut diklaim memiliki jangkauan hingga 5.000 kilometer dan dirancang untuk mendeteksi serta menangkal rudal balistik. Hingga kini belum ada konfirmasi independen dari pihak AS terkait klaim tersebut.

Taruhan Besar, Risiko Tinggi

Artikel opini berjudul “Trump’s Enormous Gamble on Regime Change in Iran” yang ditulis Tom Nichols pada 28 Februari 2026 memperkuat penilaian tersebut. Nichols menegaskan perang ini bukan operasi defensif biasa, melainkan upaya perubahan rezim dengan risiko strategis besar.

“This is not a preemptive war. It is a war for regime change,” tulis Nichols. Ia menilai, meski sebagian warga Iran mungkin mendambakan perubahan politik, hasil akhirnya sulit diprediksi.

Analisis tersebut memaparkan dua kemungkinan besar. Pertama, tekanan militer melemahkan struktur kekuasaan dan membuka ruang transisi. Kedua, pemerintahan Iran justru mengonsolidasikan dukungan domestik melalui narasi perlawanan terhadap intervensi asing. Opsi kedua dinilai lebih mungkin dalam jangka pendek.

Trump juga menawarkan kekebalan hukum bagi anggota militer Iran yang memilih meletakkan senjata. Alternatif yang disampaikan dalam pidatonya adalah “kematian yang pasti.” Namun belum ada penjelasan rinci mengenai mekanisme politik pasca-konflik atau figur yang akan memimpin jika pemerintahan runtuh.

Eskalasi dan Dampak Regional

Ledakan dilaporkan terjadi di Teheran dan sejumlah kota lain, termasuk area dekat kompleks Pemimpin Tertinggi Sayyid Ali Khamenei. Di sisi lain, Iran memiliki opsi balasan melalui rudal balistik, drone, serta manuver di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan operasi bersama bertujuan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran menentukan masa depan politik mereka. Washington menyebut langkah ini sebagai operasi pencegahan, sementara sejumlah analis di dalam negeri AS menyoroti absennya persetujuan Kongres.

The Atlantic mencatat, selama kampanye politiknya Trump berjanji menghindari “perang abadi” di Timur Tengah. Kini, Amerika kembali berada di garis depan konflik regional dengan ambisi menggulingkan pemerintahan yang berkuasa sejak 1979.

Majalah tersebut menyimpulkan, Trump memulai perang dengan kalkulasi politik dan militer yang sembrono. Namun durasi konflik, arah eskalasi, serta dampak geopolitik jangka panjang berada di luar kendali penuh Washington. Respons Iran dan dinamika internalnya akan menjadi faktor penentu.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *