WSJ: Pertahanan AS Tertekan Hadapi Gelombang Drone dan Rudal Iran
POROS PERLAWANAN – Analisis The Wall Street Journal menyebut gelombang serangan drone dan rudal Iran menekan kemampuan Amerika Serikat dalam mencapai sasaran militer sekaligus melindungi sekutu serta asetnya di Asia Barat.
Laporan yang terbit pada Selasa 3 Maret itu menilai sumber daya militer dan diplomatik Washington berada di bawah tekanan, meningkat seiring serangan berturut-turut yang menargetkan Israel dan fasilitas Amerika di Kawasan.
Sehari sebelumnya, pejabat United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi enam personel Militer tewas akibat serangan drone terhadap sebuah fasilitas di Kuwait. Pada hari yang sama, tiga jet tempur F-15 dilaporkan jatuh di wilayah udara Kuwait dalam insiden terpisah. Penyebab jatuhnya pesawat belum dirinci secara terbuka.
Serangan lanjutan juga dilaporkan menyasar posisi Amerika di Irak, Arab Saudi, dan Bahrain. Kedutaan Besar AS di Riyadh mengalami kerusakan akibat serangan drone pada Selasa pagi, menurut laporan tersebut.
Tekanan Logistik dan Pertahanan Udara
Analisis WSJ menyoroti tantangan utama pasukan Amerika: menangkal serangan dalam cakupan geografis luas sambil menyelaraskan sistem pertahanan udara dengan negara mitra. Selain melindungi puluhan ribu personel, Washington harus mengamankan kedutaan dan fasilitas Pemerintah yang tersebar di kKawasan.
WSJ mengutip mantan Asisten Sekretaris Angkatan Udara untuk instalasi, Ravi Chaudhary, yang menilai kombinasi rudal balistik Iran, drone Shahed bermuatan bahan peledak, dan kemampuan perang elektronik menimbulkan risiko serius bagi pangkalan Amerika.
“Instalasi-instalasi ini menghadapi tingkat ancaman yang belum pernah terjadi dalam konflik ini,” ujar Chaudhary, seraya menilai Iran menunjukkan kapasitas serta niat untuk menargetkan infrastruktur vital dan membatasi proyeksi kekuatan udara AS.
Laporan tersebut juga menyebut dampak terhadap jalur energi global. Aktivitas militer dinilai menghambat lalu lintas maritim di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting distribusi minyak dunia.
Risiko Penipisan Interceptor
WSJ menekankan tentang skala persediaan senjata Iran, khususnya kemampuan memproduksi drone berbiaya rendah dalam jumlah besar. Strategi tersebut dinilai berpotensi menguras stok rudal pencegat sistem pertahanan udara AS seperti MIM-104 Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang berbiaya mahal.
