600 Pusat Pendidikan di Iran Jadi Sasaran Serangan Agresi AS-Israel, Bulan Sabit Merah Sebut Kejahatan Perang
POROS PERLAWANAN — Bulan Sabit Merah Iran menyatakan sekitar 600 pusat pendidikan telah menjadi sasaran serangan selama agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran sejak akhir Februari.
Mengutip Press TV, pernyataan itu disampaikan Wakil Bulan Sabit Merah Iran untuk Urusan Internasional dan Hukum Humaniter, Razieh Alishvandi, pada Minggu 29 Maret. Dia menegaskan serangan terhadap institusi pendidikan merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Menurut Alishvandi, fasilitas yang menjadi target mencakup sekolah, universitas, serta berbagai lembaga pendidikan dan akademik lainnya.
Serangan tersebut, kata dia, telah membahayakan keselamatan pelajar, mahasiswa, peneliti, dan dosen, serta menimbulkan korban jiwa di kalangan sipil akademik.
“Pengabaian terhadap perlindungan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.”
Alishvandi menekankan lembaga pendidikan memiliki perlindungan jelas dalam hukum internasional, termasuk dalam situasi konflik bersenjata.
Dia juga menyebut serangan-serangan tersebut melanggar prinsip dasar hukum perang, terutama sekaitan dengan pembedaan sasaran, proporsionalitas, dan kehati-hatian.
“Berdasarkan prinsip dan aturan internasional, pusat-pusat ini harus dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa, dan prinsip proporsionalitas, kehati-hatian, dan pembedaan harus diperhatikan.”
Dalam upaya hukum internasional, Bulan Sabit Merah Iran mengaku telah mengirimkan lebih dari 23 surat kepada jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Surat-surat itu berisi dokumentasi dugaan pelanggaran hukum humaniter sepanjang agresi yang sedang berlangsung.
Dokumen tersebut, menurut Alishvandi, mencakup serangan terhadap rumah warga, kantor media, bandara, pesawat penumpang, pusat medis, dan fasilitas pendidikan.
Selain itu, lembaganya juga telah mengirim surat terpisah kepada Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC) untuk melaporkan apa yang mereka sebut sebagai sifat kriminal dari serangan tersebut.
Agresi Militer AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026 dan sejak itu memicu eskalasi konflik di berbagai wilayah, termasuk serangan balasan Iran ke target militer Amerika Serikat dan Israel di Kawasan.
