China Kecam Pembunuhan Pejabat Iran dan Serangan terhadap Sasaran Sipil
POROS PERLAWANAN — Pemerintah China mengecam pembunuhan pejabat Iran serta serangan terhadap sasaran sipil dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian menegaskan tindakan tersebut tidak dapat diterima dalam hubungan internasional. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers harian pada Kamis.
“Pembunuhan para pemimpin Iran dan serangan terhadap sasaran sipil sama sekali tidak dapat diterima,” kata Lin, seperti dilaporkan Press TV pada 19 Maret. China, lanjutnya, konsisten menolak penggunaan kekerasan dalam hubungan antarnegara.
Lin juga menanggapi pernyataan Israel yang disebut memberi izin kepada pasukan untuk menargetkan pejabat Iran tanpa persetujuan khusus. “China terkejut dengan pernyataan tersebut,” ujarnya.
Lin menyoroti meningkatnya ketegangan Kawasan yang terus meluas. Komunitas internasional, menurutnya, mendorong gencatan senjata segera serta penghentian permusuhan.
“Pihak-pihak terkait perlu segera menghentikan operasi militer dan mencegah situasi lepas dari kendali,” ucapnya.
Pernyataan Beijing muncul setelah laporan pembunuhan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani, Menteri Intelijen Esmaeil Khatib, serta Kepala Organisasi Basij Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani Farsani.
Larijani dikenal sebagai tokoh senior dalam struktur politik Iran. Ia pernah menjabat Ketua Parlemen selama lebih dari satu dekade serta menjadi Penasihat bagi Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Konflik meningkat sejak dimulainya operasi militer baru oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Serangkaian serangan menargetkan infrastruktur dan kawasan sipil.
Laporan menyebut korban sipil melampaui 1.300 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, dan permukiman turut terdampak.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat tak berawak ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Kawasan.
Situasi di Timur Tengah terus berkembang dengan risiko eskalasi yang kian luas, sementara tekanan internasional untuk deeskalasi semakin menguat.
