IRGC Tegaskan Siap Pertahankan Selat Hormuz, Targetkan Basis Militer AS di Kawasan
POROS PERLAWANAN — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kesiapan penuh untuk mempertahankan perbatasan maritim Iran serta menghadapi setiap pergerakan militer di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Menurut Press TV, pernyataan itu disampaikan dalam rilis resmi pada Kamis 19 Maret, bersamaan dengan pengumuman operasi terbaru yang disebut sebagai gelombang serangan ke-63 dalam rangkaian konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
IRGC melaporkan serangan terhadap sejumlah fasilitas Militer AS di Kawasan, termasuk pangkalan al-Dhafra dan Minhad di Uni Emirat Arab, al-Adairi di Kuwait, serta Mina Salman di Bahrain.
Dalam operasi gabungan, rudal dan drone dilaporkan menghantam fasilitas militer di pangkalan Minhad, termasuk bangunan komando, tangki bahan bakar, serta peralatan pendukung. Sistem radar peringatan dini dan landasan di al-Adairi juga disebut menjadi sasaran.
IRGC menyatakan serangan balasan turut menargetkan tangki bahan bakar di al-Dhafra serta radar dan fasilitas militer yang terkait dengan armada kelima Angkatan Laut AS di Mina Salman.
“Angkatan Laut IRGC siap mempertahankan perbatasan maritim Republik Islam dan akan menghadapi secara tegas setiap potensi ancaman di Teluk Persia dan Selat Hormuz,” demikian pernyataan resmi tersebut.
Ketegangan meningkat sejak agresi militer AS-Israel pada 28 Februari yang memicu eskalasi konflik di Kawasan. Serangkaian serangan dilaporkan menargetkan infrastruktur dan fasilitas strategis.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat tak berawak yang menyasar wilayah Israel serta aset militer AS di sejumlah negara regional.
IRGC juga menyatakan telah memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas kapal tanker yang berafiliasi dengan pihak yang terlibat konflik di Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Oman.
Dalam perkembangan terpisah, IRGC melaporkan sebuah kapal tanker berkapasitas sekitar 160.000 ton yang diduga berbendera Barbados mundur dari Selat Hormuz setelah mencoba melintasi jalur tersebut.
“Selat ini berada dalam kedaulatan Iran. Jalur pelayaran diatur sesuai ketentuan yang berlaku,” kata IRGC. Kapal tersebut disebut mundur setelah mempertimbangkan risiko konfrontasi.
IRGC menilai insiden itu mencerminkan kemampuan pencegahan aktif Iran serta perubahan dinamika kekuatan di Kawasan, dengan kontrol operasional berada di tangan Teheran.
Situasi di Selat Hormuz terus menjadi perhatian global mengingat perannya sebagai jalur utama distribusi energi dunia di tengah meningkatnya ketegangan militer.
