Hizbullah Serang Fasilitas Militer Israel, Targetkan Pangkalan Haifa dan Industri Rafael
POROS PERLAWANAN — Hizbullah Lebanon melaporkan rangkaian operasi militer terhadap posisi Israel sejak Kamis pagi 5 Maret. Serangan mencakup penggunaan rudal, drone, serta pertempuran darat di sejumlah titik di Wilayah utara Palestina yang Diduduki dan perbatasan Lebanon.
Laporan Kantor Berita Tasnim pada Jumat 6 Maret menyebutkan bahwa Kelompok Perlawanan Islam di Lebanon tersebut merilis sejumlah pernyataan resmi mengenai operasi yang berlangsung sepanjang hari. Target yang disebutkan meliputi pangkalan pertahanan udara Israel di kota Haifa serta pangkalan udara Palmachim di selatan Tel Aviv.
Di front selatan Lebanon, Hizbullah menyatakan telah menyerang konsentrasi pasukan Israel di pinggiran kota Masyarid Al-Khayyam, wilayah Marjayoun. Serangan dilakukan dalam dua gelombang rudal. Pada saat yang sama, pejuang Hizbullah dilaporkan terlibat pertempuran langsung dengan pasukan Israel yang berupaya maju menuju kota Adh-Dhuhairah.
Operasi lain menargetkan fasilitas industri militer yang berkaitan dengan perusahaan pertahanan Israel Rafael di selatan kota Akka, Wilayah utara Palestina yang Diduduki. Serangan dilancarkan menggunakan sejumlah unit drone.
Dalam pernyataan terpisah, Hizbullah juga mengumumkan serangan drone terhadap pangkalan militer Ein Zeitim di utara kota Safed. Pangkalan tersebut disebut sebagai markas satu brigade Militer Israel.
Pertempuran darat juga dilaporkan terjadi di kota Khayyam. Hizbullah menyebut pasukan Israel mundur bersama perlengkapan militer menuju wilayah Al-Hammash setelah terjadi pertempuran sengit.
Secara keseluruhan, Hizbullah melaporkan telah menjalankan 23 operasi militer dalam satu hari terhadap posisi dan pergerakan tentara Israel. Operasi mencakup serangan terhadap pangkalan militer serta titik penempatan pasukan di Wilayah utara hingga pedalaman Palestina yang Diduduki.
Dalam pernyataan resmi, Hizbullah menyebut operasi tersebut sebagai respons atas apa yang disebut sebagai “agresi kriminal Israel” terhadap berbagai wilayah di Lebanon, termasuk Dahiyah Selatan di Beirut.
Kelompok Perlawanan tersebut juga menegaskan komitmen untuk mempertahankan wilayah Lebanon. Operasi militer disebut sebagai “tindakan minimal yang diperlukan” untuk menekan Israel serta mencegah ancaman yang dinilai berbahaya bagi Lebanon sebagai negara dan bangsa.
