Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Komandan Angkatan Darat Iran Minta Keluarga Pasukan AS Cek Kondisi Kerabat di Tengah ‘Sensor Data Kematian Korban Perang’

POROS PERLAWANAN — Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi meminta keluarga personel Militer Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan Asia Barat untuk menghubungi kerabat mereka, di tengah tuduhan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menutup-nutupi jumlah korban di pihak Militer AS.

Dalam unggahan di platform X pada Rabu 1 April, Jahanshahi menyebut CENTCOM telah melakukan sensor besar-besaran terhadap jumlah tentara Amerika yang tewas.

“Kami menyarankan agar, dalam 24 jam ke depan, keluarga personel Militer AS yang telah ditempatkan di Asia Barat menghubungi anak-anak mereka”, tulis Jahanshahi.

Ia kemudian menambahkan: “Kita lihat saja apa yang akan terjadi”.

Pernyataan itu disampaikan beberapa hari setelah Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya merilis laporan lebih dari 500 tentara Amerika menjadi sasaran dalam operasi militer yang diumumkan pada Sabtu, yang menurut Iran menimbulkan “kerugian sangat besar”.

Juru Bicara Markas tersebut, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari mengatakan pasukan Amerika disebut telah meninggalkan sejumlah pangkalan regional mereka akibat “serangan dahsyat”, lalu berlindung di dua lokasi di luar basis konvensional.

Menurut pernyataan pihak Iran, lokasi pertama berada di Dubai dan menampung lebih dari 400 personel, sedangkan lokasi kedua disebut menampung lebih dari 100 personel lainnya.

Iran menyebut kedua titik tersebut kemudian menjadi sasaran rudal presisi dan drone yang diluncurkan oleh unsur Angkatan Udara dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Zolfaghari menyebut serangan itu menyebabkan kerugian besar di pihak Amerika Serikat, dan ambulans terlihat mengevakuasi tentara AS, termasuk komandan militer, selama berjam-jam.

Dalam pernyataan yang sama, pihak Iran juga memperingatkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan jajaran komando Militer AS, dengan menyebut Kawasan dapat berubah menjadi “kuburan bagi tentara Amerika” jika konflik terus berlanjut.

Sehari sebelumnya, IRGC juga mengumumkan penargetan terhadap enam kapal taktis yang dioperasikan Militer Amerika Serikat di perairan Teluk Persia, yang menurut klaim Iran menyebabkan “sejumlah besar” korban di pihak AS.

Namun, angka resmi yang disampaikan Amerika Serikat sejauh ini menyebut 13 tentara AS tewas sejak dimulainya agresi militer AS–Israel terhadap Iran.

Hingga kini, belum ada verifikasi independen atas klaim korban dan skala kerusakan yang disampaikan pihak Iran. Namun, pernyataan-pernyataan terbaru dari Teheran memperlihatkan satu pola yang makin jelas: konflik ini tidak hanya bergerak di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi, persepsi, dan tekanan psikologis terhadap lawan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *