Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Baghaei: Tak Ada Lagi yang Bisa Percaya Diplomasi AS

POROS PERLAWANAN — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menegaskan tidak ada lagi alasan untuk memercayai diplomasi Amerika Serikat, setelah Washington dinilai menggunakan jalur perundingan sebagai kedok untuk menekan Teheran dan mendukung agresi militer terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan harian berbahasa Arab Al-Masry Al-Youm yang terbit pada Rabu 1 April, Baghaei menyebut Amerika Serikat terseret ke dalam perang melawan Iran akibat kesalahan perhitungan dan hasutan Israel.

“Tidak ada yang bisa memercayai diplomasi AS lagi. Mereka memanfaatkan diplomasi dan negosiasi sebagai dalih untuk memaksakan keinginan mereka sendiri dan memberikan tekanan,” kata Baghaei.

Baghaei menegaskan konflik tersebut bukan perang yang dipilih Iran, melainkan perang yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, kepentingan utama Teheran saat ini adalah memastikan agresi serupa tidak kembali terulang.

“Ini bukan perang pilihan Teheran, melainkan perang yang dipaksakan oleh AS dan Israel. Yang penting bagi kami adalah jaminan agar perang semacam ini tidak terulang lagi, dan agar kami tidak terjebak dalam lingkaran setan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, bahwa pada saat serangan militer besar dimulai, Iran tengah menjalani negosiasi tidak langsung dengan Washington melalui mediasi Oman. Baghaei menilai momen itu menjadi bukti kedua dalam kurun sembilan bulan ketika jalur diplomasi kembali digagalkan.

Menurut Baghaei, Washington telah mengkhianati diplomasi dan memilih jalur perang.

“Kami tidak memulai perang. AS dan Israel yang memulainya, dan perang itu telah merenggut nyawa warga tak bersalah. Mereka mengacaukan seluruh Kawasan dari Teluk Persia hingga Laut Oman, dengan menggunakan wilayah negara-negara Muslim untuk menyerang negara Muslim lain pada bulan suci Ramadan. Ini sangat keji dan berbahaya. Ini adalah konspirasi untuk menabur perpecahan di dunia Muslim,” tegasnya.

Baghaei juga menyerukan negara-negara Muslim di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menegaskan Iran tidak memiliki permusuhan terhadap negara-negara tetangga di kawasan tersebut.

Dalam keterangannya, Baghaei menyoroti perubahan sikap publik di Iran terhadap Amerika Serikat. Menurutnya, opini publik Iran kini semakin menolak segala bentuk kontak atau pembicaraan dengan Washington, terutama setelah pengalaman negosiasi yang berujung eskalasi militer.

Di bagian lain wawancara, Baghaei menyebut Amerika Serikat melakukan kejahatan perang, termasuk serangan terhadap sekolah dasar di Minab, Iran selatan. Ia juga menyebut rumah sakit dan fasilitas pendidikan lain ikut menjadi sasaran sejak serangan terhadap Iran dimulai lebih dari sebulan lalu.

“Apa yang sedang terjadi bukan sekadar perang konvensional terhadap satu negara. Ini adalah perang yang memengaruhi masa depan seluruh Kawasan dan negara-negara di dalamnya. Akan menjadi kesalahan besar jika ini hanya dipandang sebagai konfrontasi antara Iran di satu sisi, dan AS serta Israel di sisi lain,” kata Baghaei.

Baghaei juga menyatakan Pemimpin Revolusi Islam yang baru, Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei, berada dalam kondisi aman dan sehat. Menurutnya, ketidakhadiran tokoh tersebut dalam acara publik semata dipengaruhi situasi perang yang masih berlangsung.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *