Menlu Iran: Perang Picu ‘Pajak Israel Pertama’ Triliunan Dolar bagi Warga AS
POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi menyatakan warga Amerika Serikat akan menanggung beban ekonomi besar dari konflik dengan Iran, yang ia sebut sebagai “Pajak Israel Pertama” bernilai triliunan Dolar.
Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di platform X pada Kamis 19 Maret, menyusul laporan The Washington Post soal permintaan tambahan anggaran militer AS.
Laporan tersebut menyebut Departemen Pertahanan AS mengajukan anggaran lebih dari 200 miliar Dolar AS untuk mendukung operasi militer serta mengisi kembali persenjataan yang menipis.
Araghchi menilai angka tersebut belum mencerminkan keseluruhan biaya. “Kita baru tiga minggu menjalani perang ini, yang berdampak pada warga Iran dan Amerika,” ujarnya.
“Angka 200 miliar Dolar ini hanya sebagian kecil. Warga Amerika akan menghadapi ‘Pajak Israel Pertama’ bernilai triliunan Dolar yang menekan perekonomian,” lanjutnya.
The Washington Post melaporkan tambahan anggaran difokuskan pada peningkatan produksi senjata dan penggantian stok yang terkuras. Pengadaan mencakup rudal Tomahawk, sistem pertahanan Patriot, serta pencegat THAAD.
Estimasi awal menunjukkan biaya perang dalam enam hari pertama mencapai sekitar 11,3 miliar Dolar AS. Penggunaan amunisi dalam dua hari awal dilaporkan menembus 5,6 miliar Dolar AS.
Konflik meningkat sejak agresi militer AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari. Serangan awal menargetkan pejabat serta Komandan Militer Iran.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat tak berawak yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Kawasan.
Situasi terus berkembang dengan potensi tekanan lanjutan terhadap anggaran Militer AS serta stabilitas ekonomi global, seiring meningkatnya intensitas konflik.
