Menlu Oman di The Economist: Sekutu Washington Harus Bantu AS Keluar dari Perang Ilegal
POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi menyerukan sekutu Amerika Serikat mengambil peran lebih aktif untuk membantu mengakhiri keterlibatan Washington dalam konflik dengan Iran yang tidak sejalan dengan kepentingan strategis jangka panjangnya.
Dalam artikel opini di The Economist bertajuk “America’s friends must help extricate it from an unlawful war”, pada Rabu 18 Maret, Al-Busaidi menilai situasi saat ini sebagai hasil kegagalan diplomasi pada momen krusial. Dalam sembilan bulan terakhir, Washington dan Teheran sempat dua kali mendekati kesepakatan terkait isu utama, termasuk program nuklir Iran.
Momentum tersebut runtuh pada 28 Februari, ketika operasi militer diluncurkan AS-Israel hanya beberapa jam setelah putaran pembicaraan penting. Langkah itu menutup peluang diplomatik yang sempat terbuka.
Al-Busaidi menilai respons Iran terhadap target Amerika di Kawasan sebagai konsekuensi dari eskalasi tersebut, sekaligus menyoroti implikasi yang lebih luas terhadap stabilitas regional. Negara-negara Teluk yang selama ini mengandalkan arsitektur keamanan berbasis kemitraan dengan Washington kini menghadapi ketidakpastian yang meningkat.
Gangguan di Selat Hormuz memperburuk situasi. Jalur energi global itu menjadi titik rawan yang memicu volatilitas harga dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi internasional.
Dalam pandangannya, keterlibatan Amerika dalam konflik ini mencerminkan kesalahan strategis mendasar. Tidak ada hasil realistis yang memberikan keuntungan jelas bagi Washington, sementara biaya politik, militer, dan ekonomi terus meningkat.
“Kepentingan nasional Iran dan Amerika Serikat sama-sama terletak pada pengakhiran permusuhan sesegera mungkin”, tulisnya.
Ia juga memperingatkan potensi eskalasi lebih lanjut yang dapat mendorong keterlibatan militer lebih dalam, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat. Skenario tersebut berisiko memperpanjang konflik tanpa kejelasan tujuan akhir.
Dalam konteks ini, Al-Busaidi menempatkan tanggung jawab pada sekutu Amerika untuk menyampaikan penilaian strategis secara jujur. Pengakuan bahwa konflik tidak memberikan keuntungan bagi pihak mana pun menjadi langkah awal untuk membuka ruang deeskalasi.
Ia mengusulkan pendekatan diplomatik yang mengaitkan kembali negosiasi bilateral antara Washington dan Teheran dengan kerangka regional yang lebih luas, mencakup transparansi program nuklir serta kerja sama dalam transisi energi.
Oman, bersama negara-negara Teluk lainnya, dipandang memiliki posisi untuk memfasilitasi proses tersebut melalui langkah-langkah pembangunan kepercayaan secara bertahap.
Meski hambatan politik dan psikologis di kedua pihak tetap signifikan, jalur diplomasi dinilai sebagai satu-satunya mekanisme yang kredibel untuk mengakhiri konflik.
Di tengah meningkatnya risiko terhadap stabilitas Kawasan dan ekonomi global, seruan tersebut menegaskan urgensi mengembalikan konflik ke jalur diplomatik sebelum eskalasi melampaui kendali.
